Pasang Panel Surya untuk Rumah Tinggal, Warga Alalak Utara Banjarmasin Ini Tak Terpengaruh Pemadaman
Irfani Rahman July 06, 2026 08:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN- Ketika malam tiba, beberapa rumah di kawasan Alalak Utara, Banjarmasin Utara diselimuti gelap akibat pemadaman listrik bergilir.

Namun, ada satu rumah yang tetap bercahaya. Lampu di teras menyala. Ruang tamu tetap terang. Aktivitas di dalam rumah pun berlangsung seperti biasa.

Rumah itu milik Roy Wishnu Purnama, seorang pegawai negeri sipil di Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat (BKOM) Provinsi Kalimantan Selatan.

Saat warga lain menyalakan lilin atau menghidupkan genset, Roy cukup mengaktifkan sistem panel surya yang telah ia rakit sendiri sejak beberapa tahun lalu. “Kalau lampu mati malam di kampung sini, rumah kami saja yang tetap terang,” ujar Roy saat berbincang dengan BPost, Sabtu (4/7).

Roy sebenarnya sudah mengenal panel surya sejak lama. Namun, keinginannya baru benar-benar terwujud pada 2020, ketika Pandemi Covid-19 membuat aktivitas lebih banyak dilakukan dari rumah. Waktu luang itu ia manfaatkan untuk belajar secara otodidak melalui buku maupun video di YouTube.

Baca juga: Lebih 2 Jam Atasi Kebakaran Lahan di Banjarbaru, Terdata 35 Titik Panas di Kalsel

Baca juga: BREAKING NEWS - Perkelahian di Simpang Bali Banjarmasin, Satu Warga Terluka Pelaku Melarikan Diri

Awalnya, ia hanya memasang satu panel surya. Setelah merasakan manfaatnya, Roy terus mengembangkan sistem tersebut hingga kini menggunakan empat panel. “Mulanya satu panel dulu. Ternyata manfaatnya bagus, akhirnya saya tambah sampai empat panel,” katanya.

Roy menjelaskan sistem yang digunakan di rumahnya merupakan kombinasi on-grid dan off-grid.

Pada siang hari, listrik dari panel surya langsung digunakan untuk mengoperasikan berbagai peralatan rumah tangga melalui sistem on-grid.

Sementara pada malam hari ketika terjadi pemadaman, sistem off-grid mengambil alih dengan memanfaatkan energi yang telah tersimpan di baterai. “Kalau padam malam hari, tinggal aktifkan sistem off-grid. Lampu tetap menyala,” ujarnya.

Menurut Roy, manfaat sistem tersebut benar-benar terasa ketika Kalsel beberapa waktu terakhir mengalami pemadaman listrik bergilir.

Sebelum fenomena pemadaman listrik bergilir, Roy sudah mendapatkan manfaatkan dengan mampu menghembat pengeluaran.

Jika kapasitas baterai diperbesar, kata dia, bukan hanya lampu yang menyala, tetapi juga peralatan elektronik lainnya.

Ia bahkan berencana meningkatkan kapasitas instalasi panel surya di rumahnya menjadi 2 kilowatt dengan menambah hingga 20 panel dan beralih ke sistem hybrid, yakni menggabungkan jaringan PLN, panel surya, dan baterai penyimpanan.

Namun, rencana itu belum bisa diwujudkan lantaran harga komponen masih relatif mahal. “Ingin bikin sistem hybrid. Cuma memang investasinya masih cukup besar,” katanya.

Menurut Roy, salah satu kendala pengembangan energi surya di Indonesia terletak pada teknologinya, melainkan harga perangkat sebagian besar bergantung pada impor.

“Awal saya beli itu saja harganya Rp 700 ribu untuk satu panel. Sekarang sudah naik lagi,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah lebih serius mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan melalui pemberian insentif maupun subsidi komponen.

“Kalau pemerintah benar-benar mendukung energi terbarukan, khususnya tenaga surya, komponen-komponennya sebaiknya disubsidi. Harganya masih mahal karena kebanyakan masih impor,” ujarnya.

Roy juga berharap industri panel surya dan komponen pendukung mulai dikembangkan di dalam negeri, sehingga harga menjadi lebih terjangkau sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

“Bukan hanya supaya masyarakat lebih mudah membeli, tapi juga agar industri panel surya bisa tumbuh di Indonesia,” harapnya. (Muhammad Syaiful Riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.