Honda Star Berwajah Dax, Motor Mini Kuning Milik Mayasastra yang Jadi Identitas di Jalan
Joko Widiyarso July 04, 2026 07:14 PM

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dari kejauhan, motor berwarna kuning cerah itu sudah lebih dulu mencuri perhatian. Bodinya mungil dengan siluet memanjang khas Honda Dax, dipadukan setang tinggi, lampu bulat, roda berukuran kecil, dan suspensi belakang berwarna merah yang kontras. Siapa pun yang melihatnya hampir pasti akan menoleh, lalu bertanya, "Motor apa itu?"

Motor itulah yang kini identik dengan Mayasastra, atau akrab disapa Maya. Perempuan asal Yogyakarta tersebut mengendarai sebuah Honda Star yang telah dikustom menjadi bergaya Honda Dax. Bukan hanya menjadi kendaraan harian, motor mini itu perlahan berubah menjadi identitas yang membuat banyak orang mengenalnya di jalan.

"Motorku itu basic-nya Star. Tapi di-custom jadi model Dax, mini Dax gitu. Aku pilih karena lucu aja. Kecil, terus pas sama badanku," ujar Maya.

Motor mini memang memiliki daya tarik tersendiri di kalangan pehobi otomotif. Dimensinya lebih ringkas dibanding motor bebek pada umumnya, tetapi tetap nyaman dikendarai. Salah satu ikon motor mini dunia adalah Honda Dax yang pertama kali diperkenalkan Honda pada akhir 1960 an. Ciri khasnya terletak pada rangka berbentuk tulang punggung yang sekaligus menjadi rumah tangki bahan bakar, dipadukan roda berdiameter kecil sehingga tampilannya terlihat unik dan proporsional.

Karakter itulah yang dihadirkan pada motor Maya. Meski menggunakan basis Honda Star, tampilannya telah berubah total. Bagian bodi dibuat menyerupai Dax dengan balutan warna kuning mencolok, sementara setang tinggi, jok memanjang, roda kecil, serta posisi berkendara yang santai semakin mempertegas kesan motor mini klasik. Mesin Honda Star tetap dipertahankan sehingga motor masih memiliki karakter berkendara layaknya motor bebek lawas.

Menurut Maya, motor tersebut sudah berada dalam kondisi kustom ketika ia membelinya dari seorang teman. Ia mengaku tidak mengikuti proses pembangunannya secara langsung. Namun justru bentuknya yang unik menjadi alasan utama jatuh hati pada motor tersebut.

Yang aku tahu motor ini kecil dan lucu aja. Kayak motor-motor di film kartun," katanya sambil tertawa.

Keunikan tampilannya membuat motor itu mudah dikenali. Maya mengaku tak jarang orang menghampirinya saat berhenti di lampu merah hanya untuk menanyakan jenis motornya. Bahkan beberapa orang lebih dulu mengingat motornya dibanding pemiliknya.

"Sering banget pas di jalan ada yang jejerin terus bilang, 'Mbak, motornya lucu. Ini motor apa ya?' Bahkan pernah motorku dipinjam teman, masih ada yang bilang, 'Ini motornya Mbak Maya ya?' Berarti orang hafal sama motorku,” bebernya.

Ayah inspirasi terbesar

Di balik ketertarikannya pada motor lawas, ternyata ada sosok sang ayah yang menjadi inspirasi terbesar. Sejak kecil, Maya sudah akrab dengan berbagai kendaraan klasik yang dikoleksi ayahnya, mulai dari Datsun, Jimny Jangkrik, Suzuki Carry, Volkswagen Beetle atau yang akrab dijuluki Pispot, hingga Honda 800.

Yang paling membekas baginya adalah Honda 800 milik sang ayah. Motor itu merupakan kendaraan pertama yang dibeli dari gaji sebagai dosen dan terus digunakan selama puluhan tahun, bahkan ketika orang lain mulai beralih ke mobil.

"Papah ke mana-mana tetap pakai Honda 800. Itu motor pertama yang beliau beli dari gaji sebagai dosen. Dari situ aku jadi sering naik motor-motor tua dan pengin nerusin spirit Papah. Ternyata berjodoh sama motor mini ini,” kenangannya.

Namun memiliki motor lawas tentu berbeda dengan memakai motor modern. Usia kendaraan membuat perawatan menjadi lebih penting agar tetap nyaman digunakan, terlebih ketika dipakai touring bersama komunitas.

Maya mengaku belum terlalu menguasai urusan mekanis yang rumit. Meski begitu, ia mulai belajar memahami karakter motornya, mulai dari membersihkan busi hingga mengenali penyebab motor mogok melalui pengalaman dan diskusi dengan mekanik.

"Sebelum riding aku pasti servis dulu. Dari tukang bengkel aku jadi belajar, misalnya kalau motor mati harus ngapain. Jadi sedikit-sedikit ada ilmunya. Soalnya ngerawat motor lawas itu memang enggak mudah, harus telaten,” ucapnya.

Kesukaannya berkendara juga semakin berkembang setelah bergabung dengan komunitas Cewek Cewek Motoran YK. Menurutnya, komunitas tersebut menjadi ruang yang nyaman bagi perempuan yang ingin menikmati hobi bermotor tanpa memandang jenis maupun merek kendaraan.

"Di komunitas ini motornya bebas. Enggak harus Vespa atau motor tertentu. Yang penting senang riding bareng. Dari situ aku malah jadi ketagihan riding."

Dunia motor lebih inklusif 

Baginya, dunia motor kini sudah jauh lebih inklusif dibanding beberapa tahun lalu. Jika dahulu berkendara dengan motor kopling atau motor lawas lebih sering dikaitkan dengan laki laki, kini perempuan juga semakin banyak yang berani mengeksplorasi hobinya di dunia otomotif.

Menariknya, motor kuning itu justru menjadi pengingat bagi Maya untuk selalu berkendara dengan santun. Karena sudah dikenal banyak orang, ia merasa harus menjaga sikap selama berada di jalan.

"Motorku ini jadi identitasku tanpa sengaja. Aku jadi enggak berani macam-macam di jalan. Takut nanti orang bilang, 'Oh itu motornya Mbak Maya.' Jadi malah bikin aku lebih hati-hati,” 

Kepada perempuan yang ingin mulai menekuni dunia motor, Maya berpesan agar tidak takut mencoba hanya karena khawatir dianggap sekadar mengikuti tren."Jangan takut dibilang FOMO. Semua orang bisa mulai dari rasa penasaran. Kalau akhirnya dinikmati, pasti akan terus jalan. Aku juga berawal dari situ. Yang penting berani mencoba dan nikmati prosesnya,” pesannya.

Bagi Maya, motor mini itu bukan sekadar kendaraan dengan tampilan unik. Di balik bodinya yang mungil tersimpan cerita tentang warisan kecintaan pada kendaraan klasik dari sang ayah, persahabatan di komunitas, hingga keberanian menjadi diri sendiri. 

Sebuah Honda Star yang bertransformasi menjadi Dax ternyata juga mengubah cara orang mengenal pemiliknya. Kini, di sejumlah ruas jalan Yogyakarta, cukup melihat motor kuning mungil itu melintas, banyak orang langsung tahu, Maya sedang lewat. (nto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.