SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) bersama Kadin Institute menggandeng Swiss Foundation for Technical Cooperation (Swisscontact) menggelar Pelatihan Industry-based Curriculum (IBC) di Surabaya.
Langkah strategis tersebut dilakukan untuk menyiapkan fasilitator Job and Occupational Analysis (JOA), demi menyelaraskan kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan riil industri.
Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, menyatakan bahwa inisiatif ini dirancang untuk mengatasi kesenjangan keterampilan antara lulusan sekolah dan kebutuhan dunia kerja.
"Langkah ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja," ujar Adik pada Minggu (4/6/2026).
Selama ini, kurikulum pendidikan umumnya dirancang oleh institusi pendidikan terlebih dahulu baru kemudian diverifikasi oleh industri.
Menurut Senior Program Officer VET Development Swisscontact, Ilham Hasbiullah, pola ini menjadi pemicu utama terjadinya kesenjangan keterampilan (skill mismatch).
"Kalau ingin mengurangi skill mismatch, maka prosesnya harus dibalik. Analisis pekerjaan dilakukan terlebih dahulu di industri, baru hasilnya diterjemahkan menjadi kurikulum. Jadi kurikulum benar-benar lahir dari kebutuhan industri, bukan sebaliknya," jelas Ilham.
Melalui pelatihan JOA ini, para fasilitator dibekali kemampuan untuk menganalisis tugas, tanggung jawab, kompetensi yang dibutuhkan, tren masa depan (future trend), hingga persyaratan dasar suatu jabatan pekerjaan.
Kadin Jatim optimistis program ini akan membawa dampak luas. Pada angkatan pertama, sebanyak 10 fasilitator dari unsur industri, akademisi, dan pemerintah telah menyelesaikan pelatihan intensif selama lima hari.
Adik Dwi Putranto menargetkan setiap fasilitator mampu mendampingi minimal 10 perusahaan mitra. Dengan demikian, program awal ini ditargetkan mampu menjangkau hingga 100 industri di Jawa Timur sebelum diimplementasikan di tingkat kabupaten/kota.
"Melalui Kadin Institute, kami akan mengajarkan bagaimana melakukan harmonisasi kurikulum kepada industri. Di sisi lain, guru dan dosen juga akan kami dampingi agar memiliki pemahaman yang sama," tambah Adik.
Penerapan metode JOA juga mempermudah pembagian materi pembelajaran. Kompetensi yang cukup diajarkan di kelas akan dipisahkan dengan kompetensi praktis yang harus diperoleh langsung melalui magang di industri.
"Ini akan memperkuat implementasi sistem pembelajaran ganda atau dual system," ungkap Ilham.
Setelah pelatihan kelas selesai, para calon fasilitator akan langsung terjun melakukan analisis langsung bersama praktisi industri guna menguji kompetensi lapangan mereka. Kurikulum yang dihasilkan diharapkan sepenuhnya bersifat demand-driven atau berbasis kebutuhan nyata pasar kerja.