TRIBUNNEWS.COM - Ribuan pelayat memadati Kompleks Imam Khomeini Grand Mosalla di Teheran, Minggu (5/7/2026), untuk mengikuti salat jenazah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Upacara tersebut menandai hari kedua rangkaian prosesi pemakaman yang diperkirakan akan dihadiri lebih dari 10 juta orang selama beberapa hari ke depan.
Sejak pagi hari, lautan manusia telah memenuhi kompleks keagamaan terbesar di ibu kota Iran tersebut.
Mereka datang sambil membawa bendera Iran dan potret Ali Khamenei sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang memimpin Republik Islam Iran sejak 1989.
Salat jenazah dipimpin ulama senior Ayatollah Jafar Sobhani, seorang cendekiawan berusia 97 tahun yang mengajar di berbagai hauzah (seminari Islam) di Kota Suci Qom.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut menghadiri prosesi tersebut bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, para pejabat tinggi negara, tokoh agama, serta petinggi militer.
Sementara itu, putra-putra Ali Khamenei yakni Masoud, Mostafa, dan Meysam terlihat hadir dalam upacara tersebut.
Namun putra sekaligus penerusnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, tidak tampak dalam salat jenazah setelah sebelumnya dikabarkan mengalami luka dalam serangan pada 28 Februari lalu.
Peti jenazah Ali Khamenei yang diselimuti bendera nasional Iran dan dihiasi sorban hitam diletakkan berdampingan dengan empat anggota keluarganya yang juga tewas dalam serangan udara pada Februari lalu, termasuk seorang cucu perempuan yang masih bayi.
Pemerintah Iran menetapkan Minggu sebagai hari libur nasional agar masyarakat dapat mengikuti prosesi penghormatan terakhir tersebut.
Setelah disemayamkan di Grand Mosalla, jenazah Ali Khamenei dijadwalkan diarak mengelilingi Teheran pada Senin (6/7/2026), sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Qom pada Selasa (7/7/2026).
Selanjutnya, rombongan pemakaman akan menuju Irak pada Rabu (8/7/2026).
Prosesi penghormatan dijadwalkan berlangsung di Baghdad, Najaf, dan Karbala sebelum jenazah diterbangkan kembali ke Iran.
Pemakaman terakhir dijadwalkan berlangsung pada Kamis (9/7/2026) di Kompleks Makam Imam Ali Reza di Kota Mashhad, salah satu situs paling suci bagi umat Syiah.
Baca juga: Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif: Ayatullah Ali Khamenei akan Dikenang Jutaan Umat Muslim
Prosesi pemakaman juga dihadiri berbagai delegasi dari kawasan Timur Tengah. Sejumlah perwakilan dari Hamas, Hizbullah Lebanon, Jihad Islam Palestina, serta kelompok Houthi Yaman hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ali Khamenei.
Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga bertemu dengan delegasi dari sejumlah kelompok tersebut di Teheran.
Di tengah prosesi pemakaman, situasi keamanan di ibu kota diperketat. Pemerintah mengantisipasi membludaknya jumlah pelayat sekaligus risiko berdesakan di tengah cuaca panas yang diperkirakan mencapai lebih dari 35 derajat Celsius, bahkan mendekati 40 derajat Celsius dalam beberapa hari mendatang.
Penyelenggara menyediakan minuman dan menyemprotkan kabut air di sejumlah titik untuk membantu para pelayat menghadapi suhu tinggi selama mengikuti rangkaian upacara.
Dalam pidatonya sehari sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai besarnya antusiasme masyarakat mencerminkan kecintaan rakyat kepada Ali Khamenei.
"Apa yang kita saksikan hari ini melalui emosi, air mata, dan kehadiran penuh semangat rakyat di berbagai tempat merupakan bukti paling nyata mengenai kedudukan beliau di hati bangsa Iran dan masyarakat dunia yang mencintai kebebasan," ujar Pezeshkian.
Ia juga mengkritik Israel sebagai pihak yang menurutnya menjadi faktor ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
"Umat Islam telah menunjukkan bahwa mereka tidak akan menyerah terhadap penindasan maupun intimidasi," tegasnya.
Prosesi pemakaman Ali Khamenei menjadi sorotan dunia internasional, mengingat berlangsung setelah berakhirnya konflik bersenjata selama lima pekan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang kini memasuki masa gencatan senjata.
Pemerintah Iran maupun Amerika Serikat sama-sama menyatakan tetap bersiap apabila konflik kembali pecah sewaktu-waktu.
(The News Pakistan/Anadolu/Tribunnews)