TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kondisi perlintasan kereta api di Jalan Adinegoro No. 22, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, dikeluhkan warga dan pengguna jalan.
Perlintasan yang berjarak sekitar 600 meter dari Pasar Lubuk Buaya itu disebut menjadi titik rawan kecelakaan, terutama saat hujan turun.
Pantauan reporter TribunPadang.com, Fajar Alfaridho Herman di lokasi, Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 18.40 WIB, kondisi jalan di perlintasan rel tersebut tampak rusak parah.
Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Gelombang Tinggi 2,5 Meter di Perairan Sumbar hingga 7 Juli
Belasan lubang menganga di sela-sela rel dengan ukuran bervariasi, mulai sekitar 10 hingga 60 sentimeter dan kedalaman mencapai 5 hingga 20 sentimeter.
Kerusakan terlihat memanjang sekitar 100 meter. Selain lubang yang cukup dalam, permukaan tanah di antara rel tampak lebih rendah dibandingkan besi rel sehingga kendaraan harus melewati permukaan rel yang menonjol.
Situasi menjadi lebih berbahaya ketika hujan mengguyur kawasan tersebut. Genangan air menutupi lubang sehingga sulit terlihat oleh pengendara, sementara permukaan besi rel menjadi licin.
Selama pemantauan, sejumlah mobil tampak menghantam lubang di sekitar rel hingga terdengar bunyi benturan keras saat ban masuk ke dalam lubang.
Sementara pengendara sepeda motor terlihat memperlambat laju kendaraan dan berusaha mencari jalur yang lebih aman agar tidak terjatuh.
Warga Sebut Lebih dari 20 Pengendara Motor Terjatuh
Seorang pemilik warung di dekat lokasi, Uncu, mengatakan kondisi tersebut telah lama menjadi keluhan masyarakat.
Menurutnya, setiap kali hujan turun, kecelakaan di lokasi hampir selalu terjadi.
"Kalau dihitung sejak hujan sekitar pukul 15.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB ini saja sudah sekitar 20 orang lebih pengendara motor yang jatuh. Kalau mobil yang masuk lubang juga sudah puluhan," kata Uncu kepada TribunPadang.com.
Ia mengatakan kecelakaan memang tetap terjadi saat cuaca cerah, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan ketika hujan.
"Itu kalau hujan pasti banyak yang jatuh. Kalau tidak hujan ada juga yang jatuh, tapi tidak sebanyak waktu hujan," ujarnya.
Menurut Uncu, kerusakan di perlintasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Jalan di sekitar rel sudah beberapa kali diperbaiki, namun kembali rusak dalam waktu yang relatif singkat.
"Mungkin karena getaran kereta api, jadi aspal di samping rel cepat rusak dan berlubang. Padahal sudah sering diperbaiki," katanya.
Baca juga: Sejarah Sate Pariaman, Berawal dari Tradisi Aceh Saat Syekh Burhanudin Menuntut Ilmu Abad ke-17
Ia menyebut perlintasan itu terakhir diperbaiki pada awal tahun 2026. Namun, beberapa bulan kemudian kondisinya kembali berlubang.
"Baru awal tahun kemarin diaspal lagi, sekarang sudah rusak lagi," ucapnya.
Lampu Jalan Mati, Kondisi Makin Berbahaya pada Malam Hari
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Wit. Ia mengatakan kondisi jalan rusak diperparah dengan lampu penerangan jalan yang sudah lama tidak berfungsi.
Akibatnya, saat malam hari lubang-lubang di sekitar rel sulit terlihat sehingga risiko kecelakaan semakin tinggi.
"Lampu penerangannya sudah lama tidak hidup. Kalau malam itu gelap sekali di sini. Lubang-lubang tidak kelihatan, kadang orang melaju kencang saja sehingga sering terjatuh," katanya.
Menurutnya, warga sudah beberapa kali menyampaikan keluhan terkait kondisi tersebut. Namun hingga kini belum ada penanganan yang mampu mengatasi kerusakan secara permanen.
"Sudah pernah dilaporkan, tapi begitulah. Sepertinya kalau tidak viral tidak direspons. Lebih baik diviralkan saja supaya cepat diperbaiki dan tidak ada korban lagi," ujarnya.
Warga berharap instansi terkait segera melakukan perbaikan menyeluruh terhadap perlintasan rel tersebut, sekaligus memperbaiki lampu penerangan jalan agar keselamatan pengguna jalan dapat lebih terjamin, terutama saat hujan dan pada malam hari.