TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Dari kebun singkong dan jagung yang biasa-biasa saja, lahan carik di Desa Pasirnanjung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, ini disulap menjadi tempat wisata alam bernilai ekonomi tinggi bagi warga sekitar.
Angin sejuk dan pemandangan hamparan kebun hijau yang indah menyapa para pengunjung yang datang ke tempat wisata 'Pasirnanjung Geulis'.
Dari gerbang Pasirnanjung Geulis, pengunjung bisa mengikuti jalan setapak menuju taman, camping ground, deretan lapak kuliner UMKM, hingga kafe yang menampilkan berbagai pagelaran seni yang berbeda setiap malamnya.
Di siang hari, tempat wisata seluas 9 hektare ini bisa menjadi pilihan tempat rekreasi dan piknik murah meriah. Pengunjung bisa duduk-duduk di bangku-bangku yang sudah disediakan, di rerumputan hijau, saung-saung, maupun meja kursi di depan tempat makan.
Di malam hari, camping di camping ground sambil menikmati city light yang terlihat mempesona dari tempat wisata yang terletak di kaki Gunung Kareumbi ini.
Tempat ini merupakan tempat wisata 'full package' yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pasirnanjung.
Kepala Desa Pasirnanjung, Susi Herawati (33), mengungkapkan, tempat wisata tersebut merupakan 'hasil sulapan' tanah carik desa yang dulunya hanya menjadi kebun singkong dan jagung yang tidak menghasilkan nilai ekonomi besar.
"Dulunya itu lahan carik yang jadi kebun tapi kurang efektif. Makanya kami sepakati bersama untuk kita bangunkan sebuah wisata yang programnya bisa memberdayakan warga Desa Pasirnanjung," ujar Susi ketika ditemui di lokasi pada Minggu (5/7/2026).
Susi pun mengungkapkan, tempat wisata tersebut dibangun dengan harapan bisa membantu perekonomian warga sekitar yang sebelumnya memiliki keterbatasan penghasilan.
"Lewat wisata ini, perputaran ekonomi bisa setiap hari, apalagi sekarang difasilitasi UMKM warga sekitar. Kalau dulu saat masih kebun kan harus menunggu panen baru ada pemasukan," ujar Susi.
Dari Tak Punya Aset Ekonomi Jadi Berdaya
Pengurus BUMDes Pasirnanjung, Dicki Dirmania (46), mengungkapkan bahwa Desa Pasirnanjung sebelumnya tak memiliki aset ekonomi.
"Desa ini kan tidak punya pasar, pertokoan, pabrik, dan potensi ekonomi lainnya, tapi kami punya pemandangan yang indah," ujar Dicky.
Pemandangan indah itulah yang menjadi modal utama BUMDes Pasirnanjung menyulap tanah carik desa menjadi tempat wisata.
Pengelolaannya pun, lanjutnya, dilakukan oleh masyarakat sekitar, mulai dari pengurusan tempat wisata, UMKM, hingga pengisi pagelaran seni.
"Kami tidak mau warga Pasirnanjung jadi penonton di kampungnya sendiri. Kami ingin masyarakat berdaya melalui kawasan wisata ini.
Untuk mendukung pemberdayaan masyarakat, tempat wisata itu pun dikonsep menjadi 'full package' yang menggabungkan wisata alam, kuliner, kesenian, hingga budaya.
"Di sini ada camping ground, saung, UMKM, sampai ada ketahanan pangan berupa ternak puyuh, ada pamidangan domba yang digelar sebulan sekali, semuanya diurus oleh warga sekitar," ujar Dicki.
Rp 2 M untuk Sulap Tanah Carik Jadi Tempat Wisata
Susi mengungkapkan, tempat wisata ini dibangun lewat swadaya dan gotong royong masyarakat. Pembangunannya pun tak instan. Dimulai sejak 2023, Pasirnanjung Geulis dibangun makin besar dan makin lengkap.
"Ini kan gotong royong juga dari masyarakat, kalau modal sampai sekarang, dari tanah carik jadi lahan wisata besar ini, kira-kira Rp 2 miliar," ujar Susi.
Susi mengakui bahwa besarnya modal untuk mengembangkan tempat wisata tersebut belum 'balik', namun Pasirnanjung telah menghasilkan keuntungan ekonomi bagi desa maupun masyarakat di sekitarnya.
Dicki pun mengungkapkan, keuntungan ekonomi dari tempat wisata ini telah diterima Desa Pasirnanjung dan warga sekitar.
"PAD dari kegiatan (Pasirnanjung Geulis) ini kan fluktuatif, 20 persen dari sisa kegiatan usaha ini. Jumlahnya masih dalam tahap evaluasi, tapi kalau dikira-kira PAD ini sekitar Rp 64 juta," ujar Dicki.
Sementara itu, Wawan Pandu (49), pedagang ayam bakar di Pasirnanjung Geulis, mengungkapkan, ekonomi warga sekitar kini membaik terbantu perputaran ekonomi di tempat wisata tersebut.
"Lumayan mengurangi beban rumah tangga. Dari jualan di sini, saya dan istri omzetnya bisa sampai Rp 3 juta per hari kalau ramai. Kalau sedang sepi sekitar Rp 1 juta, lah," ujar Wawan.
Murah Meriah
Salah satu andalan Pasirnanjung Geulis ini adalah camping ground. Pengelola camping ground, Rimba (20), menyebut, pengunjung bisa berkemah dengan harga murah meriah dan mendapat fasilitas yang lengkap.
"Di sini cocok untuk yang hobi camping bersama keluarga atau teman, sudah ada toilet dekat camping ground juga, jadi tidak sulit," ujarnya.
Rimba merinci harga untuk menginap semalam di camping ground ini. Pengunjung cukup membayar Rp 130 ribu untuk paket satu tenda berkapasitas 4-5 orang. Harga tersebut sudah termasuk dua selimut, tiga matras, dan satu lampu.
Sementara itu jika pengunjung sudah membawa tenda dan peralatannya dari rumah, maka cukup membayar Rp 20 ribu per malam.
"Bisa tinggal membeli kayu bakar, nanti dinyalakan api unggunnya. Ada listrik juga, jangan khawatir," ujar Rimba.