Laser 'Sinar Besi' Israel Resmi Dipakai, Bisa Tembak Drone dan Rudal Iran dari Pesawat Tempur
Ansari Hasyim July 05, 2026 11:03 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Israel bersiap membawa sistem pertahanan laser Iron Beam atau Sinar Besi ke level yang lebih tinggi.

Setelah terbukti mampu mencegat drone, roket, dan mortir dari darat, teknologi laser itu kini akan dipasang pada berbagai platform udara, termasuk pesawat tempur dan helikopter.

Langkah tersebut diungkapkan CEO Elbit Systems dalam presentasi hasil tahunan perusahaan.

Elbit menyatakan telah memperoleh kontrak untuk mengintegrasikan sistem laser berenergi tinggi ke sejumlah wahana udara.

Sebelumnya, pada 2021, Elbit telah mendemonstrasikan kemampuan teknologi tersebut dengan memasang laser pada pesawat turboprop Cessna bermesin tunggal.

Dalam uji coba itu, sistem berhasil mencegat beberapa pesawat tanpa awak (UAV).

Baca juga: Usai Khamenei Tewas, Iran Berubah Total: Mojtaba Pilih Jalur Perang Lawan AS dan Israel

Iron Beam sendiri mulai digunakan secara operasional sejak 2024.

Dikembangkan oleh Rafael dan Elbit Systems, sistem laser berkekuatan 100 kilowatt itu dirancang sebagai solusi pertahanan terhadap ancaman drone, rudal, dan mortir dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan penggunaan rudal pencegat konvensional.

Keunggulan biaya menjadi faktor penting di tengah maraknya penggunaan drone murah dalam berbagai konflik modern.

Dengan menggunakan laser, setiap intersepsi hanya membutuhkan energi listrik, sehingga ongkos operasional jauh lebih rendah dibandingkan sistem pertahanan udara berbasis rudal.

Cara Kerja Laser Iron Beam

Rafael dan Elbit telah mengembangkan konsep agar Iron Beam dapat dipasang pada pesawat tempur F-15 maupun helikopter UH-60.

Selain memperluas jangkauan serangan, pemasangan di udara juga memungkinkan pesawat memiliki kemampuan melindungi diri dari rudal maupun roket yang datang.

Berbeda dengan laser konvensional yang menggunakan satu pancaran besar, Iron Beam memanfaatkan ratusan sinar laser kecil seukuran koin.

Seluruh sinar tersebut diarahkan menggunakan sistem penargetan termal menuju sasaran.

Setelah target terdeteksi, semua sinar kecil akan difokuskan ke satu titik yang sama sehingga menghasilkan energi sangat besar dalam hitungan detik untuk membakar dan menghancurkan sasaran.

Pendekatan ini juga mengurangi gangguan atmosfer yang selama ini menjadi kelemahan laser berbasis darat.

Saat dipasang di pesawat yang terbang pada ketinggian lebih tinggi, hambatan akibat suhu dan kepadatan udara menjadi jauh lebih kecil sehingga efektivitas laser meningkat.

Senjata Laser Juga Dikembangkan Negara Lain

Teknologi senjata laser tidak hanya dikembangkan Israel. Amerika Serikat telah lama menguji berbagai sistem laser berdaya tinggi, termasuk proyek Boeing YAL-1 yang memasang laser kimia pada pesawat Boeing 747 untuk mencegat rudal balistik.

Program tersebut sempat berhasil menghancurkan dua rudal uji pada 2010, tetapi akhirnya dihentikan karena biaya pengembangannya yang sangat mahal.

Angkatan Udara AS juga pernah mengembangkan program Self-Protect High Energy Laser Demonstrator (SHiELD), namun proyek itu tidak pernah mencapai tahap operasional.

Kini, pengembangan terbaru Amerika berfokus pada program Next Generation Air Dominance (NGAD).

Pesawat tempur generasi baru F-47 disebut akan dibekali laser pertahanan berkekuatan tinggi yang dirancang untuk menghancurkan rudal yang mengancam pesawat.

Sementara itu, teknologi laser juga mulai diterapkan di sektor maritim. Angkatan Laut Amerika Serikat telah menguji sistem HELIOS buatan Lockheed Martin di kapal perang USS Preble, sedangkan Angkatan Laut Kerajaan Inggris berencana melengkapi kapal perusak Type 45 dengan senjata laser DragonFire.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.