SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Belakangan ini, kuliner malam di Kota Malang lumayan digandrungi masyarakat.
Kalangan pengusaha makanan dan minuman rela membuka warungnya dari malam hingga menuju pagi.
Berbagai pilihan makanan bisa didapat dengan mudah saat malam hari.
Mulai dari angsle dan ronde yang memang menjadi kuliner khas Malang, kemudian ada rawon pecel hingga aneka warung kaki lima dan kafe yang buka hingga larut malam.
Fenomena ini bahkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan mahasiswa yang memang mendominasi kota yang dijuluki sebagai kota pendidikan ini.
Dosen Program Studi Tata Boga Universitas Negeri Malang (UM), Rina Rifqie Mariana, menilai berkembangnya kuliner malam menjadi indikator positif bagi sektor gastronomi di Kota Malang, utamanya Malang Raya.
Menurutnya, Kota Malang memiliki modal kuat karena dikenal sebagai kota pendidikan sekaligus kota kuliner.
Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia turut menjadi penggerak utama tumbuhnya usaha kuliner yang beroperasi hingga malam hari.
Baca juga: Aston Hotel Hadir di Malang, Tersedia Kamar Penthouse dan Kuliner Timur Tengah, Sambut Piala Dunia
"Mahasiswa di Kota Malang jumlahnya sangat banyak, baik dari perguruan tinggi negeri maupun swasta."
"Mereka menjadi salah satu penggerak ramainya kuliner malam karena kebutuhan dan gaya hidup mereka memang banyak yang beraktivitas hingga malam," kata Rina Rifqie Mariana kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (4/7/2026).
Ada banyak spot kuliner malam yang cukup digandrungi oleh masyarakat.
Seperti Nasi Rawon Mbak Ten, yang berjualan di Jalan Borobudur Blimbing Kota Malang, yang bukanya mulai pukul 01.00 dini hari.
Kemudian di daerah Cukam, Jodipan, ada warung Suradi yang khas dengan pecel rawonnya.
Lalu ada juga Warung Mami Cukam, yang kini berjualan di rumahnya di daerah Polehan Kota Malang.
Begitu juga di daerah Kedungkandang, tepatnya di depan pasar Kedungkandang ada pecel rawon dan nasi campur yang menjadi idaman masyarakat sejak lama.
Selain itu, ada Warung Subuh yang berada di Jalan Raya Langseng Kota Malang yang menjual aneka ragam makanan dan minuman.
Serta beberapa pedagang kaki lima yang bisa ditemui saat malam hari di daerah Jalan Soekarno-Hatta, Pasar Oro-Oro Dowo Kota Malang dan sekitaran Klojen.
Baca juga: Mie Bakar Celaket Kota Malang ala Mantan Jurnalis, Sajian Kuliner yang Memanjakan Lidah dan Perut
Menurut Rina, semakin beragamnya ragam kuliner di Malang membuat pelaku usaha kuliner terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin beragam.
Tidak hanya menghadirkan makanan kekinian, tetapi juga mengembangkan kuliner tradisional agar tetap diminati generasi muda.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah munculnya berbagai kreasi kuliner hasil perpaduan makanan khas dari sejumlah daerah seperti rawon pecel atau rujak soto.
Menurut Rina, kreativitas semacam itu merupakan hal positif selama tetap menjaga identitas kuliner lokal.
"Kreativitas kuliner memang harus terus muncul."
"Harapannya kuliner tradisional tetap berkembang dan dikenal masyarakat, terutama generasi muda."
"Inovasi seperti perpaduan berbagai jenis makanan menjadi salah satu cara agar kuliner lokal tetap hidup," katanya.
Rina juga berharap, pemerintah terus memberikan ruang bagi kuliner tradisional untuk berkembang, termasuk melalui promosi dan dukungan terhadap pelaku usaha lokal.
Dari sisi gastronomi, keberadaan warung-warung malam dinilai semakin memperkuat posisi Kota Malang sebagai kota tujuan wisata kuliner.
Apalagi, banyak pengunjung dari luar daerah yang mencari pengalaman menikmati makanan khas Malang pada malam hari.
Ia menilai terdapat perbedaan karakter antara kuliner siang dan malam.
Beberapa makanan bahkan identik dengan suasana malam, seperti angsle dan ronde yang menawarkan sensasi hangat ketika udara Kota Malang mulai dingin.
"Makanan malam itu punya daya tarik tersendiri."
"Ada beberapa makanan yang memang lebih cocok dinikmati malam hari, seperti angsle dan makanan berkuah hangat lainnya," ungkapnya.
Selain itu, Rina melihat tren kuliner saat ini juga mengalami perubahan dari sisi cita rasa.
Banyak makanan yang kini hadir dengan penggunaan rempah lebih kuat dan rasa yang lebih gurih untuk menyesuaikan selera konsumen masa kini.
Meski demikian, ia berharap perkembangan kuliner malam tidak membuat masyarakat melupakan makanan tradisional yang telah menjadi bagian dari identitas Kota Malang.
Baca juga: Maruarar Sirait Minta Warga Malang Viralkan Jika Ada Korupsi Bedah Rumah: Foto, Videokan, Tangkap!