Revolusi Flamingo Meledak: Protes Terbesar di Albania, Tolak Resor Mewah Keluarga Trump
Hasiolan Eko P Gultom July 05, 2026 11:34 PM

Revolusi Flamingo Meledak: Protes Terbesar di Albania, Tolak Resor Mewah Keluarga Trump

 

TRIBUNNEWS.COM - Puluhan ribu warga memadati ibu kota Albania, Tirana, pada Sabtu (4/7/2026), dalam demonstrasi terbesar sejak gerakan penolakan terhadap proyek resor wisata mewah yang dikaitkan dengan keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump dimulai pada akhir Mei lalu.

Menurut laporan AFP, aksi yang telah memasuki hari ke-35 itu menjadi puncak gelombang protes yang semula berfokus pada penolakan pembangunan hotel dan kawasan wisata mewah yang dikaitkan dengan Ivanka Trump dan suaminya, Jared Kushner.

Baca juga: 5 Populer Internasional: Menantu Trump Ikut Pertemuan Resmi - Netanyahu Disoraki Perwira Militer

Kekhawatiran Lingkungan Meluas Menjadi Isu Politik

Awalnya, demonstrasi dipicu kekhawatiran bahwa proyek bernilai sekitar US$4,6 miliar tersebut akan mengancam kawasan konservasi Zvernec (sering juga ditulis Zvernich), termasuk danau di sekitarnya yang menjadi habitat penting sekaligus jalur migrasi burung flamingo dan berbagai spesies lainnya.

Seiring waktu, aksi protes berkembang menjadi kritik yang lebih luas terhadap dugaan korupsi di Albania.

Para demonstran bahkan menuntut Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri.

Gerakan ini kemudian dikenal sebagai "Revolusi Flamingo", merujuk pada kawasan konservasi yang menjadi lokasi rencana pembangunan sekaligus habitat burung flamingo.

Selain proyek di kawasan Zvernec, pengembang juga berencana mengubah Pulau Sazan—bekas pangkalan militer rahasia pada era komunis—menjadi destinasi wisata mewah.

Bentrokan dengan Polisi

Ketegangan meningkat pada Kamis ketika para demonstran kembali mengepung gedung parlemen dan berupaya menghalangi anggota parlemen memasuki kompleks tersebut.

Polisi antihuru-hara membubarkan massa menggunakan gas air mata, semprotan merica, serta meriam air.

Sejumlah demonstran dilaporkan mencoba menerobos barikade aparat sehingga bentrokan tidak terhindarkan.

Kepolisian Albania menyatakan 15 personel mengalami luka-luka dan 25 demonstran ditangkap dalam insiden tersebut.

Kelompok HAM Kritik Tindakan Aparat

Komite Helsinki Albania, salah satu organisasi hak asasi manusia terkemuka di negara itu, menyatakan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan sebagian demonstran tidak dapat dijadikan alasan untuk menggunakan kekuatan secara berlebihan.

Pada Sabtu malam, massa kembali berunjuk rasa sambil meneriakkan slogan "Bebaskan para pemuda", merujuk pada 19 demonstran yang masih ditahan polisi di Tirana.

Mereka membawa berbagai poster bertuliskan "Albania tidak untuk dijual" dan "Cabut undang-undang kawasan lindung", sebagai bentuk penolakan terhadap regulasi yang dinilai mempermudah percepatan proyek pembangunan di kawasan konservasi.

Para demonstran juga mengarak replika flamingo berukuran besar sebagai simbol gerakan mereka, serta membawa replika kue ulang tahun raksasa yang menyindir ulang tahun ke-62 Perdana Menteri Edi Rama pada hari yang sama.

Aksi kemudian berlanjut menuju kantor kepolisian untuk menuntut pembebasan para demonstran yang masih ditahan.

Menjelang tengah malam, situasi kembali memanas setelah sebagian peserta aksi melempar batu ke arah gedung polisi dan memecahkan sejumlah jendela.

Aparat kembali merespons dengan menembakkan meriam air untuk membubarkan massa.

Mengapa Proyek Ini Menjadi Sorotan?

Penolakan terhadap proyek ini bukan hanya berkaitan dengan isu lingkungan, tetapi juga menyangkut tata kelola pemerintahan dan transparansi investasi.

Para penentang menilai pembangunan kawasan wisata di wilayah yang dilindungi berpotensi merusak ekosistem pesisir dan habitat satwa migran, sekaligus menjadi simbol kedekatan antara elite politik dan investor besar.

Sementara itu, pemerintah Albania berpendapat proyek tersebut akan meningkatkan investasi asing, membuka lapangan kerja, dan mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama ekonomi negara Balkan tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.