TRIBUNJATIM.COM - Bagi seorang ibu, Pendidikan anaknya adalah segalanya.
Oleh karena itu, seorang ibu rela melakukan apapun agar anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik.
Di tengah berbagai kisah tentang ketimpangan akses pendidikan, cerita seorang ibu tunggal di China menjadi bukti bahwa perjuangan dan pendidikan masih menjadi jalan untuk mengubah nasib sebuah keluarga.
Selama lebih dari satu dekade, Zou Pinzhi rela memikul pipa-pipa baja di lokasi konstruksi demi membiayai sekolah kedua putrinya.
Pengorbanan itu akhirnya terbayar ketika putri sulungnya, Liu Fang, berhasil meraih nilai terbaik dalam gaokao, ujian masuk perguruan tinggi yang dikenal sebagai salah satu tes paling kompetitif di China.
Momen pengumuman hasil ujian menjadi saat yang paling emosional bagi keduanya.
Dikutip dari Tribunnews, Zou dan Liu berpelukan sambil menangis setelah mengetahui hasil yang membuka peluang Liu diterima di universitas terbaik di China.
Nilai Liu bahkan tidak ditampilkan kepada publik.
Baca juga: PHK Massal PT SGS Jombang, Disnaker dan Serikat Buruh Beda Pandangan Soal Pesangon Dicicil 10 Kali
Para siswa dengan nilai tersebut umumnya langsung mendapat tawaran dari kampus-kampus elite.
Kesuksesan Liu berangkat dari perjalanan hidup sang ibu yang penuh keterbatasan.
Zou, 48 tahun, berasal dari keluarga miskin di daerah pegunungan Provinsi Sichuan.
Karena orang tuanya tidak mampu membiayai sekolah, ia hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas satu sekolah dasar.
Sejak kecil, Zou harus membantu mengurus adiknya sekaligus bekerja di ladang.
Setelah bercerai ketika putri bungsunya masih berusia dua tahun, ia membesarkan kedua anaknya seorang diri.
Tanpa pendidikan tinggi maupun keahlian khusus, Zou pernah bekerja sebagai petugas kebersihan dan pegawai toko bunga.
Dalam sepuluh tahun terakhir, ia bekerja sebagai buruh bangunan yang setiap hari mengangkut pipa baja di Chengdu.
Setiap hari ia memikul dua batang pipa baja sepanjang enam meter dengan berat masing-masing sekitar 20 kilogram selama lebih dari delapan jam.
"Aku tidak boleh tumbang. Kalau aku berhenti bekerja, tidak ada lagi yang mencari nafkah untuk mereka," ujar Zou.
Selama ibunya bekerja keras di lokasi proyek, Liu memiliki satu janji yang selalu dipegang.
Ia bertekad belajar sekeras ibunya bekerja.
Janji itu bukan sekadar ucapan.
Saat masuk SMA, Liu berhasil menjadi salah satu siswa terbaik sehingga memperoleh beasiswa tahunan, tunjangan bulanan sebesar 800 yuan, serta fasilitas asrama gratis.
Bahkan ketika sang ibu menawarkan untuk membelikannya telepon genggam baru, Liu menolak karena tidak ingin menambah beban ekonomi keluarga.
Suatu hari, Zou tanpa sengaja mendengar putrinya berkata kepada sang adik bahwa ia tidak ingin mengecewakan ibunya.
Sang adik kemudian menjawab bahwa ibu mereka tidak sedang memaksakan mimpi, melainkan ingin kedua anaknya memiliki pendidikan yang cukup agar bebas menentukan jalan hidup sendiri.
Ucapan itu menjadi penguat bagi Zou
Saat Liu pernah merasa gagal setelah menghadapi salah satu ujian, sang ibu hanya berkata, "Jangan khawatir. Kamu tetap peraih nilai tertinggi di keluarga kita."
Bagi Zou, pendidikan bukan sekadar mengejar nilai tinggi atau masuk universitas ternama.
Pendidikan adalah kesempatan agar anak-anaknya tidak lagi menjalani kehidupan seberat dirinya.
Perempuan yang tumbuh di daerah pegunungan itu berulang kali mengungkapkan satu harapan sederhana, yakni agar kedua putrinya "melangkah lebih jauh dan tidak perlu kembali hidup di pegunungan."
Kini harapan tersebut mulai menjadi kenyataan.
Menurut Zou, Universitas Tsinghua telah menghubungi keluarganya setelah hasil gaokao diumumkan.
Sementara itu, Liu berencana memanfaatkan liburan musim panas untuk bekerja paruh waktu sebelum memulai kuliah.
Ia ingin mengambil jurusan akuntansi karena menyukai matematika dan bercita-cita menempuh pendidikan di Universitas Tsinghua atau Universitas Peking.
Kisah ibu dan anak ini pun menjadi perbincangan hangat di media sosial China.
"Ibu dan anak adalah tim terbaik," tulis seorang warganet.
Warganet lain berkomentar, "Masa depan yang cerah menanti Zou karena ia telah membesarkan putri-putri yang luar biasa."
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com