Sejarah KFC, dari Gudang Kecil Menjadi Waralaba Terbesar di Dunia
Moh. Habib Asyhad July 05, 2026 02:34 PM

Sejarah KFC dimulai dari sebuah gudang kecil di sebuah pom bensin tempat Kolonel Sanders bekerja. Kini jadi salah satu waralaba terbesar di dunia.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Kentucky Fried Chicken alias KFC tak bisa dilepaskan dari sosok Kolonel Harland Sanders atau yang dikenal sebagai Kolonel Sanders saja. Menurut data terbaru, setidaknya sudah ada 31.980 gerai makanan cepat saji ala Amerika Serikat itu di seluruh dunia.

Inilah sejarah KFC.

KFC didirikan oleh Kolonel Sanders pada 20 Maret 1930. Kolonel Sanders sendiri sekarang mewujud pada ikon KFC yang kesohor itu.

Sejarah KFC berawal dari sebuah bengkel yang berada di North Corbin, di tenggara Kentucky, Amerika Serikat. Dalam “The Colonel” yang terbit di Smithsonian Magazine, semua itu berawal ketika para pendatang atau pejalan yang melintas di Kentucky begitu sulit menemukan tempat makan.

Saat memasuki wilayah itu, para pendatang itu hanya menemui pengecekan ban dan pembersihan kaca depan mobil di stasiun pengisian bahan bakar, tempat Sanders bekerja. Sanders bekerja di Shell pada awal 1930.

Sanders yang melihat orang-orang kesulitan menemukan tempat makan itu kemudian berpikir untuk berbuat sesuatu. Kebetulan, Sanders yang sudah ditinggal ayahnya sejak usia 6 tahun, terbiasa memasak untuk adik-adiknya.

Dia kemudian merombak sebuah ruangan penyimpanan kecil di stasiun pengisian bahan bakar tempatnya bekerja. Lantai ruangan kecil itu kemudian dia lapisi dengan linoleum, sejenis penutup lantai, yang dia dapatkan secara kredit.

Ruangan kecil itu lalu dia lengkapi dengan sebuah meja makan lengkap dengan enam kursinya yang dia boyong dari rumahnya. Sanders pun mulai menyajikan beragam menu makanan di meja yang dia susun itu.

Mulai dari ham, kentang tumbuk, biskuit, dan ayam goreng.

Selain memanfaatkan peluang, upaya ini juga dia lakukan untuk menambah pendapatannya sebagai karyawan di masa-masa depresi ekonomi yang sulit. Ternyata warung kecil yang dia buka banyak peminatnya.

Dia kemudian membuka Sander's Cafe yang letaknya hanya di seberang lokasi semula. Restoran baru itu sempat tidak lagi membuat ayam goreng karena proses masaknya lama. Tapi tak lama kemudian, ayam goreng itu ada lagi.

Yang lebih istimewa, ayam goreng itu dihidangkan setelah Sanders menemukan resep rahasia berupa penggabungan 11 bumbu rempah dan memasak ayam menggunakan panci presto agar proses menjadi lebih cepat. Karena usahanya terus berkembang, Sanders melengkapi restorannya yang berkapasitas 140 orang itu itu dengan sebuah motel.

Nama tempat itu adalah The Sanders Court & Cafe.

Di sana, dia menyempurnakan resep rahasia dan cara memasak ayam goreng yang sebelumnya telah dia temukan. Lambat laun, motel ini kian populer di kalangan wisatawan atau pelancong yang kebetulan sedang lewat Corbin, Kentucky.

Tapi karena adanya perubahan infrastruktur jalan pada 1950-an, dia terpaksa menjual restorannya itu ke pihak lain dan mulai mewaralabakan KFC.

Tapi upayanya banyak diremehkan. Tak sedikit yang menertawakannya, karena pakaian jas berdasi yang digunakan Sanders dalam menjual ayamnya, dinilai terlalu kaku.

Namun, Sanders akhirnya berhasil mendapatkan permintaan waralaba dari sejumlah pihak, setelah dia berhasil menjual ayamnya di restoran Do Drop Inn milik Temannya, Pete Herman. Di sanalah nama Kentucky Fried Chicken dicetuskan, termasuk ember kemasan ayam yang hingga kini masih bisa kita jumpai jika pergi ke KFC.

Biaya waralaba ketika itu adalah 4 sen untuk setiap ayam yang terjual.

Di Indonesia, KFC masuk pada akhir 1970-an setelah Dick Gelael melalui PT Fast Food (FAST) Indonesia membeli izin pemegang merek tunggal KFC di tanah air pada 1978. Selang setahun setelah pembelian merek, restoran pertama KFC dibuka di Jalan Melawai, Jakarta Selatan.

Rupanya, menu-menu yang dijual perusahaan asal negeri Paman Sam itu mendapat sambutan hangat dari warga Indonesia. Setelah melihat antusiasme masyarakat yang cukup besar, keluarga Gelael membuka gerai-gerai lain di Jakarta dan ekspansi hingga ke sejumlah kota besar lainnya di Indonesia antara lain Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Manado.

Selanjutnya, pada 1990 Salim Grup melalui PT Indoritel Makmur Internasional Tbk atau DNET lewat PT Megah Eraraharja membeli sebagian saham KFC Indonesia. Anthoni Salim (Grup Salim) membeli kepemilikan saham FAST sebesar 24,16 persen.

Akhirnya, pada 1993 perusahaan tersebut memutuskan melantai di bursa.

FAST pun terus melakukan penambahan gerai di berbagai kota di Indonesia. Perusahaan ini berkontribusi besar menjadikan menu ayam goreng, terutama ayam tepung bumbu fried chicken, sebagai gaya hidup populer masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Berdasarkan laporan tahunan perusahaan pada 2019 lalu, jumlah gerai perusahaan sudah mencapai 748 yang tersebar di berbagai kota di 34 provinsi dan lebih dari 169 kota. Rinciannya, sebanyak 450 gerai di Jawa, 138 di Pulau Sumatera, 49 di Kalimantan, 56 di Sulawesi, 37 di Bali dan Nusa Tenggara, serta 18 di Papua dan Maluku. Sementara jumlah karyawannya mencapai 16.968 orang.

Masih menurut laporan tahunan 2019, pendapatan perusahaan mencapai Rp 6,71 triliun.

Saat ini, baik Grup Salim maupun Keluarga Gelael, menempatkan orang-orangnya di struktur direksi dan komisaris FAST. Ricardo Gelael merupakan Direktur Utama FAST saat ini, sementara direktur lainnya yakni Fabian Gelael.

Keluarga Gelael juga menempatkan Nini Rosalia Gelael dan Elisabeth Gelael di posisi komisaris perusahaan. Sementara Anthoni Salim diketahui menjabat sebagai Komisaris Utama FAST.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.