Kisah Sukses Bubur Sumsum Pak Deden di Bandar Lampung, Dirintis selama 9 Tahun
Robertus Didik Budiawan Cahyono July 04, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Satu gerobak pedagang mencuri perhatian karena dikerumuni orang yang sedang ramai berkunjung di tempat wisata kuliner Taman UMKM Bung Karno di kawasan Gatot Subroto, Bandar Lampung.

Baca juga: Si Jago Merah Lalap Rumah Tukang Bubur di Pesawaran 

Gerobak tersebut merupakan tempat penjualan Bubur Sumsum Pak Deden, yang dirintis oleh Dewi Ayulia dengan sang suami sejak 2007.

Usaha bubur sumsum ini terus berkembang dan menjadi salah satu jajanan tradisional favorit masyarakat Bandar Lampung.

"Perjalanan kami penuh cerita. Pernah ramai, pernah sepi, bahkan harus beberapa kali pindah tempat. Kalau musim hujan biasanya pembeli berkurang, tapi kami selalu bersyukur karena rezeki sudah ada yang mengatur," ujar Dewi Sabtu (4/7/2026).

Berawal dari berjualan di depan SPBU, tepatnya di depan Kantor Djarum, usaha tersebut hanya menggunakan lapak sederhana. 

Walaupun dengan tempat yang sederhana, bubur sumsum miliknya selalu diburu oleh masyarakat.

“Setiap hari kami buat 250 porsi untuk di lapak, dan habis semua. Jumlah itu belum termasuk jika ada pesanan,” tutur Dewi.

Setiap hari, Bubur Sumsum Pak Deden mampu menjual sedikitnya 250 cup dengan harga Rp10.000 per porsi. 

Di luar penjualan harian, pesanan dalam jumlah besar juga kerap datang untuk berbagai acara seperti festival, hajatan, hingga kegiatan kantor.

Kini, Bubur Sumsum Pak Deden telah menempati lokasi di Jalan Gatot Subroto, tepat di depan Kantor Satpol PP, samping Indomaret.

Setiap Sabtu-Minggu berjualan di Tempat Wisata Kuliner Bung Karno dari jam 07.00 wib-10.00 wib.

Salah satu keunggulan Bubur Sumsum Pak Deden yaitu banyaknya pilihan topping yang ditawarkan. 

Selain bubur sumsum original, pelanggan dapat menikmati berbagai varian seperti mutiara, biji salak, pisang, hingga tambahan terbaru berupa jelly kelapa muda (degan).

Tak hanya itu, cita rasa gula merah yang digunakan juga menjadi pembeda. Dewi mengaku hanya menggunakan gula aren kualitas terbaik sehingga menghasilkan rasa manis yang lebih khas dibandingkan bubur sumsum pada umumnya.

"Kami memakai gula aren pilihan, bukan gula merah biasa. Itu yang membuat rasanya berbeda," jelasnya.

Sembilan tahun berjalan, bubur sumsum ini banyak diminati masyarakat, mulai dari Bandar Lampung, Bandar Jaya hingga Kotabumi.

Dari penjualan harian tersebut, omzet yang diperoleh bisa mencapai sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per hari, terutama saat pesanan meningkat.

Meski demikian, perjalanan usaha tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah mencari tenaga kerja yang mau dan mampu membantu proses produksi.

"Yang paling sulit sekarang mencari karyawan. Jadi semuanya masih kami kerjakan sendiri bersama suami," katanya.

Selain itu memilih tempat yang strategis juga menjadi tantangan. Selama menjalankan usaha, Dewi Ayu juga mengaku sudah tiga kali berpindah lokasi berjualan. 

Namun, loyalitas pelanggan menjadi modal utama untuk tetap bertahan. Banyak pelanggan lama yang tetap mencari keberadaan Bubur Sumsum Pak Deden melalui nomor telepon yang mereka simpan.

"Walaupun pindah tempat, pelanggan tetap mencari kami. Mereka telepon dan bertanya sekarang jualannya di mana," tuturnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.