Ratusan warga memadati Wantilan Serbaguna Pasar Yadnya Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Minggu 5 Juli 2026, untuk mengikuti Bhakti Sosial Operasi Katarak Nasional yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Wilayah Bali.
Mereka datang dari berbagai wilayah di Bali.
Salah seorang warga, I Made Sura Arta, asal Banjar Pande, Desa Blahbatuh, mengaku datang untuk memeriksakan kondisi matanya setelah penglihatannya mulai kabur saat membaca.
"Sekarang kalau membaca agak kabur. Saya dengar ada pemeriksaan ini dari orang-orang di warung sekitar tiga hari lalu saat belanja, jadi saya langsung menyempatkan datang ke sini," ujarnya.
Operasi katarak ini juga dimanfaatkan oleh sejumlah masyarakat pendatang, yang tak memiliki BPJS Kesehatan.
Mereka bahkan datang Denpasar agar bisa menjalani operasi secara gratis.
Ketua PERDAMI Bali, dr. Cokorda Istri Dewiyani P, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari Bulan Bakti PERDAMI ke-2 yang digelar serentak secara nasional dalam rangka Hari Bakti PERDAMI ke-62.
Di Gianyar, panitia menargetkan dapat menjaring sekitar 200 peserta untuk menjalani pemeriksaan mata.
Dari hasil skrining, sekitar 20 pasien diproyeksikan memenuhi syarat menjalani operasi katarak.
Ketua Panitia Bhakti Sosial, dr. Cynthia Dewi M, menjelaskan peserta yang dinyatakan layak akan menjalani operasi sesuai indikasi medis dengan tetap mengutamakan keselamatan pasien.
Menurut dr. Cokorda, kesadaran masyarakat Bali terhadap kesehatan mata saat ini tergolong baik.
Masyarakat dinilai tidak lagi menunggu kondisi parah sebelum memeriksakan mata, melainkan langsung datang ke fasilitas pelayanan kesehatan saat mulai merasakan gangguan.
Ia juga menyebut jumlah dokter spesialis mata di Bali kini telah mencapai lebih dari 100 orang sehingga pelayanan kesehatan mata semakin mudah diakses masyarakat.
Lebih lanjut dijelaskan, katarak umumnya terjadi akibat proses penuaan. Namun, kondisi tersebut juga dapat dialami anak-anak bahkan bayi akibat faktor bawaan.
Selain usia, paparan sinar matahari, pola makan, penyakit diabetes, hingga penggunaan obat-obatan yang mengandung steroid juga menjadi faktor risiko terjadinya katarak.
Meski demikian, angka kebutaan akibat katarak di Bali relatif kecil karena dapat ditangani melalui operasi.
Justru, penyakit glaukoma menjadi ancaman yang lebih diwaspadai karena dapat menyebabkan kebutaan permanen apabila terlambat ditangani.
Dalam kesempatan itu, PERDAMI juga mengingatkan masyarakat mengenai dampak penggunaan gawai yang semakin tinggi. Paparan layar dalam waktu lama dapat memicu gangguan refraksi seperti rabun jauh, mata silinder, maupun keluhan penglihatan lainnya.
Mengacu pada proyeksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 50 persen penduduk dunia diperkirakan akan mengalami gangguan penglihatan akibat penggunaan perangkat digital dalam 50 tahun mendatang.
Karena itu, masyarakat diimbau menerapkan kebiasaan sehat saat menggunakan gawai.
Salah satunya dengan membatasi waktu menatap layar sekitar 20 menit, kemudian mengistirahatkan mata sejenak dengan mengalihkan pandangan ke objek yang berada di kejauhan agar otot mata tetap rileks.
Secara nasional, Bulan Bakti PERDAMI ke-2 berlangsung pada 5 Juli hingga 5 Agustus 2026 dengan mengusung tema "One Doctor One Sight".
Gerakan ini mengajak seluruh dokter spesialis mata di Indonesia berkolaborasi memperluas akses operasi katarak gratis bagi masyarakat, sekaligus mendukung target penurunan angka kebutaan yang dapat dicegah di Indonesia. (*)