Kisah Toni Kristian Hutapea, Anak Penarik Becak Kini Jadi Perwira Polri Berkat Prestasi Kickboxing
Ayu Prasandi July 05, 2026 05:10 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Perjuangan panjang yang dilalui atlet kickboxing Sumatera Utara, Toni Kristian Hutapea, akhirnya berbuah manis.

Setelah bertahun-tahun mengharumkan nama Indonesia di berbagai kejuaraan nasional hingga internasional, Toni kini mendapat kesempatan menjadi Perwira Polisi melalui jalur rekrutmen proaktif Polri.

Jalur rekrutmen proaktif merupakan program khusus yang diberikan Polri kepada atlet-atlet berprestasi yang telah mengharumkan nama bangsa di tingkat nasional maupun internasional.

Para atlet yang memenuhi kriteria akan langsung mengikuti pendidikan pembentukan Perwira Pertama (Pama) Polri dan setelah lulus menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda).

Bagi Toni, kesempatan tersebut bukan sekadar pekerjaan atau jabatan. Momen itu menjadi jawaban atas doa dan cita-cita yang telah ia pendam sejak kecil.

Namun, siapa sangka, di balik sederet prestasi yang kini menghiasi namanya, Toni pernah menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan.

Lahir dari keluarga sederhana di Kabupaten Toba, Toni tumbuh sebagai anak dari seorang ibu yang berjualan kue keliling dan ayah yang bekerja sebagai penarik becak.

Kondisi ekonomi keluarga membuatnya kerap menjadi sasaran perundungan saat masih kecil.

"Awalnya saya korban bullying di kampung. Ibu saya jualan kue keliling, ayah saya penarik becak. Karena hidup kami sederhana dan menumpang, saya sering direndahkan. Dari situ saya mulai belajar bela diri," kenang Toni ketika diwawancarai Tribun Medan melalui seluler. 

Melihat Toni yang terus menjadi korban perundungan, salah satu saudaranya, Niko Sihotang, mengajaknya berlatih karate di perguruan Kala Hitam pada tahun 2013 lalu.

Awalnya Toni tidak memiliki minat terhadap olahraga bela diri. Namun, latihan empat kali dalam sepekan perlahan mengubah kehidupannya.

"Waktu itu saya jadi jarang main dikampung. Aktivitas saya lebih banyak latihan. Dari situ saya mulai menikmati bela diri," ujarnya.

Dua tahun kemudian, Toni mulai mengikuti berbagai pertandingan karate. Hadiah demi hadiah yang diraih membuatnya semakin termotivasi.

"Saya berpikir ternyata latihan bukan hanya bikin sehat, tapi juga membentuk mental dan bisa menghasilkan prestasi," katanya. 

Sejak saat itu, Toni mengaku, semangatnya semakin tumbuh karena terinspirasi oleh seniornya di Kabupaten Toba, Adi Manurung, yang saat itu dikenal sebagai salah satu fighter terbaik di daerahnya.

"Beliau tetap menjadi idola saya sampai sekarang. Mereka yang mendorong saya terus berkembang," ungkap Toni. 

Hijrah ke Medan Mengubah Segalanya

Karier Toni berubah ketika diterima sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Medan (Unimed) pada 2021. Saat itulah ia mulai mengenal kickboxing.

Adi Manurung bersama Rosa Simanjuntak mempertemukannya dengan pelatih Sadarmawati Simbolon. Dari tangan pelatih yang akrab disapa Icen inilah karier Toni melejit.

Tak lama setelah berlatih, Toni langsung dipercaya mengikuti pertandingan perebutan sabuk di Jakarta melawan petarung Brimob.

"Itu menjadi batu loncatan buat saya. Saya mendapat banyak dukungan dan sejak saat itu benar-benar fokus menjadi atlet kickboxing," terangnya. 

Sejak 2022, Toni terus mengumpulkan prestasi demi prestasi. Toni mengawali prestasinya dengan meraih juara pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Sumatera Utara pada 2021 dan 2022, serta meraih Juara I Pekan Olahraga Kota (Porkot) Medan 2022.

Pada tahun yang sama, ia juga berhasil merebut medali perak Kejuaraan Nasional di Batam sebelum menorehkan prestasi internasional dengan menjadi juara Asian Championship 2022 di Thailand.

Ia juga sukses menjadi Juara Asian Championship Thailand 2022, meraih emas SEA Games 2023, juara PON Aceh-Sumut 2024, hingga kembali menjadi juara Asian Championship Cambodia 2024.

Di level profesional, Toni bahkan mencatat rekor sempurna dengan 10 kemenangan tanpa sekalipun mengalami kekalahan maupun hasil imbang.

Tak hanya kickboxing, Toni juga menorehkan prestasi di cabang Mixed Martial Arts (MMA), termasuk menjadi runner-up Kejuaraan Dunia GAMMA Thailand 2024 dan peraih medali perunggu Kejuaraan Dunia GAMMA Indonesia 2024.

Kuliah Diam-Diam, Jual Sayur Demi Bertahan Hidup

Perjalanan Toni menuju kesuksesan juga tidak mudah. Kedua orang tuanya sempat menolak keinginannya menjadi atlet.

Sang ayah ingin Toni bekerja di Jepang, sementara ibunya berharap ia menjadi seorang Pendeta.

"Saya bilang kalau ke Jepang saya tidak punya keterampilan apa-apa. Kalau jadi pendeta, masa jemaat saya nanti saya suruh berantem karena dari kecil sudah bela diri," ucapnya sambil tertawa.

Bahkan ketika memutuskan kuliah di Unimed, Toni melakukannya tanpa sepengetahuan orang tua.

Saat pandemi Covid-19 melanda, Toni harus bekerja serabutan menjual tomat dan sayuran di Pajak MMTC Medan untuk memenuhi kebutuhan hidup diperantauan,sekaligus membayar biaya kuliah. 

"Saya ikut pedagang jual sayur. Pagi kerja, sore latihan. Karena kuliah banyak online waktu itu, saya masih bisa membagi waktu," tuturnya. 

Memasuki semester dua, Toni semakin fokus mengejar karier sebagai atlet hingga nyaris tak pernah mengikuti perkuliahan secara langsung karena harus menjalani pemusatan latihan dan berbagai kejuaraan.

Pernah Terpuruk Karena Judi Online

Kesuksesan Toni ternyata sempat berubah menjadi masa paling kelam dalam hidupnya.
Setelah meraih emas SEA Games 2023, ia memperoleh bonus hampir Rp800 juta.

Namun, di saat bersamaan, kedua orang tuanya sedang menghadapi cobaan berat.

Ayah dan ibunya membutuhkan biaya besar untuk pengobatan karena sang Ayah mengidap tumor ganas stadium tiga.

Demi fokus merawat orang tuanya, Toni menolak tawaran masuk Polri pada 2023.

"Saya memilih merawat orang tua dulu karena kondisi mereka lebih penting," kenangnya. 

Namun setelah itu hidupnya berubah. Toni mengaku sempat salah pergaulan, menjadi korban penipuan, hingga terjerumus ke dalam judi online.

Bonus ratusan juta rupiah yang diperolehnya saat SEA Games habis. Bahkan ia terlilit utang dan harus menjual berbagai barang miliknya.

"Saya benar-benar jatuh," ujarnya. 

Di titik terendah itulah pelatihnya, Sadarmawati Simbolon, hadir menjadi penyelamat.

Menurut Toni, sang pelatih bukan hanya mengajarkan teknik bertanding, tetapi juga membimbingnya kembali menemukan arah hidup yang lebih baik. 

"Saya sempat tinggal di rumah beliau. Saya juga sampai menemui psikolog. Pelatih saya terus mengajak saya kembali beribadah, terus memotivasi dan meyakinkan bahwa saya akan bangkit lagi," ucapya. 

Dukungan itu akhirnya membuahkan hasil. Toni berhasil bangkit dan meraih medali emas pada PON Aceh-Sumut 2024.

Doa yang Terjawab Melebihi Harapan

Menjadi anggota Polri memang sudah menjadi cita-cita Toni sejak kecil.

Ia kembali mendapat kesempatan mengikuti jalur rekrutmen proaktif pada 2025 berkat prestasi yang terus ditorehkannya.

Toni mengaku tak pernah membayangkan bisa langsung mendapat kesempatan menjadi Perwira Polisi.

"Doa saya sebenarnya cukup masuk dari jalur Bintara atau Tamtama saja saya sudah sangat bersyukur. Tapi Tuhan memberikan lebih dari yang saya bayangkan. Ini benar-benar di luar nalar," ujar Toni terharu. 

Ia berharap kisah hidupnya dapat menjadi motivasi bagi anak-anak muda, terutama mereka yang berasal dari keluarga sederhana.

"Saya ingin membuktikan bahwa keadaan ekonomi bukan penghalang untuk meraih mimpi. Yang penting tetap bekerja keras, disiplin, dan jangan pernah menyerah," tutur atlet R12 Fighting Camp tersebut. 

Kebahagiaan itu juga, diakuinya turut dirasakan kedua orang tuanya yang sejak awal tidak menyangka putra mereka bisa menjadi seorang perwira Polri.

"Keluarga sangat bahagia. Orang tua juga menyampaikan terima kasih kepada Polri karena sudah memberikan kesempatan kepada saya bergabung menjadi bagian dari Bhayangkara. Mereka benar-benar tidak menyangka anaknya bisa sampai di titik ini," ungkapnya. 

Berbekal sederet prestasi internasional dan perjalanan hidup yang penuh lika-liku, Toni Kristian Hutapea kini membuka lembaran baru sebagai atlet sekaligus calon Perwira Polri, sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat lahir dari perjuangan yang tidak pernah berhenti.

(Cr29/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.