TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dua hari pertama Prambanan Jazz Festival #12 menghadirkan lebih dari sekadar rangkaian pertunjukan musik.
Mengusung tema "Celebrate the Joy", festival ini merayakan kebersamaan lewat kolaborasi lintas genre, karya-karya baru, hingga momen emosional yang lahir di antara kemegahan Candi Prambanan.
Sejak memasuki area festival, pengunjung sudah diajak memasuki atmosfer perayaan. Instalasi karya seniman Eko Nugroho menjadi gerbang imajinasi yang menyambut ribuan penonton dengan permainan warna yang kontras namun tetap menyatu dengan lanskap Candi Prambanan.
Konsep tersebut sejalan dengan gagasan besar penyelenggara yang ingin menjadikan Prambanan Jazz bukan sekadar festival musik, melainkan ruang untuk merayakan kebahagiaan bersama.
CEO Prambanan Jazz Festival, Anas Syahrul Alimi, sebelumnya mengatakan penyelenggaraan tahun ini menjadi perjalanan panjang yang telah dibangun selama 12 tahun.
"Selama 12 tahun kami mencoba merajut dan membangun sebuah rumah. Tahun ini kami ingin merayakannya bersama melalui tema Celebrate the Joy," ujar Anas.
Malam pembuka langsung diwarnai eksplorasi musikal bertajuk Playing Jazz. The Panturas tampil bersama La Fontana Punks, Perunggu berkolaborasi dengan Little Fingers, sementara Salma Salsabil menghadirkan sentuhan improvisasi jazz dalam penampilannya.
Kolaborasi lintas genre tersebut menunjukkan bagaimana jazz dapat menjadi ruang bertemunya berbagai warna musik.
Suasana kemudian bergeser menjadi penuh nostalgia saat Michael Learns to Rock naik ke panggung. Grup asal Denmark itu membawakan sederet lagu yang telah menemani berbagai generasi, menciptakan salah satu momen paling emosional pada hari pertama festival.
Memasuki hari kedua, semangat kolaborasi kembali berlanjut. Kali ini, kelompok musik Societeit De Harmonie mempersembahkan sesuatu yang dirancang khusus untuk Prambanan Jazz Festival.
Mereka membawakan versi baru lagu Jogja yang kini hadir dengan judul Kembali ke Prambanan Jazz. Lagu yang pertama kali ditulis dua tahun lalu itu diaransemen ulang dengan nuansa jazz yang jauh lebih kuat atas permintaan penyelenggara festival.
"Lagu Jogja sebenarnya sudah kami rilis tahun ini, tetapi kemudian di-remake dan diaransemen dengan versi yang jauh lebih jazz. Judulnya juga berubah menjadi Kembali ke Prambanan Jazz," kata vokalis Societeit De Harmonie, Natasya Elvira.
Aransemen baru tersebut tidak sekadar mengubah warna musik, tetapi juga menghadirkan lirik baru yang secara khusus dibuat untuk Prambanan Jazz Festival. Menurut Natasya, sentuhan jazz dalam versi terbaru bahkan terasa berkali-kali lipat dibanding versi sebelumnya.
Keyboardis Societeit De Harmonie, Andi Gomez, mengatakan proses tersebut menjadi pengalaman yang menarik. Ia menilai Anas Syahrul Alimi mampu melihat potensi lain dari lagu tersebut hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah theme song, bukan sekadar jingle festival.
"Mas Anas melihat lagu ini dengan cara yang berbeda. Akhirnya kami remake satu lagu penuh," ujar Andi.
Ia juga menyisipkan cerita personal dalam aransemen tersebut. Bagian interlude jazz yang terdengar di tengah lagu ternyata merupakan melodi yang pernah ia ciptakan semasa kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan baru menemukan tempatnya dalam lagu tersebut.
"Itu melodi yang saya bikin waktu kuliah dulu. Ada yang belum selesai, lalu akhirnya selesai di Prambanan Jazz," katanya.
Hari kedua juga menjadi panggung spesial bagi penyanyi muda Dinda Ghania. Penyanyi berusia 16 tahun itu memilih Prambanan Jazz Festival sebagai tempat pertama memperkenalkan lagu terbarunya berjudul Half of Me.
"Aku bakal bawain enam lagu dan satu lagu baru yang memang dirilis khusus buat Prambanan Jazz. Judulnya Half of Me, aku juga yang nulis sendiri," ujar Dinda.
Lagu tersebut mengangkat kisah seseorang yang merasa kehilangan separuh dirinya setelah ditinggalkan orang yang dicintai. Menariknya, lagu itu belum dirilis sebelum penampilannya sehingga Prambanan Jazz menjadi tempat pertama bagi publik untuk mendengarnya secara langsung.
"Ini pertama kali aku tampil di festival jazz. Aku benar-benar ingin kasih penampilan yang terbaik," katanya.
Meski dikenal sebagai penyanyi pop, Dinda mengaku antusias menjadi bagian dari festival yang selama ini hanya ia dengar. Penampilan di bawah langit Prambanan pun menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di kawasan candi yang menjadi ikon Yogyakarta tersebut.
"Menurut aku ini keren banget. Sebuah festival yang besar. Makanya aku bersyukur dan excited banget bisa tampil di sini," ujarnya.
Rangkaian penampilan selama dua hari pertama memperlihatkan bagaimana Prambanan Jazz Festival terus berkembang sebagai ruang pertemuan lintas generasi dan lintas genre. Musisi legendaris, talenta muda, hingga karya-karya baru mendapat panggung yang sama untuk dirayakan bersama ribuan penonton.
Semangat itulah yang ingin terus dihidupkan melalui tema Celebrate the Joy, bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium yang menyatukan orang-orang dalam satu pengalaman, satu ruang, dan satu perayaan di bawah kemegahan Candi Prambanan. (nto)