Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) mendorong penguatan perdagangan antardaerah sebagai strategi memperkokoh ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian dan gejolak perekonomian global.

Ketua Umum Apkasi Bursah Zarnubi mengatakan pasar domestik Indonesia perlu dioptimalkan melalui penguatan konektivitas perdagangan antarkabupaten, pemangkasan rantai pasok, dan percepatan hilirisasi komoditas unggulan daerah.

"Perdagangan antardaerah harus menjadi kekuatan ekonomi nasional," kata Bursah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, penguatan pasar domestik semakin penting ketika perekonomian global masih menghadapi berbagai tekanan yang berpotensi memengaruhi arus perdagangan dan investasi.

Ia menilai daerah perlu membangun jaringan ekonomi yang saling terhubung dengan mempertemukan wilayah surplus produksi dan daerah yang membutuhkan pasokan.

"Kabupaten memiliki basis produksi pangan, pertanian, perkebunan, dan berbagai komoditas unggulan yang jika dihubungkan dengan pasar secara lebih terintegrasi akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata," ujar dia.

Pola perdagangan tersebut dinilai dapat memperlancar distribusi barang, menjaga ketersediaan komoditas pangan, sekaligus mendukung pengendalian inflasi di daerah.

Bursah mengatakan pihaknya terus memperkuat peran sebagai mediator perdagangan antardaerah dengan mempertemukan pemerintah kabupaten, dunia usaha, dan calon investor.

"Kerja sama antardaerah harus menghasilkan transaksi nyata. Kekuatan ekonomi Indonesia dimulai dari daerah, terutama kabupaten yang selama ini menjadi sentra produksi berbagai komoditas strategis," ujarnya.

Ia menambahkan penguatan ekonomi kabupaten juga perlu diarahkan pada hilirisasi agar daerah penghasil memperoleh nilai tambah lebih besar dari komoditas yang diproduksi.

Menurut dia, pembangunan ekonomi daerah tidak dapat terus bergantung pada sektor ekstraktif maupun pola perdagangan komoditas mentah tanpa pengolahan.

Industri pengolahan, lanjut dia, perlu tumbuh lebih dekat dengan sentra produksi sehingga dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan melahirkan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kabupaten.

Bursah yang juga Bupati Lahat mencontohkan potensi kopi di Kabupaten Lahat dengan produksi sekitar 300.000 ton per tahun yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui industri hilir.

"Kalau komoditas diolah di daerah asal, nilai tambahnya juga tinggal di daerah. Masyarakat mendapatkan pekerjaan, usaha baru tumbuh, dan ekonomi kabupaten menjadi semakin kuat," tuturnya.

Direktur Eksekutif Apkasi Sarman Simanjorang mengatakan penguatan perdagangan antardaerah dilakukan melalui konsep supply meeting demand atau mempertemukan langsung potensi produksi daerah dengan kebutuhan pasar dan pelaku usaha.

Ia menyebut sejumlah kabupaten memiliki komoditas unggulan yang berpotensi diperluas pasarnya, antara lain beras, kelapa dalam, dan udang dari Kabupaten Banyuasin, jagung dari Kabupaten Gorontalo, serta bawang merah dari Kabupaten Brebes.

Kabupaten Deli Serdang juga disebut memiliki kekuatan pada sektor pertanian dan perkebunan sebagai wilayah penyangga Kota Medan.

"Yang ingin kita bangun adalah pertemuan langsung antara daerah yang memiliki produk dengan pihak yang membutuhkan. Dari sana harus lahir perdagangan, investasi, dan hilirisasi," kata Sarman.

Upaya mempertemukan potensi daerah dengan kebutuhan pasar tersebut salah satunya dilakukan Apkasi melalui Forum Bisnis Daerah (Forbisda) 2026 bersama Kadin Indonesia di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Ia menyebutkan bahwa forum tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan perdagangan antardaerah, termasuk kerja sama Deli Serdang dan Simalungun untuk mendukung pengendalian inflasi serta kerja sama Simalungun dan Langkat guna meningkatkan perdagangan regional.

Kolaborasi dengan dunia usaha juga dibangun melalui kesepakatan perdagangan komoditas bawang merah antara pelaku usaha dari Sumatera Utara dan Kabupaten Brebes yang diarahkan untuk memperkuat distribusi pangan serta memperpendek rantai pasok.

Dalam forum tersebut, pemerintah kabupaten dipertemukan dengan pelaku usaha nasional untuk menjajaki peluang investasi dan kerja sama bisnis sehingga pemasaran serta hilirisasi komoditas unggulan daerah dapat berjalan lebih cepat.

Apkasi menilai sinergi pemerintah daerah dan dunia usaha perlu terus diperluas agar pasar domestik Indonesia semakin terintegrasi dan mampu menjadi penyangga perekonomian nasional.

"Target akhirnya bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman. Kita ingin ada arus barang, investasi masuk ke daerah, industri hilir tumbuh, harga lebih stabil, dan manfaat ekonomi dirasakan masyarakat," ujar Bursah.