Menjelang babak terbaru Piala Dunia, kami mengulas kembali setiap momen ketika Gabriel dan Erling Haaland terlibat perseteruan panas.
Keduanya akan kembali berhadapan langsung ketika Brasil bertemu Norwegia, meskipun hubungan tegang di antara mereka lebih sering terlihat saat bermain untuk klub masing-masing.
Berikut adalah rangkaian momen penting dalam rivalitas antara Gabriel dan Haaland.
Insiden pertama terjadi pada tahun 2024 ketika Arsenal bermain imbang 0-0 di kandang Manchester City, Stadion Etihad. Sepanjang laga, Gabriel menggunakan semua taktik khas bek tengah untuk membuat lawannya frustasi, dan Haaland, harus diakui, siap menghadapi tantangan tersebut.
Ketika peluit panjang dibunyikan, keduanya mulai saling dorong sebelum Pep Guardiola turun tangan untuk memisahkan mereka — dan dari situlah perseteruan ini benar-benar dimulai.
Beberapa bulan kemudian di tahun yang sama, muncul momen paling ikonik dalam rivalitas mereka.
Arsenal hampir meraih kemenangan 2-1 di kandang City, tetapi gol penyama kedudukan di menit akhir membuat segalanya berubah.
Dalam selebrasi gol tersebut, Haaland mengambil bola dan melemparkannya ke bagian belakang kepala Gabriel.
Ketegangan semakin meningkat ketika setelah kick-off, Haaland berlari menutup ruang dan menabrak Thomas Partey yang mencoba menghalanginya.
Situasi makin panas ketika Haaland terekam kamera berkata kepada Mikel Arteta, “tetap rendah hati ya?”.
Ucapan itu menjadi ejekan yang terus diingat oleh para pendukung Arsenal dan kabarnya juga menggema di ruang ganti tim.
Pada titik itu, skor emosional berada di 1-0 untuk Haaland setelah komentar “stay humble”, namun Gabriel berhasil membalas dendam dengan luar biasa di kemudian hari.
Saat Arsenal membuka keunggulan, Gabriel merayakannya dengan berteriak ke arah wajah Haaland. Penyerang asal Norwegia itu kemudian menyamakan kedudukan, tetapi tidak membalas selebrasi serupa.
Gabriel berkata: “Dia mendominasi, saya selalu merayakan di depan wajahnya. Lima menit pertama, satu-nol. Saat kami mencetak gol, dia tepat di sebelah saya, dan saya mulai berteriak di telinganya. Lalu dia mencetak gol, si anak b***h itu, lewat sundulan, 1-1. Bola keluar, kami unggul 2-1. Kami membalikkan keadaan, 3-1, 4-1, 5-1.”
Kemudian, Myles Lewis-Skelly, yang sebelumnya juga sempat bersitegang dengan Haaland, menambah panas suasana dengan meniru gaya selebrasi khas Haaland secara mengejek.
Menjelang pertemuan mereka malam ini, bentrokan terakhir keduanya terjadi dalam perebutan gelar musim lalu.
Manchester City yang tengah mengejar pimpinan klasemen Arsenal berhasil memperkecil jarak lewat kemenangan 2-1 di Etihad.
Dalam pertandingan itu, Gabriel menanduk kepala Haaland, namun karena sang penyerang City tidak terjatuh, VAR tidak menganggapnya sebagai pelanggaran berat yang layak kartu merah. Haaland kemudian menegaskan bahwa ia tidak terbiasa berpura-pura jatuh.
“Saya rasa itu kartu merah,” ujarnya seusai pertandingan. “Saya pikir kebanyakan orang setuju dengan saya. Jika saya menjatuhkan diri seperti pemain lain, itu pasti kartu merah. Tapi itu bukan hal yang saya lakukan. Ayah saya mengajarkan untuk tetap berdiri.”
“Itulah kenyataannya. Haruskah saya menjatuhkan diri? Mungkin. Itu akan membuat segalanya lebih mudah. Tapi saya tidak melakukannya.”
Keputusan tidak memberikan kartu merah itu berdampak besar bagi Arsenal, karena tanpa keputusan tersebut, mereka bisa saja kehilangan bek andalan mereka selama tiga pertandingan.