TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Warga Kampung Barutikung, Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara, melayangkan sindiran satir terkait program pemenuhan pangan dengan memperkenalkan "MBG" atau Makanan Barutikung Gratis. Gerakan swadaya ini muncul di tengah kegelisahan masyarakat pesisir terhadap masifnya ketimpangan lahan Semarang serta bayang-bayang ancaman penggusuran akibat ekspansi industri.
Sindiran tersebut mencuat dalam aksi solidaritas yang diinisiasi oleh Dapur Rakyat Anti Ketimpangan pada Sabtu (4/7/2026). Selain membuka dapur umum gratis, aksi nyata ini juga diisi dengan layanan cek kesehatan gratis serta panggung hiburan musik untuk warga setempat.
"Iya, MBG (Makanan Barutikung Gratis) kami seperti itu, bukan versi pemerintah," ujar Pujiono, salah seorang warga Barutikung, saat ditemui di lokasi acara, Sabtu.
Menurut Pujiono, aksi solidaritas berbasis komunitas ini sangat berarti bagi warga Barutikung yang selama ini merasa jarang tersentuh oleh perhatian pemerintah. Ia mengakui jurang pemisah antara kelompok kaya dan miskin di wilayah tersebut dirasakan semakin melebar dari tahun ke tahun.
Baca juga: Dari Banyumas, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen Tegaskan Peran Strategis Pendidikan Agama
Ancaman Penggusuran dan Dampak Tol Tanggul Laut
Koordinator Hubungan Masyarakat (Humas) Dapur Rakyat Anti Ketimpangan, Kornel, menegaskan bahwa pemilihan Kampung Barutikung sebagai titik aksi bukanlah tanpa alasan. Kampung yang mayoritas dihuni oleh buruh dan nelayan ini dinilai menjadi salah satu simbol nyata perlawanan terhadap ketimpangan lahan Semarang.
Kornel mengungkapkan, saat ini warga Barutikung tidak memiliki alas hak atas tanah yang mereka tinggali. Kondisi ini membuat pemukiman mereka berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap penggusuran, terutama setelah rampungnya proyek strategis Tol Tanggul Laut Semarang-Demak.
"Warga di sini mengalami ketimpangan kepemilikan lahan yang membuat mereka rentan digusur. Terlebih sekarang ada ekspansi industri, wilayah pesisir ini diprediksi bakal jadi rebutan para pemodal besar," terang Kornel.
Ia menambahkan, gerakan Dapur Rakyat Semarang ini dibentuk sebagai respons langsung atas situasi nasional saat ini, di mana masyarakat kelas bawah kian kesulitan mengakses fasilitas kesehatan layak, menghadapi lonjakan harga pangan, hingga minimnya akses hiburan yang terjangkau.
Melawan Stigma Negatif Melalui Solidaritas
Selain persoalan agraria dan kerentanan ekonomi, aksi solidaritas ini juga mengusung misi untuk mematahkan stigma negatif yang selama ini melekat pada Kampung Barutikung. Wilayah ini kerap dicap miring oleh publik sebagai kawasan premanisme.
Baca juga: Terungkap! Ini Alasan Pemakaman Ali Khamenei Tertunda 4 Bulan dan Cara Iran Jaga Jenazah Tetap Utuh
"Kami sudah membuktikannya sendiri hari ini, stigma itu salah total. Di sini ikatan persaudaraan dan rasa tolong-menolong antarwarga justru sangat kuat," tegas Kornel.
Ke depan, gerakan Dapur Rakyat Semarang berencana untuk menggelar aksi serupa secara bergilir ke sejumlah kampung padat penduduk lainnya di Kota Atlas yang memiliki kerentanan serupa.
Melalui kerja-kerja kolektif ini, diharapkan dapat terbangun jaringan solidaritas dan kekuatan yang solid antar-kampung kota. Sehingga, jika sewaktu-waktu ancaman penggusuran atau hilangnya mata pencaharian akibat kebijakan sepihak datang, warga telah memiliki basis pertahanan sosial yang kuat.
"Karena pada akhirnya, yang bisa mengubah nasib dan memperjuangkan hak para korban ketimpangan adalah korban itu sendiri," pungkas Kornel. (Iwn)