TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif memberikan pernyataan penghormatan mendalam terhadap Ayatullah Ali Khamenei dalam sebuah wawancaranya kepada Tasnim, media Iran.
Ayatullah Ali Khamenei merupakan mantan Pemimpin Tertinggi Iran yang gugur dalam serangan besar-besaran yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel pada Bulan Suci Ramadan yang lalu.
Shehbaz Sharif bergabung dalam barisan pemimpin atau delegasi negara yang menghadiri upacara pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, sejak Jumat lalu hingga Sabtu kemarin.
Shehbaz Sharif menekankan bahwa Ayatullah Ali Khamenei akan dikenang oleh jutaan umat Muslim di seluruh dunia karena transformasi mendalam yang telah ia ciptakan, terutama di tengah kondisi paling sulit sekalipun.
Menurut Sharif, pemikiran dan kepemimpinan Khamenei menjadi warisan abadi yang terus menginspirasi generasi mendatang.
"Saya menyampaikan belasungkawa tulus dari pemerintah dan rakyat Pakistan atas kepergian Yang Mulia Ayatullah Ali Khamenei. Pakistan selalu berdiri bersama Iran sebagai negara saudara dalam menghadapi kesedihan ini. Kedua negara memiliki ikatan persaudaraan yang kuat dan akan terus mendukung satu sama lain di segala situasi," ujarnya.
Dalam konteks hubungan bilateral, PM Sharif menegaskan bahwa Pakistan dan Iran adalah dua negara bersaudara yang akan melangkah bersama dalam setiap keadaan.
Ia menyoroti solidaritas yang tak tergoyahkan antara kedua bangsa, terutama di saat-saat sulit seperti ini. Kehadiran delegasi tingkat tinggi Pakistan di pemakaman menunjukkan komitmen nyata terhadap persahabatan tersebut.
Ayatullah Ali Khamenei digambarkan oleh Sharif sebagai pemimpin besar yang membawa perubahan signifikan bagi Iran dan umat Islam.
Meski menghadapi tantangan berat, ia berhasil menjadikan Iran sebagai mercusuar ketahanan dan harapan. Pemikiran dan peran kepemimpinannya dianggap sebagai sumber inspirasi yang tak akan pudar.
Pernyataan Sharif ini mencerminkan penghargaan mendalam Pakistan terhadap kontribusi Khamenei, baik sebagai pemimpin revolusi maupun sebagai figur intelektual yang memengaruhi kawasan.
Selain dari Pakistan, delegasi dari Arab Saudi, para tamu internasional lain juga hadir memberikan penghormatan terakhir pada hari Jumat (3/7/2026) termasuk mantan presiden Rusia Dmitry Medvedev, yang sekarang menjabat sebagai wakil kepala dewan keamanan Rusia, yang hadir mewakili Presiden Vladimir Putin.
Kelompok milisi Palestina, Hamas dan kelompok milisi Lebanon, Hizbullah, keduanya didukung oleh Teheran, juga mengirimkan utusannya. Begitu pula dengan pemerintah Taliban di Afghanistan. Indonesia mengutus Dubes RI di Teheran untuk menghadiri upacara itu.
Salat Jenazah
Salat jenazah untuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dijadwalkan berlangsung pada Minggu (5/7/2026), hari ketiga dari rangkaian pemakaman besar-besaran yang menarik jutaan warga ke Teheran.
Panitia menyebut salat akan dipimpin tokoh agama terkemuka, meski identitasnya belum dikonfirmasi. Prosesi dimulai pukul 08.00 waktu setempat (10.30 WIB).
Pada malam harinya, jenazah akan dipindahkan dari Grand Mosalla Teheran menuju prosesi pemakaman yang berlanjut pada Senin.
Sejak Sabtu, kerumunan besar warga Iran telah berkumpul, mengenakan pakaian hitam dan mengibarkan bendera merah darah sebagai simbol pembalasan.
Seruan “Matilah Amerika” dan “Balas dendam” menggema di lokasi, menandai suasana duka bercampur amarah.
Peti jenazah Khamenei bersama empat anggota keluarganya yang gugur dalam serangan 28 Februari, termasuk cucu perempuannya yang masih bayi, diletakkan di atas panggung tinggi.
Pihak berwenang memperkirakan lebih dari 10 juta orang hadir di ibu kota, sementara perkiraan lain menyebut jumlahnya bisa mencapai 20 juta.
Prosesi pemakaman akan berlanjut ke kota suci Qom pada 7 Juli, kemudian ke Irak pada 8 Juli, termasuk Baghdad, Najaf, dan Karbala.
Jenazah akan diterima tokoh agama dan politik sebelum menuju penguburan terakhir di Makam Imam Ali Ar Rido (Imam Ali Reza), Mashhad pada 9 Juli.
Rangkaian panjang ini menunjukkan penghormatan luar biasa terhadap sosok Khamenei.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan mengikuti perkembangan pemakaman dan menyiratkan bahwa pejabat Iran yang hadir bisa saja menjadi target.
Namun, ia menegaskan hal itu tidak dilakukan karena AS masih membutuhkan Iran untuk bernegosiasi. Perundingan antara AS dan Iran dijadwalkan berlanjut di Pakistan pada 11 Juli, setelah seluruh rangkaian pemakaman selesai.