Apa Itu Ritual Bepupur? Tradisi Luhur Pernikahan Suku Tidung di Kaltara
Cornel Dimas Satrio July 05, 2026 11:48 PM

TRIBUNKALTARA.COM -  Suasana Festival Iraw Tengkayu XV semakin meriah saat pawai budaya digelar pada Sabtu (4/7/2026). Ribuan warga dan wisatawan memadati lokasi untuk menyaksikan berbagai kekayaan adat istiadat dari etnis-etnis yang mendiami Kalimantan Utara (Kaltara).

Di antara banyak penampilan menarik, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah atraksi prosesi pernikahan adat Suku Tidung, khususnya ritual Bepupur.

Dalam pawai tersebut, seorang peserta yang berperan sebagai calon pengantin pria tampil menjalani prosesi bepupur secara hidup.

Tubuhnya dilumuri bedak dingin (pupur) oleh para sesepuh, dikelilingi iringan musik hadrah dan lantunan sholawat. Atraksi ini langsung menyita perhatian penonton.

Banyak warga berebut mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka, seolah-olah menyaksikan pernikahan adat sungguhan di tengah festival.

RITUAL BEPUPUR TIDUNG - Prosesi Ritual Bepupur Tidung, prosesi adat sebelum pernikahan khas Suku Tidung, di Balai Adat Tidung Desa Malinau Seberang, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Minggu (14/11/2021).
RITUAL BEPUPUR TIDUNG - Prosesi Ritual Bepupur Tidung, prosesi adat sebelum pernikahan khas Suku Tidung, di Balai Adat Tidung Desa Malinau Seberang, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Minggu (14/11/2021). (ARSIP - TRIBUNKALTARA.COM/MOHAMMAD SUPRI)

Baca juga: Pawai Budaya di Tarakan Tampilkan Pernikahan Suku Tidung, Calon Pengantin Pria Ikuti Prosesi Bepupur

Apa Sebenarnya Ritual Bepupur?

Bepupur (atau Berpupur) merupakan salah satu tradisi luhur dan sakral dalam rangkaian pernikahan adat Suku Tidung.

Ritual ini dilakukan sebagai tahapan penting setelah prosesi lamaran dan sebelum akad nikah atau resepsi pernikahan.

Secara harfiah, bepupur berarti mengoleskan pupur atau bedak dingin ke sekujur tubuh calon mempelai, baik pria maupun wanita.

Biasanya, ritual ini digelar pada malam hari di rumah calon pengantin masing-masing. Sebelum proses pembaluran pupur dimulai, terlebih dahulu dilakukan prosesi khusus dengan air penyejuk yang dalam bahasa Tidung disebut timug bensalui. Calon pengantin pria kemudian didudukkan di atas tikar anyam yang diangkat ke tengah ruangan agar dapat disaksikan oleh banyak orang. 

Prosesi ini melibatkan tokoh agama, tokoh adat, dan sesepuh masyarakat dengan jumlah ganjil (5, 7, atau 9 orang). Mereka secara bergantian mengoleskan pupur mulai dari wajah, tangan, badan, hingga ujung telapak kaki.

Pada pengantin pria, acara ini kerap berlangsung meriah dan disaksikan banyak kerabat serta tetangga, diiringi kesenian hadrah, zapin, serta lantunan sholawat yang menambah nuansa sakral dan khidmat.

Bahan Pupur

Pupur yang digunakan bukan sembarang bedak. Keluarga dekat calon pengantin meraciknya sendiri dengan bahan-bahan alami khas daerah, antara lain:

  • Beras ketan (bagas katom)
  • Air santan kelapa
  • Umbus pandan (pandan muda)
  • Kulit buah langsat

Campuran ini menghasilkan bedak dingin yang sejuk, harum, dan diyakini memiliki kekuatan membersihkan serta menyejukkan.

Bahan-bahan tersebut juga sarat makna simbolis: beras ketan melambangkan kesuburan dan rezeki, pandan memberikan keharuman, sementara santan menjadi simbol keutuhan dan kelembutan.

Makna di Balik Ritual

Lebih dari sekadar ritual kecantikan, Bepupur memiliki filosofi yang sangat dalam. Ritual ini dimaksudkan untuk membersihkan calon pengantin dari segala hal buruk, menolak bala, serta mensucikan jiwa dan raga sebelum memasuki babak baru kehidupan rumah tangga.

Dengan dibalur pupur, calon pengantin diharapkan tampil bersih, wangi, bercahaya, dan siap membangun keluarga sakinah – keluarga yang harmonis, penuh berkah, dan dilimpahi kasih sayang.

Bepupur juga melambangkan kebersihan jiwa, pikiran positif, serta pengharapan agar rumah tangga yang dibangun terhindar dari segala gangguan dan cela.

Tradisi ini begitu penting sehingga pada tahun 2021, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menetapkan Bepupur Tidung sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dengan nomor registrasi 2021101415.

Pengakuan ini semakin memperkuat posisinya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Suku Tidung di Kaltara. 

Ritual Bepupur di Festival Iraw Tengkayu XV

Penampilan ritual Bepupur dalam Festival Iraw Tengkayu XV tahun ini bukan sekadar hiburan semata. Ini menjadi wujud nyata upaya pelestarian dan promosi budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Melalui festival tahunan seperti Iraw Tengkayu, generasi muda diajak untuk mengenal dan menghargai warisan leluhur mereka.

Ketua penyelenggara festival berharap, dengan ditampilkannya prosesi adat ini secara langsung, masyarakat semakin memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Bukan hanya sebagai tontonan, melainkan juga sebagai pelajaran hidup tentang kesucian, persiapan diri, dan keharmonisan dalam berumah tangga.

Di tengah gemerlap festival, ritual Bepupur mengingatkan kita semua bahwa di balik kemajuan zaman, masih ada tradisi-tradisi agung yang terus dijaga dan diwariskan.

Tradisi yang tidak hanya memperindah pernikahan, tetapi juga memperkuat fondasi kehidupan masyarakat Suku Tidung.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.