UMKM Perkebunan Jadi Penggerak Hilirisasi Lewat Penguatan Kapasitas dan Akses Pasar
Sanusi July 05, 2026 11:34 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hilirisasi komoditas perkebunan tidak hanya bergantung pada investasi industri berskala besar, tetapi juga pada kemampuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah. 

Karena itu, penguatan akses pasar, jejaring bisnis, serta kapasitas pelaku UMKM menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing sektor perkebunan nasional.

Selama bertahun-tahun, sebagian besar komoditas perkebunan Indonesia masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang dinikmati pelaku usaha di dalam negeri belum optimal.

Baca juga: Forum Apkasi Dorong Perempuan Jadi Penggerak Daya Saing Daerah

Padahal, komoditas seperti kelapa sawit, kelapa, dan kakao memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat daya saing UMKM, sekaligus memperluas pasar hingga tingkat global.

Melihat potensi tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong penguatan hilirisasi melalui pemberdayaan pelaku UMKM.

Upaya itu diwujudkan melalui berbagai program peningkatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, hingga pembukaan peluang kemitraan agar produk perkebunan Indonesia memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansah, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya perkebunan yang besar, namun manfaat ekonominya akan lebih optimal jika diolah menjadi produk inovatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

"Indonesia memiliki kekayaan sumber daya perkebunan yang sangat besar, namun potensi tersebut baru akan memberikan manfaat optimal apabila diolah menjadi produk inovatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar," kata Helmi di sela keikutsertaan BPDP dalam Info Franchise & Business Concept (IFBC) 2026 bertema Grow Beyond Boundaries yang berlangsung pada 3–5 Juli 2026 di Jogja Expo Center dikutip Minggu (5/7/2026).

Menurut Helmi, komoditas perkebunan Indonesia memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Karena itu, BPDP terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk melahirkan lebih banyak UMKM yang inovatif dan berdaya saing.

Baca juga: 68 UMKM Ikuti Pelatihan Kapasitas Bisnis dan Daya Saing, Ini 3 Fokusnya

Ia menambahkan, keikutsertaan BPDP dalam IFBC 2026 merupakan bagian dari komitmen lembaga untuk memperluas jejaring bisnis bagi pelaku UMKM sekaligus memperkenalkan potensi komoditas perkebunan Indonesia kepada calon investor, mitra usaha, dan masyarakat.

"IFBC menjadi wadah strategis untuk memperkenalkan berbagai produk unggulan berbasis komoditas perkebunan kepada masyarakat, pelaku usaha, hingga calon investor. Kami berharap keikutsertaan BPDP dapat membuka lebih banyak peluang kolaborasi dan mendorong UMKM perkebunan untuk terus berkembang, berinovasi, dan naik kelas," ujarnya.

Melalui booth BPDP, pengunjung dapat mengenal beragam produk olahan berbasis kelapa sawit, kelapa, dan kakao.

Pengunjung juga memperoleh informasi mengenai berbagai program pendampingan dan pengembangan UMKM yang difasilitasi BPDP, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, hingga penguatan hilirisasi komoditas perkebunan.

Sejalan dengan semangat IFBC yang membangun ekosistem kewirausahaan dan kemitraan, BPDP turut memperkenalkan berbagai peluang pemanfaatan komoditas perkebunan sebagai bahan baku industri pangan, kosmetik, produk kesehatan, hingga industri kreatif.

Langkah ini diharapkan dapat memperluas peluang usaha berbasis perkebunan sekaligus mengubah cara pandang masyarakat bahwa sektor perkebunan tidak hanya menghasilkan komoditas primer, tetapi juga menjadi fondasi tumbuhnya industri hilir yang modern, inovatif, dan bernilai tambah tinggi.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.