Bangka Belitung Perkuat Pengendalian Inflasi, Gencarkan Operasi Pasar 
suhendri July 06, 2026 10:50 AM

PANGKALPINANG, BABEL NEWS - Bank Indonesia menilai inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Juni 2026 masih terkendali di tengah tekanan kenaikan harga energi global dan sejumlah komoditas pangan.

Stabilnya inflasi tersebut menjadi indikator penting terjaganya daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Pengendalian inflasi akan terus diperkuat agar kelompok inflasi pangan tetap terjaga sesuai sasaran target nasional," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Rommy Sariu Tamawiwy kepada awak media, Jumat (3/7/2026).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami inflasi sebesar 0,35 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,92 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Juni 2026.

Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen, serta lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,34 persen secara tahunan.

Rommy menyebutkan, tekanan inflasi Bangka Belitung pada Juni 2026 terutama berasal dari kelompok transportasi dan kelompok makanan, minuman, serta tembakau.

Kelompok transportasi mengalami kenaikan seiring meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik di Selat Hormuz.

Kondisi tersebut berdampak pada naiknya harga avtur yang kemudian mendorong kenaikan tarif angkutan udara.

Selain itu, penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi, khususnya pertamax pada 10 Juni 2026, turut memberi tekanan terhadap inflasi bulanan.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menyumbang inflasi, terutama dari kenaikan harga daging ayam ras.

Kenaikan harga komoditas tersebut dipicu terbatasnya pasokan pasca-Iduladha, di tengah meningkatnya permintaan masyarakat menjelang tradisi perayaan Tahun Baru Hijriah di Bangka Belitung.

Untuk menjaga stabilitas harga, kata Rommy, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus memperkuat sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Hingga Juni 2026, Bank Indonesia dan pemerintah daerah telah menyelenggarakan 10 kali high level meeting (HLM) untuk merumuskan langkah strategis pengendalian inflasi, khususnya pada komoditas pangan di Negeri Serumpun Sebalai.

“Selain melalui forum koordinasi, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga menggencarkan intervensi pasar melalui penyelenggaraan operasi pasar murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah. Sepanjang semester pertama 2026, kegiatan tersebut telah dilaksanakan sebanyak 64 kali di berbagai wilayah Bangka Belitung,” tutur Rommy.

Bank Indonesia, lanjut dia, juga mendorong perluasan kerja sama antardaerah (KAD) untuk menjaga kelancaran distribusi serta menjamin ketersediaan pasokan pangan ke Bangka Belitung.

Tidak hanya fokus pada stabilisasi harga, Bank Indonesia juga aktif melakukan pendampingan terhadap pelaku UMKM, khususnya di sektor pertanian, guna mendukung program ketahanan pangan nasional.

Edukasi kepada masyarakat terkait pola konsumsi bijak juga terus dilakukan sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi.

Lebih lanjut, Rommy mengatakan, tantangan pengendalian inflasi ke depan masih cukup besar seiring ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik internasional.

Karena itu, penguatan strategi 4K, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi efektif, perlu terus dioptimalkan.

"Inflasi yang tetap rendah dan stabil menjadi modal penting dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah tantangan perekonomian global," ujar Rommy. (t2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.