Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Warga Surabaya mendadak gempar karena tewasnya seorang ART.
Seorang perempuan pembantu atau asisten rumah tangga (ART) ditemukan meninggal dunia di rumah majikannya yang berprofesi sebagai dokter di kawasan Jalan Prapen Indah, Prapen, Tenggilis Mejoyo, Surabaya, pada Sabtu (4/7/2026) pagi.
Informasinya, korban berinisial TA (44) warga Jombang. Ia ditemukan meninggal dunia dalam kamar pribadinya yang disediakan oleh sang majikan selama bekerja mengurus rumah tangga di rumah tersebut.
Posisi tubuhnya ambruk agak miring bertumpu pada pintu utama kamarnya, sehingga membuat orang lain; termasuk petugas yang akan memasuki kamar tersebut agak kesulitan.
Petugas bahkan harus mendorong dengan paksa dengan sedikit kekuatan agar pintu yang tertahan tubuh korban yang ambruk tersebut bisa terbuka.
Baca juga: Paman Tak Menyangka Merinda Tewas di Tangan Pacarnya: Saya Kira Mereka Baik-Baik Saja
Kemudian, kondisi mulut korban terdapat sedikit cairan yang meluber keluar dari mulut. Lalu, pada meja di dalam kamar tersebut terdapat remahan sisa jajanan biskuit yang diduga kuat baru saja dimakan korban sebelum akhirnya meninggal dunia.
Selain itu, tubuh korban juga masih mengenakan pakaian daster yang biasa dipakai untuk tidur.
Ketua RT 06, Titik Marwati menceritakan, sang majikan pemilik rumah berinisial JI mengeluh karena korban yang tidak kunjung tampak beraktivitas seperti biasanya membersihkan rumah dan mempersiapkan masakan, sejak sekitar pukul 07.00 WIB.
Mengira korban sedang beraktivitas di luar rumah, Saksi JI juga sempat berusaha menelepon nomor ponsel korban tapi tak kunjung direspon.
Saksi JI juga sempat memanggil dan mengetuk pintu kamar tempat tidur korban di sisi belakang halaman rumah yang berdekatan dengan tempat mencuci dan menjemur pakaian.
Kendati demikian, ternyata, korban tak kunjung merespon panggilan tersebut. Menyadari ada yang tak beres, Saksi JI berinisiatif membuka paksa pintu kamar korban yang agak sulit untuk terbuka lebar.
Melalui celah pintu yang terbuka kecil tersebut, Saksi JI melihat korban sudah terduduk tak sadarkan diri dengan posisi tubuh agak menekan pintu.
"(Saksi JI cerita) Terus saya takutnya pingsan, atau apa, kok pintu kamar gak bisa dibuka. Pas dibuka (paksa) cuma buka sedikit, cuma kelihatan rambutnya. Meninggalnya di pintu, agak ganjel, iya (agak miring). Lalu saya ke sana," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di teras rumahnya, pada Sabtu siang.
Mendapati kondisi korban yang tak bergerak, Saksi JI bergegas meminta bantuan kepada Titik yang rumahnya berdekatan cuma dibatasi rumah kosong di samping kiri.
"Langsung nelpon saya, saya datang, saya enggak berani dobrak, karena MD-nya karena apa, kan belum tahu, makanya saya telpon 110. Langsung diangkat. Saya suruh satpam telpon Babinsa depan," katanya.
Kemudian, Anggota Polsek Tenggilis Mejoyo tiba di lokasi bersama Anggota Tim Inafis Polrestabes Surabaya untuk melakukan olah TKP. Proses tersebut berlangsung hingga pukul 11.00 WIB, dan jenazah korban dievakuasi ke kamar mayat RS Bhayangkara Surabaya.
Menurut Titik, terakhir kali korban berkomunikasi dengan sang majikan Saksi JI, sekitar pukul 21.45 WIB, Jumat (3/7/2026), melalui percakapan pesan WA membicarakan perihal daftar belanjaan yang harus dibeli persiapan memasak keesokan hari.
Bahkan, beberapa menit sebelumnya, yakni sekitar pukul 21.00 WIB, korban juga sempat membantu membuka pagar dan pintu rumah untuk menyambut kedatangan anak Saksi JI, yakni Saksi OV yang baru saja pulang bekerja sebagai dokter.
"Semalam jam 21.45 Jumat, (majikan) masih WA-an dengan pembantu, mau pesan belanjaan. Pagi tadi pesanan sudah dikirim pagi. Mlijo dikirim ke rumah. Jam 21.00 masih bukain pintu buat anaknya majikan bukain pintu, ya sehat-sehat saja," jelasnya.
Mengenai kondisi tubuh korban pada saat ditemukan meninggal dunia. Berdasarkan informasi yang diketahuinya, Titik mengungkapkan, tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda mencurigakan seperti bekas penganiayaan atau sejenisnya.
Hanya saja tubuh korban dalam keadaan kaku, karena diduga lama kematiannya sudah lebih dari dua jam sebelum akhirnya ditemukan. Selain itu, ia menduga korban sudah meninggal dunia sejak Jumat malam.
"Tubuhnya enggak ada yang aneh, bersih, cuma kaku mayat, lebih dari 2 jam (meninggal), mungkin ya malam. Entah tengah malam," ungkapnya.
Lalu, Titik juga sempat melihat bahwa kondisi mulut korban terdapat sedikit cairan yang meluber keluar dari mulut. Ia menduga cairan tersebut memang muncul karena kondisi kesehatan korban yang diduga memburuk.
Selain itu, pada meja di dalam kamar tersebut terdapat remahan sisa jajanan biskuit yang diduga kuat baru saja dimakan korban sebelum akhirnya meninggal dunia.
"Tadi itu, ada cairan dikit, kayaknya itu mungkin (tersedak atau apa). Ada biskuit, karena dia suka ngemil kalau malam," katanya.
Mengenai dugaan penyebab korban meninggal dunia. Titik menduga korban meninggal dunia karena sakit, sejak Jumat malam. Karena, tiga hari sebelumnya korban diketahui mengeluh sakit maagnya kambuh dan meminta obat kepada majikannya.
"Sakitnya itu, kadang dia ngeluh sakit maag, cuma dikasih obat maag sama juragannya. 3 hari lalu minta obat maag, obat biasa, karena dia punya sakit maag gitu aja," paparnya.
Lantas, berapa lama korban bekerja dengan keluarga besar berprofesi dokter di rumah tersebut. Titik memperkirakan, korban sudah bekerja selama 14 tahun lebih.
Di rumah tersebut, korban membantu membereskan keperluan rumah dan memaksa para majikannya, yakni Saksi JI; sang ibunda, dan anaknya Saksi OV.
Korban sudah bekerja sejak masih lajang. Lalu setelah menikah, korban sempat berhenti bekerja dan memutuskan tinggal berdua dengan suaminya di Jombang.
Namun, entah apa sebabnya, korban akhirnya memutuskan bekerja kembali sebagai ART di rumah tersebut pada kisaran tahun 2023 hingga tahun ini.
"TA sudah tinggal lama, sudah 14 tahun. Sejak muda sampai setelah menikah. Sempat keluar setelah menikah, lalu 4 tahun lalu ikut lagi (kerja di sini)," pungkasnya.
Menurut salah satu satpam CH, korban sudah bekerja di sana sejak majikan laki-laki masih hidup. Bahkan, korban lebih dahulu bekerja di rumah itu, sebelum dirinya bekerja sebagai satpam pada tahun 2008.
"Sejak 2008 saya kerja di sini (satpam), dia sudah kerja di sini," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di perumahan tersebut.
Hal senada juga disampaikan oleh warga AS, korban ditemukan tak sadarkan diri dengan tubuh tergeletak di area dekat pintu kamar tempat tidur.
Kondisi tubuhnya masih memakai pakaian sejenis daster untuk tidur. Dan tidak ada bekas luka mencurigakan yang mengindikasikan penganiayaan.
Bahkan, lanjut AS, pada Jumat malam, korban sempat berkomunikasi dengan majikannya melalui percakapan WA untuk membahas persiapan belanjaan yang akan dibeli keesokan pagi.
"Tubuh masih pakai pakaian, daster, baju tidur (Soal luka) enggak ada. Masih utuh. Kondisi kaku tapi bersih. Kalau belanja, dikirim (pedagangnya). Malam itu jam 9 masih telpon sama juragannya; mau pesen apa. Ada daftarnya," ujar AS saat ditemui TribunJatim.com di dekat lokasi.
Kemudian, di sisi lain, warga SI, korban memang sering kali menghabiskan waktunya beraktivitas di dalam rumah.
Warga sekitar rumah terbilang jarang berkomunikasi dengan korban, jika korban tidak sedang berada di luar rumah, seperti mengajak jalan-jalan anjing milik majikannya.
"Sosok, orangnya agak tertutup. Ya kerja di dalam terus. Engga pernah keluar rumah. Kalau keluar ya bawa anjingnya (tuan rumah) jalan-jalan," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di dekat lokasi.
Namun, SI tak menampik belakang ini, sejak satu minggu lalu, korban tampak lebih sering mengobrol dan menyapa warga, saat sedang beraktivitas di luar rumah.
"Orangnya engga terlalu grapyak. Ya 1 mingguan ini agak sering komunikasi dengan warga. Iya biasa (menyapa warga). Kerja sejak muda lalu pas nikah tinggal di Jombang beberapa tahun. Lalu kembali lagi ke sini kerja lagi," pungkasnya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Tenggilis Mejoyo Polrestabes Surabaya Ipda Bagus Tri Cahyanto mengatakan, pihaknya melakukan olah TKP bersama Tim Inafis Polrestabes Surabaya. Lalu mengevakuasi jenazah korban ke RS Bhayangkara Surabaya untuk dilakukan visum et repertum.
Berdasarkan hasil temuan penyelidikan awal, korban diketahui meninggal dunia akibat sakit yang dialaminya. Karena, pihaknya tidak mendapati adanya temuan mencurigakan pada tubuh korban yang mengindikasikan perbuatan tindak pidana.
"Diduga sakit. Tidak ada bekas kekerasan. Sakit maag," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com