Awalnya Cuma Berstatus Pekerja, Anto Kini Mandiri Punya Usaha Tanaman Hias Sendiri
M Syofri Kurniawan July 06, 2026 09:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Riyanto (40) tampak sibuk merapikan tanaman hias yang dijualnya di sepanjang Jalan Raya Baturraden, Kabupaten Banyumas.

Di dekat Kantor Kecamatan Baturraden, telah dikenal luas sebagai sentral penjualan tanaman hias.

Ada sejumlah 25 pedagang tanaman hias yang berjajar di sepanjang jalan dengan menyewa tanah bengkok. Satu di antaranya Riyanto yang akrab disapa Anto.

Dia sudah sekira 14 tahun menggeluti usaha tanaman hias dengan menyewa lahan seluas 700 meter per segi milik Pemerintah Desa Rempoah.

0Namun siapa sangka, Anto dulunya hanya seorang pekerja dari penjual tanaman hias yang nekat membuka usahanya.

Anto mengatakan, dia dulu ikut orang selama beberapa tahun di usaha tanaman hias. Tetapi dia kemudian ingin membuka usahanya sendiri.

penjual tanaman
MENATA TANAMAN - Pedagang di Sentral Tanaman Hias Jalan Raya Baturraden, tepatnya di Desa Rampoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, menata tanaman.

"Mulai dari usaha kecil, karena belum begitu pengalaman. Modal awal kira-kira Rp 25 juta, itu hanya dapat sekira 100 tanaman" katanya, Jumat (3/7).

Anto mengatakan, usahanya lambat laun berkembang dan memiliki banyak langganan.

Saat ini dia memiliki sekira 500 jenis tanaman hias yang nilainya mencapai sekira Rp 100 juta. 

Dalam satu minggu, dia bisa menjual puluhan tanaman hias.

"Alhamdulillah, dari yang awalnya kesulitan di modal, kini dapat berkembang. Saya tidak hanya mengandalkan pengunjung datang, kadang ikut kontraktor untuk bikin taman," ungkapnya.

Anto saat ini memiliki dua karyawan yang membantunya merawat tanaman hias.

Dia pun secara langsung merawat tanaman-tanaman itu, dari penumpukan hingga membuatnya lebih bagus seperti membersihkan batang dan memotong ranting.

Tanaman hias yang dijual mulai dari bougenville, melati, kucai mini, begonia, tanaman gantung, kamboja fosil, anting putri, hingga bonsai.

"Di sini yang diunggulkan tanaman besar, seperti kamboja fosil dan bonsai. Tanaman di sini dari berbagai daerah, dari Jakarta, Cilacap dan sebagainya," katanya.

Menurut Anto, kebunnya ramai didatangi pembeli saat hari Sabtu-Minggu, baik anak muda, orangtua maupun kalangan ibu-ibu.

Ibu-ibu biasanya membeli tanaman jenis aglonema, harganya beragam mulai Rp 10 ribu sampai jutaan rupiah.

Anak muda carinya tanaman-tanaman kecil, seperti melati, kucai mini dan sebagainya, harga mulai Rp 100 ribu. Sedangkan orangtua biasanya cari bonsai, harganya mulai Rp 500 ribu-20 juta.

"Paling favorit saat ini bougenville, karena musimnya pas, saat musim panas berbunga jadi kelihatan cantik," jelasnya.

Pernah Alami Rugi

Anto mengatakan, usahanya tidak selalu mulus tanpa jatuh bangun.

Dia yang juga banyak menjual tanaman bonsai sering mengalami kerugian. Tanaman bonsainya mati karena ketidaktelitian saat membeli.

"Jadi bonsainya mati padahal baru beli. Misal beli saat di lokasi kelihatannya bagus dan baik-baik saja, tapi saat sudah dibawa pulang ternyata kena penyakit," katanya.

Menurut Anto, penyakit yang sering terkena di tanaman namanya penyakit bubuk. Meski begitu, tidak banyak pohon yang terkena, hanya satu-dua saja. Sedangkan masa-masa untung terakhir saat pandemi Covid-19.

"Saat pandemi Covid-19 itu saya termasuknya untung. Mungkin saat itu banyak yang butuh hiburan, akhirnya beli tanaman hias," ungkapnya.

Diminati Banyak Kalangan

Berbagai macam tanaman hias banyak dijual di sepanjang Jalan Raya Baturraden, tepatnya di Desa Rampoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas.

Mulai dari tanaman gantung, lalu bougenville, melati, kucai mini, begonia, hingga kamboja fosil, anting putri, dan bonsai.

Di sepanjang jalan tersebut, ada sekira 25 pedagang tanaman hias.

Sentral tanaman hias tersebut juga banyak dikunjungi oleh berbagai masyarakat kalangan umur, dari muda, dewasa hingga orangtua. 

Seorang warga, Wawan (40) mengatakan, dia sedang mencari tanaman untuk ditanam di halaman rumah. Dia memang memiliki hobi merawat tanaman. Biasanya, saat hari Sabtu dan Minggu, dia semangat berburu tanaman yang bagus.

"Ada banyak tanaman hias di rumah, seperti kuping gajah, aglonema, kaktus dan banyak lagi," katanya, Jumat (03/07/2026).

Wawan mengatakan, hobi merawat tanaman hias ini menjadi hiburan dari kejenuhan padatnya rutinitas kerja. Saat dilihat, mata dan pikiran jadi lebih fresh.

"Sekalipun masih tanaman kecil-kecilan, tapi cukup menghibur," ungkapnya.

Warga lain, Inayah (30) mengatakan, dia juga sering membeli tanaman hias di sepanjang Jalan Raya Baturraden. Biasaya jenis bougenville atau jenis aglonema. Selain karena sederhana, ukuran tidak terlalu besar, harganya terjangkau hanya puluhan ribu.

"Kalau saya yang penting ada tanaman, gak harus yang mahal. Jadi bisa buat pemandangan rumah lebih bagus," katanya.

Menurut Inayah, merawat tanaman hias juga bukan sesuatu yang sulit atau membutuhkan biaya banyak. Dia cukup meluangkan waktu untuk menyiram dan merapikan tanamannya.

"Tanaman hias ini mudah merawatnya. Yang penting rutin disiram saja," jelasnya. (Fajar Bahrudin Achmad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.