Nasi Goreng Jumbo Pak Dji, Empat Dekade Menjaga Rasa Nasi Goreng Khas Malang
Eko Darmoko July 05, 2026 04:35 PM

SURYAMALANG.COM, MALANG - Cuaca terasa cukup terik di Kota Malang saat musim kemarau.

Sejak pukul 12 siang, aroma bawang putih dan kecap mulai semerbak di Gang Manunggal, Jalan Panglima Sudirman Nomor 20, Kota Malang, Warung Nasi Goreng Jumbo Pak Dji.

Udara yang berembus mengantarkan aroma serta cita rasa bumbu nasi goreng yang diolah oleh Armuji Budi Utomo.

Bisa dipastikan, sebelum tiba di warung miliknya, dari kejauhan terdengar dentingan spatula beradu dengan wajan besi berukuran raksasa.

Di sudut dapur yang terbuka, Pak Dji, begitu orang-orang menyapa berdiri tegak di depan kobaran api.

Kedua tangannya bergerak tanpa henti. Dengan spatula panjang, ia mengaduk sekitar lima kilogram nasi dalam sekali masak.

Kepulan asap mengepul tinggi, sesekali membungkus wajahnya. Ritme tangannya tidak pernah melambat memadukan bumbu dan butiran nasi.

Nasi Goreng Jumbo Pak Dji, sebuah warung makan yang selama lebih dari empat dekade menjadi tujuan para pencinta nasi goreng di Kota Malang. Di dekat dapur, deretan meja dan kursi memenuhi ruangan yang cukup luas. 

Warung itu mampu menampung puluhan pelanggan sekaligus. Saat matahari mulai tenggelam, satu per satu pengunjung berdatangan.

Ada keluarga yang datang bersama anak-anak, mahasiswa yang baru pulang kuliah, hingga pekerja yang sengaja mampir untuk makan malam.

Semakin malam, suasana justru semakin ramai. Pelayan hilir mudik membawa piring yang isinya begitu banyak. Sementara dari dapur suara spatula tak pernah berhenti.

Baca juga: Rekomendasi Kuliner Malam di Kota Malang dan Alasan di Balik Tren yang Kini Sedang Ramai

Pak Dji mengaku sudah berjualan nasi goreng sejak 1982. Perjalanan usahanya tidak selalu berada di satu tempat. Ia berpindah mengikuti perkembangan Kota Malang dan mencari lokasi yang lebih strategis.

"Awalnya buka di kawasan Malang Theater tahun 1982. Setelah itu pindah ke depan Polresta Malang Kota selama 22 tahun."

"Tahun 2005 pindah lagi ke depan Stasiun Malang sampai 2015. Baru setelah itu menetap di sini sampai sekarang," ujar Pak Dji sambil mengemas makanan yang baru saja ia goreng.

Salah satu ciri khas yang membuat warungnya dikenal adalah konsep porsi jumbo. Ide itu lahir dari keinginannya menghadirkan sesuatu yang berbeda dibanding penjual nasi goreng lainnya. Ketika banyak orang belum memiliki inovasi versi jumbo, Pak Dji sudah memulainya sekitar 45 tahun lalu.

"Versi jumbo ini memang ide saya sendiri. Bagian dari inovasi supaya menarik minat pelanggan," katanya sambil kembali membalik nasi goreng di atas wajan.

Kini, warung tersebut menawarkan 17 pilihan menu, mulai dari nasi goreng, nasi mawut, bakmi goreng, bihun goreng, capcay goreng, capcay kuah, tami capcay, nasi capcay, bakmi capcay, bihun capcay, kolomi capcay, fuyunghai, koloke, nasi ayam, hingga ayam goreng kecap.

Di antara seluruh menu, nasi mawut, nasi goreng, dan bakmi goreng menjadi hidangan yang paling banyak dipesan pelanggan. Harganya dipatok mulai Rp 50.000,00 hingga Rp 70.000,00.

Aktivitas di dapur sebenarnya sudah dimulai sejak siang. Layanan daring dibuka mulai pukul 14.00 WIB, sedangkan pelanggan yang makan di tempat sudah bisa datang sejak 12.00 WIB. Warung tutup pukul 21.30 WIB, meski tak jarang pelanggan terakhir baru meninggalkan meja ketika malam semakin larut.

Memasak dalam jumlah besar setiap hari tentu bukan pekerjaan ringan. Namun, di usianya yang tak lagi muda, Pak Dji memilih tetap berdiri di depan wajan. 

"Capek memang menggoreng sebanyak ini, tapi saya tidak menyerah. Masih kuat meskipun sudah tua," ujarnya sambil tersenyum.

Baca juga: 5 Rekomendasi Kuliner Hits di Kota Batu: Cicipi Lezatnya Mie Podjok di Pasar Induk Among Tani

Cita rasa nasi gorengnya gurih. Teksturnya tidak terlalu kering. Nasi goreng yang diolah terpisah dengan cabai dan mentimun. Ketika hendak disajikan, Pak Dji menyiram nasi goreng dalam piring ukuran besar dengan daging ayam dan telur orek-orek.

Dalam sehari, Pak Dji pernah menjual nasi gorengnya mencapai 150 kilogram. Pandemi COVID-19 menjadi titik balik yang membuat jumlah nasi yang ia olah menurun. Kini, rata-rata nasi yang dihabiskan berkisar 75 Kg hingga 80 Kg nasi setiap hari.

Meski belum kembali seperti masa kejayaannya, semangat Pak Dji tak ikut surut. Baginya, setiap piring nasi goreng yang keluar dari wajan adalah bagian dari perjalanan panjang yang telah dimulai lebih dari 40 tahun lalu.

Setiap malam, ketika ia menyalakan kompor dan memegang spatula, rutinitas yang dilakukan lelaki paruh baya itu tidak pernah berhenti. Rutinitas yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Semangat kerja untuk menjaga cita rasa.

Mengaduk ribuan butir nasi, menjaga cita rasa, dan menyambut pelanggan yang terus berdatangan hingga malam menutup Kota Malang adalah kegiatan yang ia lakukan bersama istri dan karyawannya hingga saat ini.

Salah seorang pelanggan yang telah lama menikmati cita rasa nasi goreng Pak Dji adalah Yuni Sri Wulandari.

Pelatih renang itu datang bersama delapan atlet binaannya. Deretan piring berisi nasi goreng jumbo memenuhi meja panjang di Warung Nasi Goreng Jumbo Pak Dji yang ia pesan. Wulan mengaku telah menjadi pelanggan setia warung tersebut selama bertahun-tahun.

"Karena porsinya banyak, anak-anak makannya juga banyak dan penyajiannya cepat. Saya sudah lama langganan, sejak Pak Dji masih berjualan di depan Stasiun Malang," ujar Yuni.

Ia mengatakan mulai mengenal Nasi Goreng Jumbo Pak Dji sejak 2010. Menurutnya, cita rasa yang konsisten menjadi alasan utama dirinya tetap kembali meski lokasi warung telah berpindah. Selain itu, porsinya juga banyak sehingga sangat cocok dinikmati bersama-sama.

"Saya menjadi pelanggan sejak tahun 2010. Kesan saya, cita rasanya tidak berubah meskipun porsinya besar. Harganya juga masih terjangkau," katanya.

Yuni sengaja mengajak delapan atlet renang Kota Malang makan bersama sebagai bentuk apresiasi setelah mereka menerima bonus hasil kejuaraan. Para atlet yang masih duduk di bangku SD dan SMP itu terlihat lahap menyantap menu nasi goreng yang dipesan.

"Kebetulan anak-anak habis kejuaraan dan bonusnya sudah cair. Sekretariat kami juga dekat dari sini. Biasanya kalau habis dapat bonus ya makan bersama di sini," ujarnya.

Selain rasanya yang dinilai tetap terjaga, Yuni menilai porsi besar menjadi keunggulan tersendiri, terutama bagi para atlet yang baru menyelesaikan sesi latihan.

"Apalagi mereka habis latihan, pulang pasti lapar. Jadi praktis makan di sini karena porsinya mengenyangkan," tuturnya.

Menurut Yuni, perpaduan antara cita rasa yang konsisten, porsi melimpah, harga yang terjangkau, dan penyajian yang cepat membuat Warung Nasi Goreng Jumbo Pak Dji tetap menjadi pilihan favorit, bahkan setelah lebih dari satu dekade ia menjadi pelanggan.

Baca juga: Kuliner Khas Banyuwangi Jadi Menu Baru di Kereta Api, KAI Bermitra dengan UMKM Lokal

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.