SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Akun TikTok @libur_jalan memposting video yang memperlihatkan kondisi terkini Pasaraya Bandung di kawasan 16 Ilir, Palembang.
Unggahan tersebut langsung memancing nostalgia warganet yang pernah merasakan ramainya pusat perbelanjaan tersebut pada masa lalu.
Dalam video itu, kreator konten mengajak penonton melakukan “napak tilas” menyusuri area Pasaraya Bandung yang dahulu dikenal dengan nama Sumatera Shopping Center.
Ia menceritakan perbedaan suasana antara dulu dan sekarang, mulai dari jumlah pengunjung hingga jenis usaha yang ada di dalamnya.
Menurutnya, saat ini kawasan tersebut banyak dipenuhi lapak busana muslim dan hijab.
Sementara pada masa lalu, Pasaraya Bandung dikenal sebagai pusat perbelanjaan yang ramai dengan penjual makanan, mainan, hingga kebutuhan sekolah seperti tas, sepatu, dan buku.
Saat menyusuri area dalam, ia juga menemukan perbedaan mencolok antara kondisi dulu dan sekarang, terutama pada area kuliner dan pertokoan kecil yang kini tidak seramai sebelumnya.
“Pasaraya Bandung di 16 Ilir Palembang ternyata dulunya bernama Sumatera Shopping Center. Aku akan mengajak berkeliling nih ke pinggiran Pasaraya Bandung.
Apa aja sih yang ada di sana saat ini? Kalau sekarang banyak diisi lapak-lapak busana muslim dan hijab. Tapi kalau dulu, kira-kira apa ya? Aku lupa-lupa ingat.
Seingatku dulu zaman kecil, banyak banget nih deretan gerobak penjual kue pukis. Salah satunya masih ada nih. Lalu kita belok kanan ya.
Di sini juga banyak lapak-lapak penjual makanan. Dulunya rame banget nih, pengunjungnya di sini. Tapi sayang sekarang sepi," ujarnya.
Ia kemudian mengenang masa kecilnya yang sering berbelanja kebutuhan sekolah di kawasan tersebut.
“Kalau dulu waktu kecil, aku sering mencari tas-tas lucu nih di toko pinggiran sini. Ada juga sepatu, buku, dan peralatan sekolah lainnya.”
Ia juga menyinggung salah satu toko sepatu yang cukup dikenal warga Palembang.
“Kalau ngebahas belanja sepatu di Pasar 16 Ilir Palembang, kalian pasti ingatnya dengan Toko Sepatu Idaman ini.”
Dalam video tersebut juga terlihat sejumlah toko legendaris yang masih bertahan hingga kini, meski kondisi kawasan sudah banyak berubah.
Beberapa di antaranya adalah Toko Sepatu Idaman, Toko Tas Elizabeth, Rumah Makan Sari Mulia, serta JM Palembang yang kini disebut hanya beroperasi satu lantai dari sebelumnya tiga lantai.
Baca juga: Usaha Sejak 2002 Kini Hangus Dilalap Api, Pedagang Pasar 16 Ilir Rugi Ratusan Juta Akibat Kebakaran
Selain itu, toko-toko lawas seperti Toko Sepatu Samudera dan Toko Kue Chandra juga masih dikenang sebagai bagian dari kejayaan kawasan tersebut.
Kawasan ini juga disebut dahulu saling terhubung dengan pusat perbelanjaan lain seperti Megaria dan Toko Sumatera, sehingga menjadi satu kawasan belanja yang ramai dan terpadu di Palembang.
“Masih banyak toko-toko lawas yang bertahan, kayak Rumah Makan Sari Mulia dan ininih Toko Tas Elizabeth yang terkenal banget dari dulu sampai sekarang.
Toko lawas yang masih bertahan hingga saat ini adalah JM Palembang. Dulunya sampai 3 lantai, tapi sekarang hanya satu lantai aja.”
Ia juga mengenang masa kejayaan kawasan tersebut sebagai tempat favorit keluarga untuk berbelanja.
“Kalau dulu aku seneng banget nih keliling-keliling dari lantai 1, lantai 2 dan lantai 3. Cuci-cuci mata gitu.”
Sejumlah toko lain seperti Toko Sepatu Samudera dan Toko Kue Chandra juga disebut sebagai ikon lama kawasan tersebut.
“Toko sepatu legend lainnya yaitu Toko Sepatu Samudera dan di seberangnya ada Too Kue Chandra yang legend juga.”
Menurutnya, Pasaraya Bandung dulu tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan beberapa pusat perbelanjaan lain di sekitarnya.
“Dari Megaria, Pasaraya Bandung, Toko Sumatera dan toko-toko lainnya memang terkoneksi di satu tempat ya.”
Ia menutup video dengan kenangan masa kecil saat sering diajak orang tua berbelanja seharian di kawasan tersebut.
“Makanya dulu aku sering diajakin orangtua ke sini harus dari pagi karena mau muter-muter sampai sore hari. Kalau kalian, terakhir ke sini kapan?”
Unggahan tersebut pun ramai dikomentari warganet yang ikut bernostalgia, mengingat masa kecil mereka yang sering berkunjung ke kawasan tersebut bersama keluarga.