TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian Katolik Minggu 5 Juli 2026.
Tema renungan harian katolik "mari rendah hati ".
Renungan harian katolik disiapkan untuk hari biasa pekan XIV Tahun A.
Hari Minggu biasa XIV dengan warna liturgi hijau.
Bacaan hari Minggu: BcE Za. 9:9-10; Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; Rm. 8:9,11-13; Mat. 11:25-30 dan BcO Ams 1:1-7.20-33.
Baca juga: Panduan Tata Perayaan Ekaristi Minggu 5 Juli 2026 Pekan Biasa XIV Tahun A
L : Bacaan dari Kitab Zakharia.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U : Syukur kepada Allah.
MENDARASKAN MAZMUR TANGGAPAN
Refren (Mzm. 145:1)
Aku hendak memuji nama-Mu, ya Allah Rajaku, selama-lamanya.
Mzm. 145:1–2, 8–9, 10–11, 13cd–14
Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja; aku hendak memuji nama-Mu untuk selama-lamanya.
Setiap hari aku hendak memuji Engkau, hendak memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya. (Refren)
TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.
TUHAN itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. (Refren)
Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau.
Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu. (Refren)
TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.
TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk. (Refren)
BACAAN KEDUA (Rm. 8:9, 11–13)
L : Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma.
Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.
Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.
Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U : Syukur kepada Allah.
ALLELUIA (Mat. 11:25)
P : Alleluia.
U : Alleluia.
P : Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Engkau nyatakan kepada orang kecil.
U : Alleluia.
INJIL (Mat. 11:25–30)
P : Marilah kita bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut Matius.
Pemimpin dan semua yang hadir membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi, mulut, dan dada. Kemudian Pemimpin membacakan Injil.
Pada waktu itu berkatalah Yesus:
"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."
P : Demikianlah Injil Tuhan.
U : Terpujilah Kristus.
RENUNGAN HARIAN KATOLIK
"rendah hati dan lemah lembut"
Bacaan Injil mengisahkan kepada kita ajakan Yesus untuk datang kepada-Nya. Kita dalami dua poin dari ajakan Yesus ini.
Pertama, memikul kuk milik Yesus.
Kuk adalah alat yang diletakkan pada hewan untuk menarik bajak. Biasanya, kuk itu diletakkan pada leher dua ekor hewan sehingga keduanya bisa menarik bajak dengan lebih mudah. Yesus memberikan gambaran yang sama kepada kita. Dia mau memasangkan kuk pada kita. Maksudnya adalah Dia ingin bersama-sama memikul beban kita. Yesus mau agar kita berbagi beban dengan-Nya. Dia tahu apa artinya penderitaan, karenanya Dia mau agar orang itu mendapatkan kelegaan.
Ungkapan Yesus bahwa Ia ingin melegakan hati kita juga memiliki arti bahwa Dia ingin kita lega dan terbebas dari dosa-dosa kita. Ketika kita melakukan dosa, kita merasa tidak nyaman atau tidak tenang. Kita merasa bahwa hidup kita dimata-matai. Kita menjadi terbeban. Yesus mengajak kita untuk datang kepada-Nya, mengakui beban dosa itu, dan membiarkan Dia memikulnya agar kita bisa memulai kehidupan baru dengan hati yang lega.
Pertanyaannya, seberapa sering kita datang kepada Tuhan dan mengakui dosa-dosa kita?
Kedua, belajar dari Yesus.
Yesus mengatakan bahwa Dia adalah pribadi yang lemah lembut dan rendah hati. Bacaan pertama juga mengungkapkan kepada kita bahwa Tuhan kita adalah Raja yang rendah hati.
Rendah hati berarti menerima semua orang apa adanya, sama seperti Yesus. Orang yang rendah hati tidak menghakimi orang lain, tetapi berani belajar yang baik dari orang lain. Orang yang rendah hati selalu berupaya melakukan yang terbaik bagi orang lain dan menghindarkan yang buruk bagi orang lain. Ia tidak memegahkan dirinya sendiri, tetapi selalu bersyukur bahwa ia adalah orang kecil dan Tuhan berkarya melaluinya. Orang yang demikian selalu mendekati sesama dengan hati yang lembut.
Di tengah dunia yang penuh dengan kekerasan saat ini, ajakan untuk rendah hati dan lemah lembut adalah ajakan yang melawan arus. Kita kadang-kadang mengalami bahwa ketika kita rendah hati, orang lain terus menindas kita atau tidak memperhitungkan kita. Ketika kita lemah lembut, orang lain tidak peduli dengan kita.
Yesus mengajak kita untuk memulainya dari diri kita sendiri. Kerendahan hati dan kelemahlembutan adalah kunci memenangkan hati. Karena hati hanya bisa didekati dengan hati, bukan dengan kekerasan atau pemaksaan. Orang yang melakukan kekerasan tidak akan pernah memenangkan hati. Ia sebenarnya sudah gagal dalam memenangkan hati.
Mari kita memulainya dari dalam rumah kita, dari dalam keluarga kita untuk saling mendengarkan. Semoga kekerasan juga dijauhkan dari dalam keluarga kita, entah itu kekerasan fisik maupun kekerasan melalui kata-kata. Semoga Tuhan membantu kita menjadi pribadi-pribadi yang lemah lembut dan rendah hati. (sumber Oleh: P. Petrus Cristologus Dhogo, SVD/kgg).