Bumi Capai Titik Terjauh dari Matahari pada Senin, Benarkah Suhu Jadi Lebih Dingin?
Hasiolan Eko P Gultom July 05, 2026 11:34 PM

Bumi Capai Titik Terjauh dari Matahari pada Senin, Benarkah Suhu Jadi Lebih Dingin?

 

TRIBUNNEWS.COM - Bumi akan mencapai aphelion, yakni titik terjauh dalam orbitnya mengelilingi Matahari, pada Senin (6/7/2026).

Pada momen ini, jarak Bumi dengan Matahari mencapai sekitar 152.087.774 kilometer, sementara kecepatan orbit Bumi melambat menjadi sekitar 29,3 kilometer per detik.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Perhimpunan Astronomi Yordania, Ammar Al-Sakaji, yang menjelaskan kalau fenomena ini merupakan bagian normal dari perjalanan tahunan Bumi mengelilingi Matahari.

Baca juga: Arkeolog: Gunung Padang Piramida Tertua di dunia, Dibangun 25 Ribu Tahun Lalu Bukan Oleh Manusia

Bukan Penyebab Cuaca Lebih Dingin

Al-Sakaji menegaskan, meski Bumi berada sekitar 5 juta kilometer lebih jauh dari Matahari dibandingkan saat perihelion pada 3 Januari 2026, kondisi tersebut tidak menyebabkan suhu di belahan Bumi utara turun.

Sebaliknya, negara-negara di belahan Bumi utara justru sedang mengalami puncak musim panas, sementara belahan Bumi selatan memasuki musim dingin.

Hal ini menunjukkan bahwa jarak Bumi ke Matahari bukan faktor utama yang menentukan pergantian musim maupun suhu udara di suatu wilayah.

Kemiringan Sumbu Bumi Jadi Penentu Musim

Menurut Al-Sakaji, perubahan musim terjadi karena kemiringan sumbu rotasi Bumi sekitar 23,5 derajat terhadap bidang orbitnya.

Kemiringan tersebut membuat sudut datang sinar Matahari ke permukaan Bumi berubah sepanjang tahun. Ketika belahan Bumi utara condong menghadap Matahari, wilayah tersebut menerima sinar Matahari lebih langsung dengan durasi siang yang lebih panjang sehingga mengalami musim panas.

Sebaliknya, belahan Bumi selatan menerima penyinaran lebih sedikit sehingga mengalami musim dingin.

Dengan kata lain, intensitas penyinaran Matahari dan lamanya waktu siang jauh lebih berpengaruh terhadap suhu dibandingkan selisih jarak beberapa juta kilometer antara Bumi dan Matahari.

Mengapa Jarak Bumi Berubah?

Bumi tidak mengelilingi Matahari dalam lintasan berbentuk lingkaran sempurna, melainkan orbit elips atau sedikit lonjong.

Akibatnya, jarak Bumi terhadap Matahari terus berubah sepanjang tahun.

Perihelion terjadi pada awal Januari ketika Bumi berada di titik terdekat dari Matahari.
Aphelion terjadi pada awal Juli saat Bumi mencapai titik terjauh.

Perbedaan jarak antara kedua titik tersebut mencapai sekitar 5 juta kilometer, atau sekitar 3 persen dari jarak rata-rata Bumi ke Matahari.

Meski tampak besar, selisih itu relatif kecil dalam skala astronomi sehingga tidak cukup untuk mengubah pola musim di Bumi secara signifikan.

Posisi Aphelion Terus Bergeser

Al-Sakaji juga menjelaskan bahwa tanggal terjadinya aphelion maupun perihelion tidak selalu sama setiap tahun.

Perubahan itu dipengaruhi oleh dinamika orbit Bumi, termasuk tarikan gravitasi Bulan dan planet-planet lain, serta perubahan sangat lambat pada bentuk orbit Bumi (eksentrisitas orbit).

Karena itu, waktu terjadinya kedua fenomena tersebut dapat bergeser beberapa jam atau bahkan satu hingga dua hari dari tahun ke tahun.

Apa Dampaknya bagi Kehidupan di Bumi?

Bagi kehidupan sehari-hari, aphelion hampir tidak menimbulkan dampak langsung.

Fenomena ini tidak menyebabkan perubahan cuaca secara tiba-tiba, tidak memicu musim baru, maupun memengaruhi aktivitas manusia secara signifikan.

Namun, secara ilmiah, aphelion menjadi pengingat bahwa sistem tata surya bekerja mengikuti hukum gravitasi dan mekanika langit yang sangat presisi.

Fenomena ini juga sering digunakan dalam pendidikan astronomi untuk meluruskan anggapan keliru bahwa musim panas terjadi karena Bumi lebih dekat ke Matahari.

Faktanya, saat belahan Bumi utara mengalami musim panas, Bumi justru berada pada posisi paling jauh dari Matahari sepanjang tahun.

Al-Sakaji menegaskan bahwa perbedaan musim dan suhu di Bumi sepenuhnya ditentukan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi beserta arah hadapnya terhadap Matahari, bukan oleh perubahan jarak Bumi dan Matahari.

Dengan demikian, fenomena aphelion menjadi bukti bahwa orientasi Bumi terhadap Matahari jauh lebih penting daripada sekadar kedekatan jaraknya.

 

 

(oln/khbrn/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.