Gelar Budaya Mandong di Klaten Banjir Warga, 1.000 Pincuk Gratis Jadi Simbol Kebersamaan
Vincentius Jyestha Candraditya July 04, 2026 06:17 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Gelar budaya di Desa Mandong, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat (3/7/2026), berubah menjadi lautan warga yang berebut menikmati 1.000 pincuk makanan gratis.

Sejak kirab berakhir, masyarakat dari berbagai usia langsung mengerumuni hidangan yang disajikan di atas hamparan daun pisang.

Suasana penuh keakraban tampak ketika warga saling berbagi tempat untuk mengambil nasi liwet, ayam ingkung, sayur trancam, hingga rambak yang dibagikan secara cuma-cuma sebagai simbol kebersamaan.

Baca juga: Makna Ayam Ingkung dan Nasi Gurih yang Warnai Tradisi Perayaan Malam Selikuran di Solo Raya

Tradisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Gelar Budaya Desa Mandong yang rutin digelar setiap tahun sebagai wujud rasa syukur masyarakat sekaligus menyambut Bulan Suro.

Salah seorang panitia, Witono, mengatakan kegiatan itu merupakan tradisi yang terus dijaga oleh warga Desa Mandong.

"Ini merupakan kegiatan bentuk syukur masyarakat, dan juga memperingati bulan suro," ujarnya.

Menurut Witono, tradisi tersebut sebenarnya telah dimulai sebelum pandemi Covid-19. Setelah sempat terhenti, kegiatan kembali digelar pada 2022 dan kini terus dilestarikan setiap tahun.

"Acara Kirab ini, sebelum Covid itu sudah mulai. Itu pun acara grebek ini setelah Covid tahun 2022 (kembali diadakan)," jelasnya.

Filosofi 1.000 Pincuk

Bukan tanpa alasan panitia memilih pincuk sebagai wadah makanan yang dibagikan kepada masyarakat.

Di balik daun pisang yang dilipat sederhana itu, tersimpan pesan tentang kebersamaan tanpa memandang status sosial.

Witono menjelaskan, pincuk dipilih sebagai lambang bahwa seluruh masyarakat, termasuk para pejabat, duduk dalam posisi yang sama ketika menikmati hidangan.

"Karena pincuk itu merupakan suatu lambang kebersamaan, supaya bahwa dengan pincuk inilah masyarakat dengan pejabat atau rakyat dengan pejabat ini bisa punya rasa kebersamaan," jelasnya.

Baca juga: Tren Penumpang KRL Meningkat, Klaten Masuk Daftar Stasiun dengan Pengguna Tertinggi

Ia menambahkan, kebersamaan justru menjadi nilai utama dibandingkan menu yang disajikan.

"Bahwa kita hidup itu sebenarnya yang enak itu bukan karena jenis makanannya, tapi karena kebersamaan inilah yang menjadi suatu rasa itu menjadi enak," imbuhnya.

Sebelum dibagikan kepada masyarakat, gunungan hasil bumi dan hidangan matang terlebih dahulu diarak dari Kantor Desa Mandong menuju Pendopo Nawasena dengan jarak sekitar 500 meter.

Setelah didoakan bersama, makanan kemudian dibagikan menggunakan pincuk kepada warga yang telah menunggu sejak kirab berlangsung.

Menu yang disajikan terdiri dari nasi liwet, ayam ingkung, sayur trancam, dan rambak. Sementara hasil bumi yang disusun dalam gunungan diperebutkan warga sebagai simbol berkah dan harapan akan panen yang melimpah.

Baca juga: Bupati Klaten Hamenang Harap Tradisi Grebek Masaran Dilestarikan dan Rezeki Warga Semakin Bertambah

Acara tersebut turut dihadiri Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, anggota DPRD Jawa Tengah Kadarwati, serta jajaran organisasi perangkat daerah (OPD).

Usai mengikuti rangkaian kegiatan, Bupati Hamenang mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Mandong dalam menjaga tradisi budaya.

"Luar biasa sekali ternyata sudah diadakan tahunan. Tentu ini semakin memperkaya atraksi budaya yang ada di Kabupaten Klaten," ujarnya.

Ia berharap tradisi semacam ini terus diwariskan kepada generasi berikutnya karena tidak hanya menjaga budaya lokal, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

"Sehingga masyarakat bisa nguri-nguri tradisi yang ada, sekaligus menggerakkan UMKM yang ada. Ini semua warga guyub rukun untuk di sini," paparnya.

Selain kirab budaya dan pembagian 1.000 pincuk, rangkaian Gelar Budaya Desa Mandong juga diisi pengajian serta ditutup dengan pertunjukan wayang sebagai puncak perayaan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.