TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP — Langkah Syaharuddin Alrif melambat ketika memasuki kompleks Pondok Pesantren DDI Manahilil Ulum Kaballangang, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, Sabtu (4/7/2026).
Di hadapannya berdiri masjid yang puluhan tahun lalu menjadi tempatnya belajar.
Tak jauh dari sana, masih ada pohon mangga yang pernah menaungi masa kecilnya, juga tangga bercat biru yang menyimpan cerita tentang seorang santri yang menghabiskan hari-harinya menghafal pelajaran.
Di tempat yang pernah membentuk dirinya itu, Bupati Sidrap tak hanya hadir sebagai narasumber Dialog Kebangsaan pada pembukaan Silaturahmi Nasional Badan Otonom (Banin) Darud Da'wah wal Irsyad (DDI).
Ia datang membawa pulang kenangan yang selama ini mungkin tak banyak diketahui publik.
Balutan kemeja batik bernuansa biru tak mengalihkan perhatian Syaharuddin dari sudut-sudut pesantren yang sesekali ia tatap, seolah membangkitkan kembali kenangan masa menjadi santri.
Bukan sekadar melihat bangunan lama, tetapi menyaksikan kembali potongan perjalanan hidup yang mengantarkannya hingga menjadi orang nomor satu di Kabupaten Sidrap.
"Masjid ini menjadi saksi perjalanan saya menimba ilmu. Pohon mangga di sini juga menjadi bagian dari kenangan masa kecil saya saat masih SD dan SMP. Bahkan, di bawah tangga yang bercat biru itulah tempat saya menghafal pelajaran. Dari pagi hingga sore saya banyak menghabiskan waktu belajar di tempat ini," katanya saat beri sambutan.
Cerita itu menghadirkan suasana yang berbeda dibanding pidato seremonial pada umumnya.
Tidak ada pembahasan program pembangunan atau capaian pemerintahan.
Yang muncul justru kisah sederhana tentang seorang anak yang pernah hidup sebagai santri dan belajar dalam keterbatasan.
Syaharuddin juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah tinggal bersama pendiri Pondok Pesantren DDI, AG. Abdurrahman Ambo Dalle.
Kedekatan itu, menurutnya, menjadi bagian penting yang membentuk cara pandangnya tentang keikhlasan, kedisiplinan, dan pengabdian.
Pesan itulah yang kemudian ia sambungkan dengan peran DDI hari ini.
Baginya, lembaga pendidikan tersebut telah melahirkan banyak tokoh yang berkiprah sebagai ulama, guru, akademisi, birokrat, pengusaha hingga pemimpin daerah.
"DDI telah mencetak kader-kader yang kini menjadi ulama, guru, akademisi, birokrat, pengusaha, hingga pemimpin di berbagai bidang. Karena itu, DDI bukan hanya berperan di Ajatappareng, tetapi juga memberi kontribusi besar bagi Indonesia Timur," ujarnya.
Di hadapan peserta Silaturahmi Nasional Banin DDI dari berbagai daerah, ia mengajak seluruh kader menjaga semangat pengabdian yang diwariskan para pendiri organisasi.
"Mari terus bekerja dengan ikhlas dan tulus agar cita-cita para pendiri tetap terjaga. Semoga DDI terus bertahan, berkembang, dan memberi manfaat sepanjang masa," tuturnya.
Kepulangan Syaharuddin ke pesantren itu meninggalkan satu pesan yang terasa lebih kuat daripada rangkaian seremoni yang berlangsung.
Seorang pemimpin boleh saja berdiri di panggung kehormatan, tetapi akar kepemimpinannya tetap berada di tempat-tempat sederhana yang pernah mendidiknya.
Kenangan tentang masjid, pohon mangga, dan tangga bercat biru menjadi pengingat bahwa jabatan akan berganti, sementara nilai yang ditanamkan sejak menjadi santri adalah bekal yang semestinya terus dibawa saat memimpin masyarakat (*)
Laporan ReporterSidrap: Hardiyanti Kamaluddin