Menjaga Sumber Kehidupan
Irfani Rahman July 06, 2026 07:51 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- KEMARAU ekstrem mulai terasa dampaknya di wilayah Kalimantan Selatan. Selain suhu udara yang kian panas beberapa waktu belakangan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang semakin sering terjadi, juga mulai menyusutnya sumber air bersih warga.

Kesulitan mendapatkan pasokan air bersih, misalnya, mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah di Kabupatan Banjar. Tatah Makmur, Astambul, dan Beruntung Baru merupakan wilayah yang paling terdampak dan menjadi langganan pendistribusian air bersih saat kemarau.

Terkait hal itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, mengungkapkan, pihaknya mulai siaga. Sejumlah sarana disiapkan untuk mengantisipasi kekeringan.

Sarana yang disiapkan antara lain 130 unit tandon air yang masing-masing berkapasitas 1.200 liter.  Digunakan untuk mendukung pendistribusian air bersih ke wilayah terdampak kekeringan.

Sementara di Kabupaten Tanahlaut, PT Air Minum (PTAM) Berkah Banua Kabupaten Tanahlaut juga mengambil langkah cepat memanfaatkan embung di kawasan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Bajuin sebagai sumber air baku untuk mempercepat pemulihan distribusi air bersih yang sempat terganggu.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PTAM Berkah Banua H Akhmad Hairin, keputusan tersebut diambil setelah kualitas air Sungai Tabanio yang selama ini menjadi sumber utama produksi mengalami penurunan drastis akibat musim kemarau. Meningkatnya suhu udara menyebabkan debit sungai menyusut, sementara tingkat kekeruhan air melonjak tajam.

Pemanfaatan embung ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga akan dioptimalkan sebagai sumber air baku selama kondisi Sungai Tabanio belum kembali normal.

Langkah antisipasi yang diambil kedua instansi tersebut menunjukkan bagaimana kemarau yang baru berlangsung ini sudah sangat memengaruhi ketersediaan pasokan air bersih. Padahal jika dilihat sisi geografis, Kalimantan Selatan memiliki banyak sungai yang seharusnya bisa menjadi potensi sumber air bersih.

Hal ini juga menimbulkan pertanyaan. Apakah kondisi saat ini juga merupakan dampak dari pembangunan wilayah dan tata kelola pemanfaatan sumber daya alam di Kalsel yang tidak sejalan dengan perlindungan sumber daya air? Lalu apakah selama ini perilaku masyarakatnya juga sudah menghargai dan memanfaatkan sumber daya air dengan bijaksana?

Air merupakan kehidupan. Menjaga sumber air sama dengan manjaga sumber kehidupan.

Sejarah dunia sudah mencatat. Manusia bisa hidup tanpa minyak bumi, peradaban tetap berjalan tanpa batu bara.

Namun tak satu pun manusia yang bisa hidup dan bertahan tanpa air. Jadi sudah sepantasnya jika sumber daya air harus dilindungi dan dijaga, serta mendapatkan perhatian utama dalam setiap aspek yang berkaitan dengan kehidupan manusia. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.