Revolusi Besar Gustavo Alfaro Terkoyak, Prancis Tak Mempan Disulut Emosinya
Drajat Sugiri July 05, 2026 04:11 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Timnas Paraguay nampaknya menyadari perbedaan kualitas yang terjadi antara mereka dengan Prancis saat bertanding di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Untuk itu, mereka datang ke Lincoln Financial Field dengan cara yang tak bisa untuk melawan Prancis.

Pelatih Gustavo Alfaro ingin anak asuhnya bermain keras, kasar, dan mengintimadasi secara mental untuk memancing emosi dari sang lawan.

Beberapa kali taktik itu memang berhasil memancing insiden-insiden kecil di atas lapangan.

Namun Prancis ternyata tak kekurangan pemain satu pun saat pertandingan berakhir.

Maksudnya, tak ada pemain Prancis yang lepas kendali hingga mendapatkan kartu merah akibat provokasi yang dilakukan Paraguay.

Pemilihan taktik yang tak biasa itu memiliki akar dari sang pelatih sendiri.

Pelatih Gustavo Alfaro mengatakan, sebenarnya ia bermaksud mengobarkan sebuah revolusi di kubu Paraguay.

"Sehebat apapun sebuah negara atau seorang pelatih di atas lapangan bukan hanya taktikal saja," ungkap Agung Iqbal Ramadhan, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Baca juga: Brasil vs Norwegia 16 Besar Piala Dunia 2026: Haaland Merendah, Solbakken Tetap Percaya

Hal itulah yang coba dicapai Alfaro untuk skuad Paraguay.

Ia bermaksud mengangkat derajat tim berjuluk La Albirroja ini ke kancah yang lebih besar.

"Saya mengatakan kepada para pemain saya. Kita akan menghadapi pemain yang berjuang mendapatkan Ballon d'Or, dan rekor gol sepanjang masa Piala Dunia" kata Alfaro di sesi konferensi pers selepas laga dikutip dari DSports.

"Sedangkan kami bahkan memiliki seseorang yang tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Kami mengalami banyak kesulitan hidup."

"Namun terlepas dari itu semua, kami bisa melakukannya. Saya ingin melakukan revolusi di Paraguay."

"Kami merasa bisa menjalani Piala Dunia dan ingin melangkah lebih jauh."

"Itulah yang saya rasakan secara pribadi," paparnya.

PENJUALAN JERSEY - Calon pembeli memilih berbagai jersey tim nasional di Jakarta Football Shop, Jakarta, Selasa (16/6/2026). Perhelatan Piala Dunia 2026 mendorong peningkatan penjualan jersey tim nasional yang dijual dengan harga dari Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1 juta per jersey. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
PENJUALAN JERSEY - Calon pembeli memilih berbagai jersey tim nasional di Jakarta Football Shop, Jakarta, Selasa (16/6/2026). Perhelatan Piala Dunia 2026 mendorong peningkatan penjualan jersey tim nasional yang dijual dengan harga dari Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1 juta per jersey. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Alfaro ingin tim arahannya melaju jauh dengan mengetahui mereka tak akan bisa beradu secara skill dengan para pemain Prancis.

Alhasil permainan psikis yang menguras emosi dan fisik menjadi pilihan dari sang pelatih.

Namun hal tersebut tak bisa membuat Paraguay seberuntung saat mereka menghadapi Jerman.

Mereka belum mendapatkan kemenangan yang didamba di kancah 16 besar Piala Dunia 2026.

Meski demikian, Paraguay tetap bisa mencuri perhatian di ajang sepak bola empat tahunan ini.

Sepak terjang mereka dengan mengalahkan Jerman menjadi salah satu yang paling sensasional.

Alfaro tinggal berharap beberapa pemain andalannya bisa mulai dilirik tim-tim besar.

Dengan menyebarnya pemain Paraguay ke kompetisi yang lebih baik, harapan mereka membangun ekosistem sepak bola akan menjadi lebih mudah terlaksana.

Setidaknya dengan cara itu, revolusi yang dicanangkan sang pelatih bisa mulai dijalankan para penerusnya mendatang.

"Orlando Gill harus menjual pakaiannya untuk menyelamatkan putrinya. Tim mana yang tidak menginginkan pemain sepertinya di timnya?" pungkas Alfaro.

(Tribunnews.com/Guruh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.