Wisata Aik Item Viral, Sewa Ban dan UMKM Warga Desa Rias Panen Rezeki
Asmadi Pandapotan Siregar July 04, 2026 04:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA –- Tawa riang anak-anak yang bermain air di Pemandian Aik Item, Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, kini tak hanya menjadi hiburan semata bagi pengunjung. Di balik ramainya wisata dadakan tersebut, tersimpan harapan baru yang perlahan tumbuh di wajah-wajah warga sekitar.

Bagi sebagian orang, pemandian air hitam itu sekadar tempat melepas penat. Namun bagi warga setempat, setiap pengunjung yang datang berarti peluang untuk menyambung hidup dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Di tepi saluran irigasi, deretan ban hitam tersusun rapi menunggu disewa. Sesekali terdengar suara anak-anak memanggil orang tua mereka untuk menyewa pelampung berbentuk bebek atau ban besar yang digunakan bermain di aliran air.

Di sebuah gubuk sederhana yang terbuat dari batang-batang kayu dengan atap plastik berwarna hitam, Suratno (51) duduk sembari menggenggam pompa angin manual. Kedua tangannya bergerak naik turun mengisi udara ke dalam ban dan pelampung berbentuk bebek yang akan kembali disewakan kepada pengunjung. Sesekali pria berkaos polo cokelat dan bertopi krem itu bangkit dari duduknya, lalu berjalan tergopoh-gopoh menghampiri ban-ban yang baru saja dikembalikan penyewa.

Dengan langkah yang masih dipengaruhi sisa stroke yang dideritanya, ia menyusun satu per satu ban tersebut agar kembali rapi dan siap digunakan oleh pengunjung berikutnya. Dengan langkah yang masih terbatas, Suratno tetap datang setiap pagi. Aktivitas itu terus berulang sepanjang hari, dari pagi hingga matahari mulai condong ke barat.

“Karena ada peluang usaha di pemandian irigasi ini, jadi saya menyewakan ban,” tutur Suratno kepada Bangkapos.com, Sabtu (4/7/2026).

Stroke yang menyerangnya beberapa waktu lalu masih menyisakan kebas pada tubuhnya. Berjalan pun belum sepenuhnya mudah. Karena itu, hampir seluruh aktivitas di lapak sederhana tersebut dilakukan bersama sang istri dan anak yang setia membantu melayani para penyewa. Di balik keterbatasan fisiknya, Suratno memilih tetap bekerja daripada menyerah pada keadaan.

Pria kelahiran 1971 ini bercerita, usaha penyewaan ban itu baru dirintis sekitar dua pekan terakhir. Melihat ribuan orang memadati pemandian irigasi air hitam setiap akhir pekan, ia memberanikan diri meminjam modal Rp3,5 juta dari tetangga untuk membeli ban dan pelampung. Keputusan itu menjadi titik balik bagi keluarganya.

Setiap ban yang disewa pengunjung kini bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga harapan untuk terus menjalani pengobatan. Perlahan, hasilnya mulai terasa. Dalam sehari, pendapatan yang diperoleh bisa berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp700 ribu, bahkan lebih saat akhir pekan dan musim libur sekolah. Tak butuh waktu lama, modal yang dipinjam pun sudah kembali.

Bagi Suratno, angka-angka itu bukan sekadar keuntungan usaha. Setiap lembar rupiah yang diterima memiliki tujuan yang jauh lebih berarti. Hasil usaha tersebut langsung dialokasikan untuk biaya terapi dan membeli obat yang harus rutin dikonsumsi agar proses pemulihannya terus berjalan.

Suratno (51) pemilik usaha sewa ban di pemandian Aik Item atau Air Hitam Irigasi Desa Rias.
Suratno (51) pemilik usaha sewa ban di pemandian Aik Item atau Air Hitam Irigasi Desa Rias. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto/Cepi Marlianto)

“Pendapatan ini saya gunakan untuk berobat, untuk terapi dan menebus obat. Alhamdulillah, sekarang sangat terbantu,” ucap Suratno.

Sebelum wisata ini ramai, Suratno hanya mengandalkan hasil menanam sayuran. Penghasilannya tak menentu dan sering kali belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pengobatan. Kini, ramainya pengunjung membawa harapan baru bagi keluarganya untuk terus menjalani terapi dan proses pemulihan.

“Alhamdulillah sekarang ekonomi keluarga sangat terbantu,” kata warga Desa Rias ini.

Tak jauh dari lokasi penyewaan ban, Ernawati perlahan mendorong gerobak berwarna merah menuju jalan keluar. Gerobak yang beberapa jam sebelumnya penuh dengan aneka jajanan tradisional kini tampak nyaris kosong. Yang tersisa hanya termos es, beberapa wadah makanan yang sudah kosong, serta peralatan sederhana yang menjadi saksi larisnya dagangan hari itu.

Sesekali ia melempar senyum kepada pengunjung yang masih berlalu-lalang. Sebelum kembali melangkah pulang dengan gerobak yang terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat berangkat pagi tadi.

“Alhamdulilah habis,” katanya.

Beberapa jam sebelumnya, gerobak itu dipenuhi serabi durian, bubur ketan hijau, es bubur, pempek, dan beragam jajanan kampung lainnya. Dengan harga yang ramah di kantong, mulai Rp1.000 hingga Rp5.000, dagangannya menjadi pilihan banyak pengunjung yang ingin mengisi perut setelah puas bermain air. Tak heran jika menjelang siang hingga sore, etalase gerobaknya perlahan kosong satu per satu.

“Alhamdulillah, semenjak ada air viral ini kami sangat terbantu,” ucapnya.

Sebelum kawasan Pemandian Aik Item ramai dikunjungi wisatawan, warga Dusun SP B Desa Ria ini hanya mengandalkan sepeda motor untuk berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya menjajakan dagangannya. Setiap hari ia harus berpindah-pindah tempat agar jajanan yang dibawanya habis terjual. Kini, rutinitas itu berubah. Ia cukup mendorong gerobak menuju kawasan wisata dan menunggu pembeli datang silih berganti.

Menurut Ernawati, berjualan menetap di kawasan wisata justru memberikan waktu yang lebih panjang untuk melayani pelanggan. Jika dahulu dagangannya biasanya habis dalam waktu sekitar tiga jam saat berkeliling, kini ia bisa berjualan hingga lima jam mengikuti ramainya pengunjung yang datang sejak pagi hingga sore. Pendapatan hariannya pun ikut meningkat, bahkan bisa mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu, tergantung banyaknya jajanan yang disiapkan.

“Kalau dulu keliling pakai motor. Sekarang cukup jualan di sini. Alhamdulillah ada kenaikan pendapatan, lumayan sekali,” ujar Ernawati.

Bagi Ernawati, keramaian wisata ini bukan hanya membawa keuntungan bagi dirinya, tetapi juga menghidupkan ekonomi warga sekitar. Semakin banyak lapak UMKM bermunculan, semakin banyak pula tetangga yang ikut merasakan berkah dari ramainya pengunjung. Ia berharap suasana seperti ini dapat terus bertahan sehingga Desa Rias tidak hanya dikenal karena pemandian air hitamnya, tetapi juga karena mampu menghadirkan peluang usaha bagi masyarakatnya.

“Alhamdulillah, bersyukur sekali. Desa kami ramai. Kami sangat senang,” ucap Ernawati dengan wajah sumringah sambil kembali menggenggam gagang gerobaknya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.