TRIBUNSUMSEL.COM, MUARA ENIM -- Kasus duel maut yang melibatkan dua warga Desa Gunung Megang Luar, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, akhirnya terungkap.
Korban bernama Muhamad Supriadi (35), seorang buruh harian, tewas setelah terlibat perkelahian sengit dengan Sanik (57) di jalan samping lapangan sepak bola Dusun VII pada Jumat (3/7/2026) sore sekitar pukul 16.30 WIB.
Hanya dalam waktu 42 jam setelah kejadian, Polsek Gunung Megang berhasil mengungkap kasus pembunuhan ini. Pelaku, Sanik (57), akhirnya diamankan pada Minggu (5/7/2026) setelah polisi melakukan pendekatan persuasif kepada pihak keluarganya.
Kapolres Muara Enim, AKBP Hendri Syaputra, melalui Kapolsek Gunung Megang, AKP KMS Erwin, mengungkapkan bahwa duel maut ini dipicu oleh dendam lama terkait hubungan asmara.
Perselisihan bermula pada tahun 2020 silam. Saat itu, Sanik mengetahui istrinya diduga berselingkuh dengan korban (Supriadi) dan berniat melaporkannya ke polisi. Namun setelah berbagai pertimbangan, Sanik memilih untuk menceraikan istrinya.
Hanya dua minggu setelah perceraian tersebut, sang mantan istri rupanya langsung menikah dengan korban. Pernikahan itu tidak bertahan lama dan kembali berakhir dengan perceraian. Setelah beberapa lama hidup menyendiri dan atas desakan anak-anaknya, Sanik akhirnya luluh dan memilih rujuk kembali dengan mantan istrinya tersebut.
"Karena kasihan melihatnya mengontrak sendirian, dan demi memikirkan keutuhan rumah tangga, akhirnya pelaku mau rujuk dan mereka kembali hidup serumah," jelas Kapolsek.
Prahara kembali muncul pada tahun 2025. Setelah istri korban meninggal dunia, Sanik menerima informasi bahwa korban kembali menjalin hubungan dengan istrinya. Hal ini membuat Sanik memendam sakit hati dan kekesalan yang mendalam.
Sebelum tragedi itu terjadi pada Jumat sore, korban baru saja selesai mengantar teman wanitanya yang merupakan warga Kabupaten PALI. Korban membonceng wanita tersebut menggunakan sepeda motor hingga ke pintu gerbang desa, sebelum akhirnya sang wanita melanjutkan perjalanan pulang sendirian ke PALI.
Setelah itu, korban bermaksud pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Di tengah jalan, ia sempat berpapasan dengan warga desa dan diantar sampai ke simpang desa.
Nahas, saat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, korban berpapasan dengan pelaku yang sedang mengendarai sepeda motor usai memeriksa kebunnya di pinggir desa. Pertemuan tidak sengaja ini langsung menyulut dendam lama di antara keduanya. Korban pun langsung menantang pelaku untuk berduel demi menuntaskan permasalahan mereka.
"Secara fisik, korban bertubuh besar, tinggi, dan masih muda. Sementara pelaku sudah tua, bertubuh kecil, dan kondisi kakinya pincang," ujar AKP KMS Erwin.
Mendapat tantangan tersebut, duel tidak terhindarkan. Korban langsung melayangkan pukulan tangan kosong ke arah pelaku, namun sempat ditangkis. Karena merasa terdesak secara fisik dan usia, pelaku secara refleks mencabut sebilah keris yang terselip di pinggangnya, lalu menghujamkannya tepat ke dada bagian tengah korban.
Seketika korban terjatuh. Dengan sisa tenaganya, korban berusaha bangkit untuk berlari menyelamatkan diri sambil berteriak meminta pertolongan. Di tengah jalan, korban ditemukan oleh warga dalam kondisi sekarat dan langsung dilarikan ke Puskesmas Gunung Megang. Namun, setibanya di puskesmas, nyawa korban sudah tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.
Polsek Gunung Megang yang menerima laporan langsung bergerak cepat melakukan penyelidikan intensif. Melalui pendekatan kekeluargaan, pelaku akhirnya bersedia menyerahkan diri ke polisi pada Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.
"Pelaku awalnya tidak tahu kalau korban yang ditusuknya itu meninggal dunia. Makanya, setelah kejadian ia sempat pulang dan pergi lagi untuk menjaga kebun. Saat kami jemput, ia baru mengetahui kabar tersebut," tambah Kapolsek.
Saat ini, pelaku beserta barang bukti telah diamankan di Mapolsek Gunung Megang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Atas perbuatannya, Sanik akan dijerat dengan Pasal 458 KUHP subsider Pasal 466 Ayat 3 KUHP tentang tindak pidana pembunuhan.
(*)

