Laporan Wartawan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Aceh Singkil
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Perahu kayu mesin melaju pelan membelah aliran sungai Lae Soraya, di kawasan Desa Lentong, Kecamatan Kota Baharu, Kabupaten Aceh Singkil, Minggu (5/7/2025) pagi.
Di atas perahu duduk Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Aceh Singkil, Syam'un, Penerima Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Akla, pegiat budaya Wanhar Lingga dan sejumlah pemuda lokal.
Sejurus kemudian perahu tiba di tepi sungai seberang pemukiman penduduk Lentong.
Dari titik itu rombongan memulai ekspedisi dan inventarisir objek diduga cagar budaya (ODCB) sepanjang aliran sungai Singkel.
Berbekal petunjuk dari warga lokal, tim memulai penelusuran jejak objek diduga cagar budaya. Targetnya adalah makam kuno yang menjadi sisa peradaban raja Lentong.
Keringat bercucuran membasahi badan setelah berjalan melewati perkebunan kelapa sawit serta semak belukar. Sayang dari dua kompleks pemakaman yang ditemuai tidak ada nisan kuno.
Menggunakan sisa tenaga, rombongan kembali ke tepi sungai untuk naik perahu ke arah hulu meneruskan ekspedisi.
Setelah berlayar sekitar 30 menit perahu menepi. Selanjutnya rombongan turun untuk kembali melakukan penelusuran dengan berjalan kaki.
Usaha tak menghianati hasil. Kali ini, kuburan kuno berhasil ditemukan. Setidaknya ada delapan kuburan dengan lima jenis nisan yang ditemukan.
Dari ciri-cirinya, nisan tersebut, diperkirakan abad 15 Masehi atau sudah berusia 500 tahun.
Salah satu nisan dengan bentuk paling besar, posisinya terpisah dari kuburan lain. Diperkirakan merupakan kuburan pembesar kerjaan Lentong.
"Di Lentong seberang pemukiman warga ada delapan nisan. Dengan lima macam bentuk nisan," kata Akla.
Akla berharap situs diduga cagar budaya tersebut bisa diselamatkan dan dijaga keberadaanya.
Sementara itu Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil, Syam'un mengatakan pemerintah akan berupaya menjaga, melestarikan dan mengenalkannya kepada generasi penerus.
"Nisan ini karya yang luar biasa, orang-orang zaman dulu bisa memahat dan mengukir seindah ini. Kita pemerintah bagimana bisa melestarikan ini dan memperkenalkan kepada anak-anak dan masyarakat Aceh Singkil," ujarnya.
Sekitar abad ke-15 kompleks makam kuno tersebut diperkirakan merukan kawasan kerajaan Lentong.
Memasuki masa modern penduduk Lentong, masih menetap di sekitar kompleks makam kuno.
Sebelum akhirnya semua penduduk pindah ke Lentong modern yang ada di seberang sungai pascagempa tsunami Aceh, tahun 2004.
Selain makam kuno, di sekitar lokasi terdapat bekas reruntuhan masjid serta bekas tangga beton rumah penduduk Lentong.
Akla menyebutkan ekspedisi dan inventarisir objek diduga cagar budaya (ODCB) sepanjang aliran sungai Singkel, yang disuport Balai Pelestarian (BP) Kebudayaan Aceh, sudah dilakukan kedelapan situs makam kuno.
Rincian situs yang sudah diinventarisir antara lain Pea Bumbung ditemukan 2 nisan, Selok Aceh Lama 2 nisan dan Serasah ditemukan 1 situs nisan.
Berikutnya Tanjung Mas seberang pemukiman warga 13 nisan yang berbeda-beda bentuk serta ornamentasi.
Tanjung Mas pinggir jalan aspal dekat pemukiman warga setidaknya yang terlihat di permukaan tanah 15 lebih nisan.
Lentong seberang pemukiman warga 8 nisan yang terdiri dari 5 macam bentuk nisan.
Pihaknya juga masih melanjutkan inventarisir ke Dusun Handel, Rimo, yang diduga ada 2 situs dekat jembatan Handel.
Titik lainnya di Tanah Bara 1 situs, Tugan 1 situs dan situs lainnya yang akan diinventarisir, sembari menunggu informasi dari masyarakat.
"Nisan yang ditemukan rata-rata abad 15 Masehi, 16 dan 18 Masehi," jelasnya.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Minggu 5 Juli 2026, Mayoritas Wilayah Aceh Singkil Hujan
Setelah tim selesai melakukan inventarisir nisan kuno di Lentong, rombongan memutuskan pulang.
Tiba di dermaga sungai Lentong, rombongan singgah untuk menikmati bokom sebagai pengganti setamina yang terkuras selama ekspedisi.
Bokom merupakan sebutan untuk mi istan yang dimasak ala penduduk Aceh Singkil.
Dengan cara diseduh air panas, lalu dimasukan irisan cabai rawait dan bawang merah mentah plus perasan air jeruk.
Stamina kembali pulih, namun matahari sudah condong ke Barat, tanda akhir ekspedisi hari itu.(*)