BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Di tengah cuaca yang terik, kebakaran lahan terjadi di wilayah Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), tepatnya di kawasan Pembataan, Landasan Ulin Selatan, Lianganggang, Minggu (5/7).
Dari video amatir warga, kebakaran awalnya terlihat dari kejauhan dengan kemunculan asap pekat di area lahan sekitar pukul 13.13 Wita.
Sejumlah relawan pemadam kebakaran dan petugas TRC BPBD setempat kemudian langsung menuju lokasi untuk memadamkan api.
Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Banjarbaru, Harun Ar Rasyid, membenarkan kejadian karhutla di kawasan Landasan Ulin Selatan.
Ia mengatakan, hingga pukul 15.30 Wita atau sekitar dua jam kebakaran terjadi, api masih belum dapat dipadamkan sepenuhnya dan terus membakar semak belukar. “Saya dan petugas di masih di lokasi, api belum padam sampai saat ini,” katanya kepada BPost.
Baca juga: Menjaga Sumber Kehidupan
Baca juga: Empat Jenis Penguasa
Meski demikian, petugas terus melakukan proses pemadaman untuk memastikan api benar-benar padam sepenuhnya dan lahan yang terbakar tidak meluas.
Rasyid juga mengatakan bahwa proses pemadaman terbantu oleh ketersediaan sumber air di sungai sekitar lokasi lahan yang terbakar. “Untuk proses pemadaman, masih ada air sungai,” ujarnya.
Selain di Banjarbaru, memasuki musim kemarau sejumlah titik panas atau hotspot mulai terdeteksi di Kalsel. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas II Syamsudin Noor di Banjarbaru menyampaikan berdasarkan hasil deteksi satelit yang diperbarui tanggal 4 Juli 2026, terpantau 35 titik panas yang tersebar di enam kabupaten berbeda dengan tingkat kepercayaan dari sedang atau berwarna kuning hingga merah.
Kepala Stasiun Meteorologi, Ota Welly Jenni Thallo, mengatakan memasuki musim kemarau di beberapa wilayah Kalsel mulai terjadi peningkatan jumlah hotspot atau titik panas.
Ia juga mengatakan bahwa mereka bersama pihak terkait akan mengikuti rapat koordinasi (rakor) di tingkat Provinsi Kalsel membicarakan perkembangan karhutla, Senin (6/7) hari ini.
Dari data BMKG, Tapin mencatatkan jumlah titik panas tertinggi dengan total 14 titik. Wilayah Lokpaikat menjadi area yang paling banyak menunjukkan titik panas, sisanya seperti di Kecamatan Bungur dan Tapin Selatan.
Selain Tapin, wilayah lain seperti Hulu Sungai Selatan, Tabalong, Tanahlaut, Balangan, hingga Kotabaru juga terdeteksi adanya titik panas.
Tingginya titik panas di Tapin diakui Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tapin, Muhammad Noor. Dikatakannya terdapat empat kecamatan yang selama ini menjadi kawasan paling rawan terjadi karhutla, yakni Kecamatan Candi Laras Selatan (CLS), Tapin Tengah, Tapin Selatan, dan Bakarangan. “Wilayah tersebut relatif lebih rawan karena banyak terdapat semak belukar serta lahan gambut, meskipun lapisan gambutnya tidak terlalu tebal,” ujar Muhammad Noor.
Menurutnya, upaya mitigasi terus dilakukan BPBD bersama pemerintah desa, relawan, dan berbagai pihak terkait. Salah satu langkah utama ialah mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Muhammad Noor menjelaskan, keberadaan sumur resapan maupun embung sebagai sumber air untuk penanganan karhutla belum tersedia di seluruh wilayah rawan.
Pembuatan fasilitas tersebut umumnya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Salah satu contohnya berada di Desa Hiyung, tempat para petani cabai membangun embung secara mandiri guna mendukung kebutuhan air, termasuk saat terjadi kebakaran lahan.
Kewaspadaan juga dilakukan jajaran petugas di Tanahlaut. Kepala Pelaksana BPBD Tala Aspi Setia Rahman mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan perkembangan cuaca serta kondisi lapangan.
BPBD masih memfokuskan pengawasan di Kecamatan Tambangulang, Batibati, dan Kurau yang selama ini menjadi kawasan dengan tingkat kerawanan karhutla cukup tinggi.
Apabila kemudian status penanganan meningkat menjadi tanggap darurat, BPBD akan membuka posko lapangan, dengan Desa Sungaipinang di Kecamatan Tambangulang diproyeksikan menjadi posko utama karena kawasan tersebut kerap menjadi titik awal munculnya kebakaran lahan. (lis/riz/tar/roy/ady)