TRIBUN-SULBAR.COM, MAKASSAR - Sebelum mengenal PNM Mekaar, Fennawaty Tanuwijaya asal Pa'lambasan, Makassar, Sulawesi Selatan, adalah perempuan yang berjuang seorang diri.
Setiap hari ia membuka kantinnya dengan modal yang sangat terbatas, hanya mampu memproduksi sedikit jenis makanan, tanpa bantuan dari siapapun keluarga sekalipun.
Usahanya yang kecil kerap tidak mendapat perhatian, sementara kebutuhan sehari-hari pun masih serba pas-pasan.
Baca juga: Imigrasi Polman Ramaikan Mandar Runnigfest Layani Warga Urus Paspor di Akhir Pekan
Baca juga: 4 Bayi Kembar Lahir di RSUD Sulbar Ternyata Punya Sepupu Kembar Tiga
Namun di balik keterbatasan itu, Fennawaty menyimpan mimpi yang tidak pernah ia biarkan padam.
Yakni mempunyai usaha yang lebih besar dan suatu hari bisa mempekerjakan orang-orang di sekitarnya.
Mimpi itu mulai menemukan jalannya pada 2025, ketika ia mendapatkan akses pembiayaan dari PNM Mekaar senilai Rp3 juta tanpa agunan dan hidupnya pun berubah.
Perubahan yang dirasakan Fennawaty setelah bergabung dengan PNM Mekaar pada siklus pertamanya terasa nyata dan langsung menyentuh kehidupannya sehari-hari.
Modal yang diterimanya tidak hanya menambah stok bahan baku, tetapi membuka ruang bagi Fennawaty untuk memperluas jenis makanan yang ia produksi dan hasilnya, semakin banyak pembeli yang berdatangan ke kantinnya.
Omzetnya naik, dan yang paling ia banggakan: ia kini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi tetangga sekitarnya sesuatu yang sebelumnya hanya ada dalam mimpinya.
"Dulu, saya hanya bisa memproduksi sangat sedikit makanan di kantin saya dalam sehari karena modal yang sangat terbatas. Berjuang sendiri tanpa bantuan dari orang lain ataupun keluarga. Tapi setelah mendapat pembiayaan dari PNM Mekaar, produksi saya melonjak, banyak yang minat datang, omzet naik, dan saya bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk tetangga sekitar," tutur Fennawaty.
Bagi Fennawaty, modal yang diberikan PNM Mekaar bukan sekadar uang melainkan sebuah amanah yang ia jaga dengan sepenuh hati.
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena PNM sangat membantu permodalan usaha saya, prosesnya cepat. Bagi saya, modal yang dipercayakan kepada kita dari PNM adalah amanah, sehingga saya menjaga amanah itu untuk menjadi manfaat bagi keluarga dan sekitar saya agar mendapat manfaatnya juga," ujarnya.
Kisah Fennawaty menjadi bukti bahwa ketika perempuan prasejahtera diberi akses yang tepat tanpa agunan, tanpa prosedur yang rumit, dengan pendampingan yang berkelanjutan potensi yang selama ini terpendam bisa tumbuh dan bahkan membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Satu kantin kecil yang dulu sepi, kini menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari satu keluarga.
Pemimpin Cabang PNM Makassar, Yazdi Anugrah, menyebut kisah seperti Fennawaty adalah gambaran nyata dari tujuan PNM Mekaar sejak pertama kali hadir di Sulawesi Selatan.
Menurutnya, keberhasilan nasabah bukan hanya ditentukan oleh besarnya pembiayaan yang diterima, melainkan oleh bagaimana PNM hadir mendampingi nasabah melalui tiga modal sekaligus: modal finansial, modal intelektual, dan modal sosial.
"PNM memberikan tiga jenis modal kepada nasabahnya, modal usaha, modal intelektual, dan modal sosial. Kegiatan PKU adalah bagian dari modal intelektual yang kami berikan agar nasabah tidak hanya mendapat pinjaman, tetapi juga bekal untuk tumbuh," ujar Yazdi. (*)