TRIBUNNEWS.COM - Di balik gemuruh seruan "Matilah Amerika" di Grand Mosalla, Teheran, dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial.
Saat jutaan rakyat Iran yang mengiringi jenazah Ayatollah Ali Khamenei diselimuti duka mendalam pada Sabtu (5/7/2026), Trump secara terbuka mengakui keterkejutannya melihat ribuan warga Iran menangisi kepergian pemimpin mereka.
Baca juga: Investigasi Media Israel: Klaim Penghancuran Total Rudal Iran Tak Sejalan Laporan Intelijen
Selama ini, narasi yang dibangun di Washington adalah bahwa kepemimpinan Khamenei tidak didukung oleh rakyatnya. Namun, yang terlihat malah sebaliknya.
Kendati demikian, Trump mempertanyakan ketulusan emosi tersebut.
"Mungkin air mata palsu," kata Trump dalam wawancara dengan Axios.
Sumpah Balas Dendam
Berbanding terbalik dengan keraguan Trump, suasana di Teheran justru menunjukkan loyalitas yang militan.
Ribuan pelayat membawa bendera merah, simbol syahid dan janji pembalasan dalam tradisi Syiah, bersumpah akan menuntut balas atas serangan udara 28 Februari lalu yang merenggut nyawa Khamenei.
Nuansa revolusi terasa sangat kental. Warga dari berbagai kalangan tampak bersiap mengikuti garis komando dari pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, untuk membalas tindakan tersebut.
Provokasi di Tengah Duka
Di tengah prosesi berkabung, Trump justru kembali melontarkan ancaman. Ia mengeklaim bahwa posisi para pejabat tinggi Iran yang berkumpul di satu tempat saat pemakaman sebenarnya adalah sasaran empuk.
"Mereka semua ada di sana. Satu tembakan dan kami bisa menghabisi mereka semua. Tetapi kami tidak akan melakukan itu karena nanti tidak ada lagi yang bisa diajak bernegosiasi," klaim Trump.
Pernyataan ini menambah panas suhu di kawasan. Meski Trump mengklaim kedua pihak sepakat untuk melakukan jeda selama sepekan untuk rangkaian pemakaman, pernyataan keras dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari padam.
Sementara itu, Pemerintah Iran telah menetapkan hari berkabung nasional hingga Senin mendatang, dengan perkiraan 10 juta orang akan berpartisipasi dalam prosesi di seluruh negeri.
Iringan jenazah Khamenei dijadwalkan melalui Teheran sebelum dibawa ke situs suci di Qom, Najaf, dan Karbala.
Perjalanan terakhir ini akan berakhir dengan pemakaman di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis mendatang.