TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Bagi para pengguna setia KRL Commuter Line di Stasiun Bogor, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Paledang bukan sekadar struktur besi tua.
Selama hampir tiga dekade, jembatan ini menjadi saksi bisu langkah kaki ribuan kaum pelaju yang bergegas mengejar kereta setiap pagi dan sore hari.
Namun, per Juni 2026 kemarin, riwayat jembatan ikonik ini resmi berakhir.
JPO Paledang kini sudah selesai dibongkar total oleh Pemerintah Kota Bogor melalui proyek pengadaan langsung senilai Rp342 juta dari APBD 2026 murni.
Berdiri Sejak 1996
Menengok sejarahnya, JPO Paledang pertama kali berdiri pada tahun 1996.
Selama hampir 30 tahun, ia menjadi urat nadi penting yang menghubungkan wilayah Paledang langsung menuju Stasiun Bogor.
Meski sangat dibutuhkan, jembatan ini menyimpan cerita kelam yang melekat di ingatan warga lokal.
Salah satu yang paling diingat adalah gradien anak tangganya yang sangat curam, yakni di atas 30 derajat.
Saking tegaknya tangga tersebut, warga setempat sampai menjulukinya sebagai "JPO Aborsi".
Julukan ekstrem ini muncul bukan tanpa alasan. Konon sempat ada kabar ibu hamil mengalami keguguran setelah kelelahan menaiki tangganya yang menyiksa fisik.
Tak hanya soal tangga curam, seiring berjalannya waktu, JPO Paledang juga bertransformasi menjadi area yang kumuh dan rawan.
Baca juga: Pembongkaran JPO Paledang Selesai, Pekerja PUPR Sudah Mulai Ukur Trotoar, Zebra Cross Menyusul
Copet sering beraksi di sana, sementara para Pedagang Kaki Lima (PKL) liar perlahan mengokupasi area penyeberangan.
Menua, Rusak, dan Jadi 'Warung Gantung'
Sebelum akhirnya dirobohkan, kondisi fisik JPO Paledang memang sudah sangat memprihatinkan.
Atapnya nyaris hilang, lantainya berlubang, dan besi penyangganya pun dipenuhi karat yang menggerogoti kekuatan struktur jembatan.
Uniknya, di tengah keterpurukan fisik itu, kreativitas PKL lokal justru muncul.
Besi-besi jembatan yang berlubang dan berkarat dimanfaatkan oleh pedagang kopi dan makanan untuk menggantungkan barang dagangan mereka.
JPO yang rusak itu pun mendadak tampak seperti warung gantung. Ada yang berjualan casing HP, camilan, hingga kopi seduh.
Melihat bahaya yang mengintai, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Ditjen Bina Marga akhirnya mengeluarkan hasil penelitian kelayakan konstruksi yang menyatakan jembatan ini sudah tidak layak pakai.
Pemkot Bogor pun resmi menutup total akses JPO ini sejak Rabu, 20 Agustus 2025 lalu.
Mengadopsi Konsep Sudirman-Thamrin
Lalu, bagaimana nasib para pejalan kaki sekarang?
Pemkot Bogor berencana mengubah konsep penyeberangan di kawasan tersebut menjadi lebih modern dan ramah pejalan kaki, mengadopsi gaya kawasan Sudirman-Thamrin di Jakarta.
JPO akan digantikan oleh Pelican Cross (zebra cross yang dilengkapi lampu rambu penyeberangan).
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, sempat menekankan bahwa langkah ini diambil untuk mendidik para pengendara agar lebih menghargai pejalan kaki.
Kendaraan roda dua maupun roda empat dipaksa untuk mengerem dan berbagi jalan saat ada masyarakat yang menyeberang.
Baca juga: JPO Paledang Kota Bogor Bakal Diganti Pelican Cross, Dedie Rachim: Lebih Ramah Pejalan Kaki
Di situlah letak nilai solidaritas kemanusiaan kota modern.
Meski begitu, fasilitas Pelican Cross tampaknya belum akan terpasang dalam waktu dekat karena pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor masih harus mengajukan anggarannya terlebih dahulu.
Sebagai solusi darurat, area penyeberangan zebra cross di bawah bekas jembatan segera dicat ulang agar pejalan kaki tetap bisa menyeberang dengan aman menuju stasiun.
JPO Paledang kini memang sudah hilang dari cakrawala Kota Bogor, namun kisah tangganya yang curam dan hiruk-pikuk warung gantungnya akan tetap hidup dalam ingatan para pelaju Kota Hujan.