POSBELITUNG.CO--Peristiwa tragis yang menimpa jajaran Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Katingan, Kalimantan Tengah, menjadi salah satu operasi pemberantasan narkoba paling berdarah dalam beberapa tahun terakhir.
Operasi penangkapan dua terduga bandar sabu yang berlangsung di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, berakhir dengan gugurnya tiga anggota kepolisian serta satu warga sipil.
Setelah beberapa hari dilakukan pencarian intensif oleh tim gabungan, dua anggota polisi yang sebelumnya dinyatakan hilang akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di aliran Sungai Katingan.
Dengan ditemukannya kedua korban tersebut, jumlah personel Polri yang gugur dalam operasi tersebut bertambah menjadi tiga orang.
Peristiwa ini memicu perhatian luas karena menggambarkan besarnya risiko yang dihadapi aparat saat memberantas jaringan narkotika di daerah yang memiliki medan berat sekaligus mendapat perlawanan dari kelompok pelaku.
Korban pertama yang ditemukan adalah Bripda Nopandri Ramadhan.
Anggota muda Satresnarkoba Polres Katingan itu ditemukan pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 15.55 WIB setelah tim pencarian menerima informasi adanya sesosok jasad yang mengapung di aliran sungai.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso, mengatakan petugas segera menuju lokasi untuk memastikan identitas korban.
"Hasil pengecekan memastikan korban merupakan Bripda Nopandri Ramadhan. Saat ditemukan, tubuh korban sudah dalam kondisi kaku dan tersangkut di ranting kayu di aliran sungai," ujarnya.
Jenazah kemudian dievakuasi menuju Rumah Sakit Bhayangkara untuk proses identifikasi dan pemeriksaan forensik sebelum diserahkan kepada keluarga.
Polri menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya Bripda Nopandri yang dinilai wafat saat menjalankan tugas negara dalam memberantas peredaran narkotika.
Pencarian kemudian difokuskan terhadap satu personel lain yang belum ditemukan, yakni Aiptu Sumariyanto.
Operasi pencarian melibatkan personel kepolisian, Basarnas, TNI, BPBD, relawan, hingga masyarakat sekitar yang menyisir aliran Sungai Katingan selama beberapa hari.
Harapan agar korban ditemukan selamat akhirnya pupus.
Pada Minggu (5/7/2026) pagi, tim gabungan menemukan jasad Aiptu Sumariyanto di daerah aliran Sungai Rantau Asem, Kecamatan Katingan Tengah.
Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono membenarkan penemuan tersebut.
"Iya benar, ditemukan pagi ini," ujarnya.
Jenazah ditemukan tersangkut di dahan pohon di pinggir sungai sebelum dievakuasi menuju Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya.
Hingga kini kepolisian masih menunggu hasil autopsi guna memastikan penyebab pasti kematian korban.
Insiden berdarah itu bermula ketika Satresnarkoba Polres Katingan melakukan operasi penangkapan terhadap dua terduga bandar sabu berinisial BI dan BU pada Kamis (2/7/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.
Operasi dilakukan di Desa Tumbang Kalemei setelah polisi memperoleh informasi mengenai aktivitas jaringan narkotika yang diduga cukup aktif di kawasan tersebut.
Namun saat petugas mulai melakukan penangkapan, situasi berubah menjadi ricuh.
Menurut kepolisian, keluarga kedua target operasi melakukan perlawanan dan memprovokasi warga sekitar sehingga terjadi bentrokan dengan aparat.
Dalam situasi yang semakin tidak terkendali, anggota polisi mendapat serangan menggunakan senjata tajam dan benda-benda lain.
Sebagian personel juga terpaksa menyelamatkan diri ke arah sungai karena terkepung massa.
Korban pertama dalam operasi tersebut adalah Aipda Yudhie Perdana Putra.
Anggota Satresnarkoba itu meninggal dunia di lokasi setelah mengalami luka serius akibat serangan massa.
Jenazahnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara sebelum dimakamkan secara kedinasan di Kasongan pada Sabtu (4/7/2026).
Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian almarhum, Polri memberikan kenaikan pangkat luar biasa anumerta menjadi Aiptu.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan penghormatan kepolisian dan dihadiri keluarga, rekan sejawat, serta jajaran kepolisian.
Selain Aipda Yudhi, Bripda Nopandri juga memperoleh kenaikan pangkat luar biasa anumerta menjadi Briptu Anumerta.
Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan menyerahkan langsung penghargaan tersebut kepada keluarga sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi korban.
Prosesi pemakaman Briptu Anumerta Nopandri berlangsung penuh haru.
Tangis keluarga pecah ketika jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir setelah sebelumnya disalatkan di Masjid Al Ghufron, Kasongan.
Menyusul gugurnya tiga personel tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan instruksi kepada seluruh jajaran agar tidak memberi ruang bagi bandar narkoba yang melakukan perlawanan terhadap aparat.
Ia menegaskan tindakan tegas terukur harus dilakukan apabila bandar narkoba membahayakan keselamatan petugas maupun masyarakat.
"Lakukan tindakan tegas terukur terhadap bandar atau gembong narkoba yang melawan upaya penegakan hukum, apalagi membahayakan jiwa petugas atau masyarakat," tegas Kapolri.
Menurutnya, jaringan narkotika merupakan ancaman serius bagi masa depan bangsa karena merusak generasi muda Indonesia.
Kapolri juga mengingatkan bahwa Indonesia sedang memasuki periode bonus demografi sehingga pemberantasan narkoba harus menjadi prioritas nasional.
Meski operasi berakhir tragis, penyidik terus melakukan pengembangan.
Sejauh ini polisi telah mengamankan sedikitnya dua orang yang diduga terlibat dalam penyerangan terhadap aparat.
Pelaku pertama berinisial A (38), ditangkap di kawasan Desa Tumbang Pariyei pada Jumat (3/7/2026).
Menurut Kapolres Katingan, pria tersebut masih memiliki hubungan keluarga dengan target operasi.
Selanjutnya polisi juga menangkap seorang pria berinisial R yang diduga ikut menyerang petugas saat bentrokan terjadi.
Penyidik masih mendalami peran masing-masing pelaku dalam insiden tersebut.
Di tengah penangkapan sejumlah pelaku penyerangan, dua target utama operasi yakni BI dan BU justru berhasil meloloskan diri.
Keduanya memanfaatkan situasi ricuh saat bentrokan berlangsung untuk melarikan diri.
Polisi memastikan pengejaran terhadap kedua terduga bandar narkoba masih terus dilakukan.
Tim gabungan kini juga mendalami kemungkinan adanya jaringan yang lebih besar di balik aktivitas peredaran sabu di wilayah Katingan.
Selain tiga anggota kepolisian, bentrokan tersebut juga mengakibatkan seorang warga sipil berinisial TE (40) meninggal dunia.
Korban diketahui merupakan anggota keluarga salah satu target operasi.
Menurut kepolisian, TE diduga terkena tembakan saat bentrokan berlangsung.
Kasus kematian warga sipil tersebut juga masih menjadi bagian dari penyelidikan untuk memastikan kronologi secara utuh.
Peristiwa di Katingan menjadi pengingat bahwa pemberantasan narkotika bukan sekadar penangkapan pelaku, tetapi juga menghadirkan risiko besar bagi aparat penegak hukum.
Tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan kehilangan nyawa saat menjalankan tugas, sementara proses pengejaran terhadap bandar narkoba yang menjadi target operasi masih terus berlangsung.
Polri menegaskan komitmennya untuk menuntaskan kasus ini, menangkap seluruh pelaku yang terlibat dalam penyerangan terhadap aparat, sekaligus memburu dua bandar sabu yang hingga kini masih masuk dalam daftar pencarian.(*)
(Kompas.com/Tribunnews.com/TribunKalteng.com/Tribun-Medan.com/Bangkapos.com)