Alasan Ari Tega Habisi Cewek Lumajang Kekasihnya, Polisi Ungkap Detik-detik Penganiayaan Korban
Putra Dewangga Candra Seta July 05, 2026 12:32 PM

 

SURYA.co.id, LUMAJANG – Kasus pembunuhan yang menewaskan Merinda Tri Agustin (22) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, akhirnya berhasil diungkap polisi.

Pelaku yang merupakan kekasih korban, Ari (18), ditangkap kurang dari 24 jam setelah jasad korban ditemukan di rumahnya di Desa Kalipenggung, Kecamatan Randuagung.

Hasil penyelidikan mengungkap bahwa aksi pembunuhan tersebut dipicu oleh pertengkaran yang terjadi sesaat setelah keduanya menghabiskan waktu bersama.

Polisi menyebut emosi pelaku memuncak ketika korban memarahi dirinya karena bermain ponsel dan kemudian melontarkan ejekan terhadap orang tua pelaku.

Kondisi itu membuat pelaku kehilangan kendali hingga melakukan aksi kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa korban.

Polisi juga mengungkap rangkaian kejadian sebelum pembunuhan berlangsung.

Seluruh fakta tersebut menjadi bagian penting dalam penyidikan kasus yang kini masih terus didalami.

Pelaku kini telah ditahan dan dijerat dengan proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Alasan Pelaku Nekat Habisi Korban Terungkap

DITANGKAP - Ari (18) saat diamankan di Mapolres Lumajang, Jawa Timur pada Jumat (3/7/2026). Pria ini membunuh pacarnya, Merinda Tri Agustin (22) di rumah korban, di Desa Kalipenggung, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada Jumat (3/7/2026). Motif pembunuhan dipicu sakit hati karena ejekan terhadap orang tua pelaku
DITANGKAP - Ari (18) saat diamankan di Mapolres Lumajang, Jawa Timur pada Jumat (3/7/2026). Pria ini membunuh pacarnya, Merinda Tri Agustin (22) di rumah korban, di Desa Kalipenggung, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada Jumat (3/7/2026). Motif pembunuhan dipicu sakit hati karena ejekan terhadap orang tua pelaku (Surya.co.id/Imam Nahwawi)

Kasatreskrim Polres Lumajang, AKP M. Ari Nuzul Aulia, menjelaskan bahwa pembunuhan dipicu oleh pertengkaran yang berlangsung di rumah korban pada Kamis (2/7/2026) malam.

Sebelumnya, pelaku dan korban bertemu sekitar pukul 19.00 WIB untuk makan bersama di wilayah Kecamatan Lumajang. Setelah itu, pelaku mengantar korban pulang ke rumah sekitar pukul 21.30 WIB.

Menurut penyidik, setelah tiba di rumah korban, keduanya sempat melakukan hubungan intim sebanyak dua kali.

"Setelah itu, korban dan tersangka melakukan hubungan badan sebanyak dua kali," ujar AKP M. Ari Nuzul Aulia, Minggu (5/7/2026).

Namun suasana berubah ketika korban melihat pelaku terus memainkan telepon genggamnya. Korban kemudian menegur hingga terjadi adu mulut.

Dalam pertengkaran tersebut, korban disebut melontarkan kata-kata yang menghina orang tua pelaku. Ucapan itu membuat pelaku tersulut emosi hingga akhirnya melakukan tindakan fatal.

Baca juga: Tabiat Ari Pelaku Pembunuhan Tragis Cewek Lumajang, Baru 1 Tahun Pacari Korban, Sering Cekcok

Pelaku Sempat Keluar Rumah untuk Mengambil Kayu

Polisi mengungkap tindakan pelaku bukan dilakukan secara spontan dalam hitungan detik. Setelah pertengkaran memanas, pelaku sempat keluar dari rumah korban.

Ia mengambil sepotong kayu yang kemudian dijadikan alat untuk melakukan penganiayaan.

"Korban marah dan mengejek orang tua pelaku, setelah itu pelaku keluar dari rumah korban untuk mengambil kayu, lalu balik lagi dan memukul korban sebanyak tiga kali," terang AKP Ari.

Pukulan tersebut mengakibatkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian.

Jasad Merinda kemudian ditemukan dalam kondisi terlentang di atas kasur tanpa busana di rumahnya pada Jumat (3/7/2026).

Pelaku Ditangkap Kurang dari 24 Jam

Usai menerima laporan penemuan jenazah korban, jajaran Polres Lumajang langsung melakukan penyelidikan intensif.

Hasil olah tempat kejadian perkara serta pemeriksaan sejumlah saksi mengarah kepada Ari sebagai pelaku.

Polisi akhirnya menangkap pelaku di rumahnya sendiri yang letaknya tidak jauh dari rumah korban.

Menurut penyidik, kedekatan lokasi tempat tinggal keduanya mempercepat proses pengungkapan perkara.

AKP Ari menjelaskan, setelah mengantar korban pulang menggunakan sepeda motor, pelaku sempat kembali ke rumahnya untuk menyimpan kendaraan.

Selanjutnya, ia berjalan kaki menuju rumah korban.

"Jarak rumah pelaku dan korban sangat dekat, karena setelah pelaku mengantar korban di rumahnya, lalu ke rumah pelaku naruh motor. Setelah itu pelaku jalan kaki ke rumah korban," jelasnya.

Kini pelaku telah ditahan di Polres Lumajang dan menjalani proses hukum atas dugaan tindak pidana pembunuhan.

Kasus pembunuhan di Lumajang ini menunjukkan bagaimana konflik pribadi yang tidak mampu dikendalikan dapat berubah menjadi tindak kriminal dengan konsekuensi sangat berat.

Berdasarkan keterangan kepolisian, pertengkaran yang bermula dari persoalan sederhana berkembang menjadi kekerasan setelah pelaku mengaku tersinggung oleh ucapan korban.

Meski demikian, dugaan motif tersebut merupakan hasil penyelidikan sementara berdasarkan keterangan yang telah dihimpun penyidik.

Proses hukum masih berlangsung, sehingga seluruh fakta akan diuji lebih lanjut dalam persidangan. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa penyelesaian konflik melalui kekerasan tidak pernah dapat dibenarkan dan justru membawa dampak hukum maupun sosial yang berkepanjangan.

Pesan WA Terakhir Merinda

Sebuah pesan WhatsApp yang dikirim Merinda Tri Agustin (22) kepada pamannya pada Kamis (2/7/2026) malam kini menjadi kenangan sekaligus penyesalan yang terus membekas.

Merinda, warga Dusun Krajan, Desa Kalipenggung, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berpamitan akan menginap di rumah temannya di Kota Lumajang.

Namun, keesokan harinya, perempuan muda itu justru ditemukan tewas tanpa busana di rumah orang tuanya.

Polisi kemudian mengungkap, korban diduga dibunuh oleh pacarnya sendiri, Ari, yang masih satu RT dengan korban.

Tribun Jatim Network melalui program Saksi Kata mewawancarai paman korban, Saniman, di kediamannya di Desa Kalipenggung, Sabtu (4/7/2026).

Saniman mengaku sempat membaca pesan WhatsApp dari keponakannya yang berpamitan untuk menginap.

Namun, ia memilih tidak membalas karena sebelumnya sudah berpesan agar Merinda tidak menginap di luar rumah.

"Saya baca, cuma tidak saya balas. Karena saya sudah bilang jangan nginap, walaupun malam harus tetap pulang," ujarnya.

Ia sebenarnya berniat menghubungi korban agar segera pulang.

Namun, niat itu diurungkan karena khawatir perjalanan malam justru membahayakan keponakannya.

"Kok sudah terlalu malam, takut ada apa apa di jalan kalau pulang, apalagi tempatnya jauh. Jadi saya biarin saja," ulasnya.

Keesokan harinya, Jumat (3/7/2026), Saniman mengira Merinda langsung berangkat bekerja di toko perhiasan di Kecamatan Randuagung, sebagaimana kebiasaannya setiap selesai menginap di rumah teman.

"Jadi saya biarkan," imbuhnya.

Tanpa disangka, setelah Salat Jumat, ia justru dijemput adik iparnya untuk menuju rumah orang tua korban.

Saat itu keluarga hanya memberi tahu Merinda mengalami kecelakaan.

Belakangan diketahui, kabar tersebut sengaja disampaikan agar Saniman tidak terlalu terkejut mengingat ia memiliki riwayat penyakit jantung.

"Tidak tahunya di sana sudah rame, jadi tahunya kejadian ketika sudah banyak orang dan polisi di TKP," ulasnya.

Menurut Saniman, awal mula terungkapnya kasus tersebut bermula ketika pelaku menghubungi Eka, tetangga sekaligus teman dekat korban.

Pelaku meminta Eka mengecek kondisi Merinda di rumah karena ponselnya tidak aktif saat dihubungi.

"Akhirnya temannya itu ke rumah korban, dan melihat korban sudah tergeletak meninggal dunia. Saat itu langsung menghubungi RT/RW kepala dusun sudah. Saat itu pelaku (pacar korban) juga ikut melaporkan kejadian di Polsek Randuagung," bebernya.

Meski tidak mengetahui secara pasti hubungan asmara korban, Saniman mengaku mendapat informasi dari warga, jika korban dan pelaku beberapa kali terlibat pertengkaran sebelum peristiwa tragis tersebut.

"Sempat cekcok adu mulut antara korban dan pelaku itu, tidak tahu masalahnya apa. Itu sebelum kejadian," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.