Warga Banyumas Olah Limbah Daun Jadi Produk yang Tembus Pasar Eropa
khoirul muzaki July 04, 2026 04:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO -  Siapa sangka daun-daun yang selama ini berserakan di bawah pohon dan dianggap sebagai sampah ternyata bisa disulap menjadi produk fesyen bernilai jutaan rupiah. 


Di tangan Eli Suryaningsih, desainer Kingleaf International asal Banyumas mengatakan limbah alam tersebut berubah menjadi tas, rompi, hingga aksesori yang telah dipasarkan ke luar negeri.


Bahkan, salah satu produk tas buatannya pernah dibeli Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, dengan harga mencapai Rp5 juta. 


Sementara produk termahal yang pernah dibuat adalah rompi berbahan daun ketapang dan daun tapak kuda yang dibanderol sekitar Rp14 juta.


Eli mengatakan, Kingleaf International memproduksi beragam kerajinan berbahan dasar daun, mulai dari dompet, lanyard, sandal hotel, songkok, topi, tas hingga blangkon.


Untuk pasar lokal, dompet dijual sekitar Rp75 ribu, sedangkan tas dipasarkan mulai Rp3,5 juta hingga Rp5 juta.


Menurutnya, keikutsertaan dalam berbagai pameran, termasuk yang difasilitasi Bank Indonesia melalui Karya Kreatif Serayu dan Banyumas Digifest, sangat membantu memperluas pasar produk UMKM lokal. 


Melalui kegiatan tersebut, produknya dapat dikenal masyarakat lebih luas sekaligus membuka peluang menjangkau pasar internasional.


"Kalau event di tingkat regional maupun nasional sangat membantu. 


Kami jadi memiliki etalase untuk memperkenalkan produk. Terus terang saya sendiri belum terlalu menguasai pemasaran digital, sehingga pameran seperti ini sangat penting bagi kami," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (4/7/2026). 

Baca juga: Warga Jepara Girang Borong Telur Mumpung Harganya Anjlok


Eli mengungkapkan, berkat berbagai pameran tersebut, sampel produknya telah dikirim ke Milan dan Hawaii. 


Selain itu, produknya juga sudah dipasarkan ke Belanda dan Timor-Leste. 


Meski belum melalui skema ekspor resmi, produk Kingleaf International telah diterima oleh konsumen di luar negeri.


Ia menjelaskan, bahan baku yang digunakan berasal dari berbagai jenis daun, seperti daun ketapang, daun tapak kuda, daun karet kebo, daun kopi, hingga daun kakao.


Khusus daun kopi dan kakao, Eli ingin memperkenalkan bahwa bagian tanaman yang selama ini dianggap limbah ternyata memiliki nilai ekonomi apabila diolah dengan tepat.


"Selama ini orang hanya mengenal kopi dan kakao dari buahnya. Padahal daunnya juga bisa dimanfaatkan menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai jual," katanya.


Menurut Eli, proses pembuatan produk tidak sederhana. 


Daun yang digunakan merupakan daun tua, baik yang masih berada di pohon maupun yang telah gugur selama kualitasnya masih baik. 


Daun tersebut dicuci, direndam menggunakan cairan khusus, kemudian dioven sebelum dijahit menjadi berbagai produk. 


Setelah dijahit, produk kembali menjalani proses treatment dan dioven lagi sebelum dipasarkan.


Menariknya, cairan penguat yang digunakan dalam proses produksi merupakan hasil formulasi yang dikembangkan sendiri oleh Kingleaf International.


"Dulu kami hanya membuat box dari daun. Kemudian muncul ide, kenapa tidak dibuat menjadi tas, pakaian, atau produk fesyen lainnya. Dari situ kami terus melakukan inovasi," ujar Eli.


Ia mengakui perjalanan mengembangkan produk tersebut tidak mudah. 


Berbagai kegagalan dialami saat mencari formula terbaik agar daun menjadi lentur, kuat, dan tahan lama.


Hingga kini, Kingleaf International masih terus melakukan penelitian terhadap berbagai jenis daun baru. 


Setiap menemukan jenis daun yang berpotensi, tim akan melakukan serangkaian uji coba sebelum digunakan sebagai bahan baku produksi.


Salah satu keunggulan produk tersebut adalah daya tahannya. 


Eli menyebut tas yang dibeli Raffi Ahmad hingga kini masih dalam kondisi baik meski telah digunakan sekitar lima tahun.


Ia menjelaskan, daun yang awalnya berwarna hijau akan mengalami perubahan warna secara alami dalam waktu sekitar tiga hingga enam bulan setelah proses produksi. 


Seiring waktu, akan muncul motif alami pada permukaan daun. 


Setelah usia produk semakin lama, warnanya berubah menjadi cokelat polos tanpa corak. 


Menurutnya, perubahan tersebut merupakan proses alami, bukan tanda kerusakan.


Produk berbahan daun itu juga tidak mudah rusak apabila terkena air. 


Bahkan menurut Eli, material daun justru menjadi lebih lentur ketika basah.


Dalam menjalankan usahanya, Kingleaf International memberdayakan sekitar 20 hingga 30 tenaga kerja yang sebagian besar merupakan santri dari komunitas santri lokal di Susukan, Kecamatan Sumbang, Banyumas. 


Mereka terdiri atas laki-laki maupun perempuan dengan sistem santri kalong yang pulang ke rumah setelah beraktivitas.


Saat ini omzet kotor usaha tersebut masih berada di bawah Rp50 juta per bulan. 


Khusus untuk produk sandal hotel, kapasitas produksinya mencapai sekitar 200 hingga 500 pasang setiap bulan.


Meski produknya telah dipasarkan hingga Belanda dan Timor-Leste, Eli mengaku sandal hotel buatannya justru belum digunakan oleh hotel-hotel di Purwokerto. 


Saat ini ia masih fokus membuka pasar yang lebih luas sembari berharap produk ramah lingkungan asal Banyumas tersebut semakin dikenal, baik di dalam maupun luar negeri. (jti) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.