Kata Dokter Kandungan soal Kondisi Tubuh Saat Kanker Serviks Memasuki Stadium Lanjut
GH News July 04, 2026 09:09 PM
Jakarta -

Setiap tahun, diperkirakan terdapat lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks yang terdeteksi di Indonesia. Ironisnya, sekitar 70 persen dari kasus tersebut baru diketahui pada stadium lanjut, sehingga meningkatkan risiko kematian secara signifikan.

Rendahnya angka deteksi dini menjadi salah satu penyebab utama tingginya kematian akibat kanker serviks.

Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan keganasan sel yang terjadi pada serviks. Kanker serviks berasal dari mukosa di permukaan serviks yang tumbuh secara lokal dan dapat menyebar ke uterus, jaringan paraservikal dan organ panggul.

Kondisi Tubuh saat Terkena Kanker Serviks Stadium Lanjut

Kanker serviks sering disebut sebagai silent killer bagi perempuan. Bukan tanpa alasan, penyakit ini cenderung tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak pengidap yang baru menyadarinya saat kanker sudah memasuki stadium lanjut.

Spesialis obstetri dan ginekologi Prof Dr dr Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp Onk, jika kanker serviks sudah memasuki tahap stadium lanjut atau stadium 4, terdapat sejumlah gejala yang bisa dialami pengidapnya. Salah satunya keputihan tak normal.

"Nah sekarang, keputihan itu ada yang bening. Tapi kalau keputihannya itu sudah berwarna, berwarna putih, berwarna kuning, apalagi sampai berbau. Putih, kuning, ada mikroorganisme atau kuman lain. Kita obati sesuai dengan penyebabnya, kan? " ucapnya saat ditemui di acara konferensi pers terkait Rekeomendasi POGI untuk Vaksin HPV Bagi Perempuan Pranikah dan Pasca Melahirkan, Jakarta Pusat, Selasa (24/6/2026).

"Nah yang parah itu kalau sudah berbau, merah, itu berarti apa? Udah kanker," ucapnya lagi.

Selain keputihan, gejala lain yang perlu diwaspadai adalah perdarahan saat berhubungan intim. Menurut Prof Yudi, jika disertai dengan nyeri saat berhubungan, hal ini bisa menjadi tanda bahwa kanker sudah menyebar keluar dari area mulut rahim.

Pada stadium lanjut, kanker serviks bahkan bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti keluarnya feses dari vagina atau kebocoran saluran kencing. Prof Yudi mengatakan, hal Ini menandakan kanker sudah menembus dinding antara rahim dan saluran pencernaan atau saluran kemih.

"Tambah lagi kalau (kanker) ke depan (kena) saluran kencing, bocor, ngompol terus. Itu sudah stadium 4A dan 4B," ucapnya lagi.

Penyebab Kanker Serviks

Human Papillomavirus (HPV) merupakan penyebab tersering terjadinya kanker serviks pada wanita yang ditularkan melalui kontak seksual. Terdapat 15 tipe HPV yang dapat menyebabkan kanker serviks dan yang paling umum menjadi penyebab kasus kanker serviks adalah HPV tipe 16 dan 18.

HPV ditularkan melalui hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi. Jika infeksi HPV tidak diatasi, sel-sel abnormal pada leher rahim dapat berkembang menjadi kanker seiring berjalannya waktu.

Penularan virus HPV bisa disebabkan akibat oleh berganti- ganti pasangan seksual, ibu hamil yang sudah terdiagnosis kanker serviks menularkan kepada bayinya, serta sering bertukar celana dalam.

Adapun faktor risiko kanker serviks antara lain:

1. Merokok

Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Pada perempuan yang terinfeksi HPV, merokok membuat infeksi cenderung bertahan lebih lama dan lebih sulit hilang. Padahal, sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV.

2. Memiliki banyak pasangan seksual

Risiko terinfeksi HPV meningkat pada seseorang yang memiliki banyak pasangan seksual atau memiliki pasangan yang juga berganti-ganti pasangan seksual. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.

3. Memulai aktivitas seksual pada usia dini

Melakukan hubungan seksual pada usia yang lebih muda dapat meningkatkan risiko terpapar HPV, sehingga risiko kanker serviks juga menjadi lebih tinggi.

4. Mengidap infeksi menular seksual lainnya

Memiliki infeksi menular seksual (IMS), seperti herpes, klamidia, gonore, sifilis, atau HIV-AIDS, dapat meningkatkan risiko infeksi HPV yang berujung pada kanker serviks.

5. Sistem kekebalan tubuh lemah

Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya akibat penyakit tertentu atau kondisi medis lainnya, lebih rentan mengalami infeksi HPV yang menetap. Hal ini dapat meningkatkan risiko berkembangnya kanker serviks.

6. Terpapar obat pencegah keguguran di dalam kandungan

Risiko kanker serviks juga dapat meningkat pada perempuan yang saat masih dalam kandungan ibunya mengonsumsi diethylstilbestrol (DES), obat yang dahulu digunakan untuk mencegah keguguran pada sekitar tahun 1950-an. Paparan DES dikaitkan dengan peningkatan risiko jenis kanker serviks yang disebut clear cell adenocarcinoma.

Pemeriksaan Kanker Serviks

Di samping itu, Prof Yudi menekankan penyakit ini tak perlu ditakuti, namun tetap diwaspadai. Pemeriksaan rutin merupakan langkah penting dalam mencegah kanker serviks sejak dini.

"Malah saya katakan, kanker serviks tidak perlu ditakuti tapi harus diwaspadai. Karena itu masih bisa kita berantas dengan baik," tegasnya.

Adapun pemeriksaan kanker serviks, seperti:

1. Pemeriksaan Pap Smear

Deteksi kanker serviks dengan cara mengambil sampel sel dari leher rahim di ujung vagina untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda kanker tahap awal.

2. Tes HPV

Tujuannya untuk mendeteksi ada tidaknya virus HPV (Human Papillomavirus) pada leher rahim. Analisa bisa dilakukan dengan menggunakan sampel yang sama dengan tes Pap atau mengambil sampel kedua.

3. Biopsi

Jika pada deteksi awal kanker serviks ditemukan tanda-tanda mencurigakan, dokter bisa melanjutkan pengambilan sampel kecil jaringan untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

4. Skrining dengan IVA

Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) merupakan pemeriksaan dengan cara mengoleskan langsung asam asetat atau cuka dapur encer pada leher rahim. Bercak putih akan terlihat setelah 1 menit jika ada sel-sel kanker pada leher rahim.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.