TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim membeberkan fakta mengejutkan, mengenai ribuan kasus TBC yang masih belum terdeteksi di tengah masyarakat.
Terungkap data epidemiologi TBC di Sulawesi Barat per Juni 2026 yang cukup mengkhawatirkan.
Baca juga: Pawai Taaruf Peringati Tahun Baru Islam di Mamuju junda Titip Pesan jaga Persatuan
Baca juga: KISAH Nasabah PNM Mekaar di Makassar Fennawaty Berkat Usaha Kantin Hingga Sukses Buka Lapangan Kerja
Estimasi Target Kasus TBC 5.002 kasus dan jumlah kasus yang berhasil ditemukan 1.743 kasus sehingga Kasus yang Masih Terlewat (Belum Terdeteksi) 3.259 kasus.
Nursyamsi menegaskan, selisih angka yang mencapai 3.259 kasus ini merupakan tantangan besar sekaligus ancaman penularan yang nyata di masyarakat.
"Sekitar 34,8 persen kasus yang berhasil kita temukan. Sisanya, hampir 65 persen terduga penderita TBC, diperkirakan masih beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari bahwa mereka bisa menularkan bakteri ini kepada 10 hingga 15 orang di sekitarnya setiap tahun. Oleh karena itu, deteksi dini bukan lagi sekadar program, melainkan urgensi bersama," jelas dr. Nursyamsi.
Sementara itu, Harsalim, selaku Epidemiolog Kesehatan memaparkan bahwa penyebab utama banyaknya kasus yang terlewat adalah minimnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri saat mengalami gejala batuk persisten lebih dari dua minggu, ditambah adanya stigma negatif yang membuat masyarakat takut atau malu berobat.
"Masyarakat tidak perlu takut. Deteksi TBC saat ini sudah menggunakan alat canggih Tes Cepat Molekuler (TCM) yang akurat. Yang terpenting, seluruh pemeriksaan dan obat-obatan TBC disediakan secara gratis oleh pemerintah di Puskesmas," terang Harsalim.
Pihak DKPPKB Sulbar juga membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berinteraksi, berkonsultasi, maupun melaporkan adanya indikasi kasus di lingkungan sekitar.(*)