Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Lapak sederhana tembakau milik Usman di Jalan Perdamaian, kawasan Gang Pasar Inpres Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh bukan sekadar tempat transaksi jual beli biasa.
Berjualan sejak tahun 1965 tepat pada masa pergolakan PKI, saksi sejarah perdagangan tembakau Gayo ini masih eksis berdiri hingga saat ini.
Menariknya, saat ini Pak Usman biasa disapa menjadi satu-satunya pedagang tembakau yang masih bertahan di lorong tersebut.
Dahulu, sempat ada beberapa pedagang lain yang ikut mengais rezeki dengan berjualan tembakau di lokasi yang sama.
Namun satu per satu dari mereka kini telah gulung tikar dan menutup lapaknya.
Meski zaman telah berubah dan perkembangan tren merokok kian modern mulai dari menjamurnya rokok pabrikan bermerek hingga maraknya penggunaan rokok elektrik atau vape di kalangan generasi muda.
Namun pangsa pasar tembakau tradisional di lapak tunggal milik Pak Usman seolah tidak pernah mati.
Hingga kini, ia masih setia melayani para pelanggannya sendirian, yang mayoritas didominasi oleh kalangan orang tua dan tidak terkecuali para remaja.
Di lapaknya, Pak Usman menyediakan dua jenis tembakau khas Gayo yang paling diburu, yaitu tembakau hijau dan tembakau cokelat (merah).
Seluruh pasokan tembakau tersebut didatangkan langsung dari ladang para petani lokal di Aceh Tengah, seperti dari daerah Bintang, Toeren, dan Kenawat, hingga Pantan Cuaca Bener Meriah.
Untuk harga, tembakau cokelat dipatok seharga Rp 30.000 per ons atau Rp 300.000 per kilogram.
Sementara untuk varian tembakau hijau, dijual dengan harga Rp 25.000 per ons atau Rp 250.000 per kilogram.
Konsistensi Pak Usman menjaga kualitas sejak era 60-an membuatnya mampu mempertahankan penjualan rata-rata hingga 6 kilogram tembakau per hari atau lebih.
Menurut Pak Usman, salah satu daya tarik utama tembakau Gayo miliknya adalah cita rasanya yang nikmat dan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan tembakau dari luar daerah.
Uniknya lagi, karakter rasa tembakau yang dihasilkan di setiap kecamatan di dataran tinggi Gayo ini juga memiliki perbedaan dan kekhasan tersendiri.
Meskipun sekilas jenis tembakau terlihat sama, para penikmat lintingan di daerah ini membedakan kualitas dan seleranya berdasarkan daerah asal komoditas tersebut ditanam.
Maka tak jarang, para pembeli yang datang sudah sangat paham jenis tembakau mana yang sesuai dengan lidah mereka hanya dengan mengetahui desa asalnya di tanam.
Untuk daya tahannya sendiri, tembakau yang sudah kering dengan warna kecoklatan itu disebut bisa disimpan dan bertahan hingga satu tahun lamanya.
Kualitas ini didapat melalui proses pengolahan tradisional yang telaten di tingkat petani yang berpengalaman.
Setelah dipetik, daun tembakau harus melalui proses diperam atau didiamkan terlebih dahulu sebelum dicincang.
Setelah itu, memasuki tahap penjemuran yang memakan waktu hingga lima hari di bawah terik matahari untuk menghasilkan warna cokelat yang matang sempurna dan siap dipasarkan ke para pencinta lintingan di Takengon. (*)
Baca juga: Komunitas Kuda Pacu Tradisional Gayo Salurkan 100 Paket Sembako untuk Korban Bencana di Aceh Tengah
Baca juga: Lewat 10 Juli 2026, BPKK Aceh Tengah Limpahkan Kasus Pelaku Usaha Penunggak Pajak ke PPNS Satpol PP
Baca juga: Isu Tambang Emas Ilegal di Kekuyang Aceh Tengah Ternyata Hoaks, Alat Berat Masuk untuk Kebun Kopi