TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Nelayan kerang hijau di Kampung Nelayan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, menghadapi berbagai tantangan yang membuat penghasilan mereka semakin tidak menentu.
Selain hasil panen yang menurun dan harga jual kerang yang merosot, mereka juga harus menghadapi cuaca buruk, tingginya risiko saat menyelam, hingga dugaan pencemaran limbah yang menyebabkan banyak kerang mati.
Salah seorang nelayan kerang, Mistah (42), mengatakan kondisi tersebut sudah beberapa waktu terakhir dirasakan para nelayan di Muara Angke.
Padahal, budidaya kerang membutuhkan modal yang tidak sedikit dan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya bisa dipanen.
"Kalau bikin satu ternak sekitar Rp8 juta. Tapi hasilnya enggak tentu, kadang ada buahnya, kadang enggak ada sama sekali," kata Mistah saat ditemui TribunJakarta.com di Kampung Nelayan Muara Angke, RW 022 Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (3/7/2026).
Pria asal Indramayu itu mengaku telah menjadi nelayan kerang selama hampir 30 tahun sejak merantau ke Muara Angke bersama keluarganya.
Ia meneruskan profesi sebagai nelayan setelah belajar mencari kerang dari mertuanya.
Menurut Mistah, proses budidaya kerang hijau memerlukan waktu yang cukup lama.
Bibit kerang dibiarkan menempel pada tali-tali budidaya yang dipasang di laut menggunakan jangkar, bambu, dan pelampung.
Dalam kondisi normal, kerang baru dapat dipanen setelah lima bulan.
Namun, tidak jarang masa panen molor hingga delapan bulan karena pertumbuhan bibit yang lambat.
"Kadang lima bulan sudah panen, kadang delapan bulan. Tergantung bibitnya. Ada juga yang enggak jadi," ujarnya.
Saat panen, Mistah harus menyelam hingga kedalaman sekitar lima meter menggunakan bantuan selang udara dari kompresor.
Kerang yang menempel di sepanjang tali budidaya dipetik satu per satu sebelum dimasukkan ke dalam wadah dan diangkut ke atas perahu.
Dalam satu kali panen, hasil yang diperoleh tidak selalu sama.
Mistah mengaku panen terbaru menghasilkan sekitar 22 ember kerang.
Namun, kondisi daging kerang saat ini dinilai lebih kecil dibandingkan sebelumnya sehingga berat hasil panen ikut menurun.
"Sekarang lagi kurus kerangnya. Jadi hasilnya juga enggak banyak," katanya.
Setelah dibawa ke daratan, kerang ditimbang terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam karung dan dibawa menuju tempat perebusan.
Usai direbus hingga matang, kerang kemudian dikupas oleh pekerja sebelum akhirnya dijual kepada pengepul.
Meski melalui proses yang panjang, harga jual daging kerang justru mengalami penurunan.
Mistah mengatakan harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp 25 ribu per kilogram kini hanya berkisar Rp 18 ribu hingga Rp 19 ribu per kilogram.
Penurunan harga tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan nelayan.
Menurut Mistah, apabila hasil panen sedang bagus, penghasilan bersih yang dapat dibawa pulang sekitar Rp 200 ribu per hari atau sekitar Rp 2 juta dalam sebulan.
Namun, penghasilan tersebut tidak bersifat tetap karena sangat bergantung pada hasil panen.
"Kalau enggak ada hasil ya enggak ada pemasukan," ujarnya.
Selain menghadapi persoalan ekonomi, pekerjaan sebagai nelayan kerang juga memiliki risiko keselamatan yang tinggi.
Mistah mengaku beberapa kali mengalami kecelakaan saat menyelam.
Salah satu kejadian yang paling diingat terjadi ketika dirinya tertusuk ikan pari saat mencari kerang di kawasan Ancol.
Akibat luka tersebut, ia tidak dapat bekerja selama sekitar satu bulan.
"Sakit, langsung berdarah. Sampai satu bulan enggak kerja. Dibawa ke klinik buat diobati," katanya.
Risiko lainnya datang ketika cuaca memburuk.
Gelombang tinggi membuat nelayan tidak bisa melaut.
Bahkan tali budidaya maupun jangkar yang dipasang di laut bisa putus sehingga harus diperbaiki kembali.
"Kalau cuaca buruk ya enggak bisa berlayar. Tambang sama jangkar juga kadang putus," ujarnya.
Menurut Mistah, tantangan yang kini paling mengkhawatirkan justru berasal dari kondisi lingkungan laut.
Ia mengaku beberapa waktu lalu banyak kerang yang mati diduga akibat limbah yang terbawa aliran sungai menuju laut.
Bahkan, ia menyebut tidak hanya kerang yang terdampak, tetapi juga ikan dan rajungan.
"Waktu itu ada limbah putih kayak susu. Kerang pada mati. Di Pulau G ikan sama rajungan juga banyak yang ngambang," katanya.
Akibat kondisi tersebut, nelayan hanya bisa menunggu hingga bibit kerang tumbuh kembali dan kondisi perairan kembali membaik.
Meski berbagai tantangan terus dihadapi, Mistah mengaku tetap bertahan menjadi nelayan kerang karena tidak memiliki keahlian lain.
Selama hampir tiga dekade, laut telah menjadi tempat dirinya mencari nafkah untuk menghidupi istri dan empat anaknya.
"Kalau kerja di darat saya enggak bisa. Memang dari dulu hidupnya jadi nelayan kerang," ujarnya.
Caption: NELAYAN KERANG - Nelayan kerang hijau di Kampung Nelayan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, menghadapi berbagai tantangan yang membuat penghasilan mereka semakin tidak menentu. (TRIBUNJAKARTA.COM/RIZKI ASDIARMAN).