3 Tingkat Kebahagiaan yang Membentuk Hidup Lebih Bermakna
Joko Widiyarso July 06, 2026 10:02 AM

TRIBUNJOGJA.COM- Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata "bahagia"?

Mungkin ada yang membayangkan liburan ke tempat impian, membeli barang yang sudah lama diinginkan, atau berkumpul bersama orang-orang terdekat. 

Ada pula yang merasa bahagia saat berhasil menyelesaikan tugas kuliah, mencapai target pekerjaan, atau membantu orang lain.

Setiap orang tentu memiliki cara masing-masing dalam merasakan kebahagiaan. 

Namun, menurut Positive Psychology, kebahagiaan ternyata bukan hanya tentang merasa senang. 

Ada beberapa cara seseorang dapat menjalani hidup yang membuatnya merasa lebih bahagia dan puas.

Psikolog Amerika, Martin E. P. Seligman, menjelaskan bahwa kebahagiaan dapat dipahami melalui tiga tingkatan atau tiga cara menjalani hidup, yaitu Pleasant Life, Good Life, dan Meaningful Life. 

Menurut Seligman, kebahagiaan tidak hanya diukur dari rasa senang, tetapi juga dari aktivitas yang dijalani dan makna yang ditemukan dalam hidup. 

Lalu apa perbedaan ketiganya?

1. Pleasant Life: Menikmati Hal-Hal yang Membawa Emosi Positif

20260607- Ilustrasi Pleasent Life
Ilustrasi Tingkat Kebahagiaan Pleasant Life. (Generated by ChatGPT)

Pleasant Life merupakan tingkatan kebahagiaan yang berfokus pada pengalaman-pengalaman yang menghadirkan emosi positif. 

Dalam tahap ini, seseorang merasakan kebahagiaan melalui berbagai momen yang menyenangkan, seperti rasa senang, nyaman, syukur, atau puas terhadap apa yang sedang dialaminya.

Contohnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Setelah menjalani minggu yang padat dengan tugas kuliah atau pekerjaan, kamu mungkin memutuskan untuk menonton film favorit, menikmati makanan kesukaan, berjalan-jalan di akhir pekan, atau sekadar menghabiskan waktu mengobrol bersama teman. 

Aktivitas-aktivitas tersebut dapat membantu mengurangi stres sekaligus menghadirkan perasaan bahagia.

Di era media sosial, bentuk Pleasant Life juga sering muncul dalam hal-hal sederhana. 

Misalnya, merasa senang karena postingan Anda mendapat banyak respons positif, akhirnya berhasil membeli barang yang sudah lama masuk daftar keinginan, atau memperoleh tiket konser. 

Semua pengalaman tersebut dapat memunculkan emosi positif yang membuat suasana hati menjadi lebih baik.

Namun, menurut Seligman, kebahagiaan yang hanya bergantung pada kesenangan memiliki sifat yang cenderung sementara.

Seiring berjalannya waktu, manusia akan terbiasa dengan hal-hal yang sebelumnya terasa begitu membahagiakan. 

Akibatnya, rasa senang itu perlahan memudar dan muncul keinginan untuk mencari pengalaman menyenangkan berikutnya.

Sebagai contoh, seseorang mungkin merasa sangat gembira ketika membeli handphone baru. Akan tetapi, beberapa bulan kemudian perasaan tersebut mulai berkurang. 

Bahkan, ketika muncul model terbaru, ia kembali merasa ingin memiliki yang lebih baru. Hal serupa juga bisa terjadi pada berbagai bentuk kesenangan lainnya.

Menikmati hal-hal tersebut bukanlah hal yang salah karena emosi positif tetap penting bagi kesejahteraan psikologis. 

Akan tetapi, jika kebahagiaan hanya bergantung pada kesenangan sesaat, seseorang bisa terus mengejar hal-hal baru tanpa benar-benar merasa puas dalam jangka panjang.

2. Good Life: Menemukan Kebahagiaan dalam Proses

20260607- Ilustrasi Goog Life
Ilustrasi Tingkat Kebahagiaan Good Life. (Generated by ChatGPT)

Berbeda dengan Pleasant Life yang berpusat pada kesenangan, Good Life lebih menekankan pada keterlibatan penuh dalam suatu aktivitas. 

Menurut Seligman, seseorang dapat merasakan kebahagiaan ketika menggunakan kemampuan, bakat, atau kekuatan terbaik yang dimilikinya untuk melakukan sesuatu yang benar-benar ia nikmati.

Misalnya, saat menulis cerita, mengedit video, menggambar, memasak, bermain musik, atau mengerjakan hal yang sesuai dengan minat Anda. 

Aktivitas tersebut mungkin tetap membutuhkan usaha dan terasa menantang, tetapi justru membuatmu semakin menikmati prosesnya.

Dalam Positive Psychology, pengalaman seperti ini berkaitan dengan kondisi yang dikenal sebagai flow, yaitu keadaan ketika seseorang begitu tenggelam dalam aktivitas yang sedang dilakukan sehingga perhatian sepenuhnya tertuju pada pekerjaan tersebut.

Hal yang sama juga bisa dialami oleh seseorang yang senang membuat konten, bermain musik, atau menjalankan usaha kecil. 

Meski melelahkan, aktivitas tersebut memberikan kepuasan tersendiri karena sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

3. Meaningful Life: Ketika Hidup Memiliki Tujuan yang Lebih Besar

20260607- Ilustrasi Kebahagiaan
Ilustrasi Tingkat Kebahagiaan Meaningful Life. (Generated by ChatGPT)

Jika Pleasant Life membuat seseorang merasakan kebahagiaan melalui berbagai pengalaman yang menyenangkan, dan Good Life muncul ketika seseorang menikmati proses melakukan sesuatu yang sesuai dengan kekuatannya, maka Meaningful Life mengajak seseorang melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang lebih luas.

Menurut Martin Seligman, Meaningful Life adalah kehidupan yang dijalani dengan menggunakan kemampuan dan kelebihan diri untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi. 

Seseorang tidak hanya bertanya, "Apa yang membuatku bahagia?", tetapi juga, "Apa yang bisa kulakukan agar hidupku memiliki arti?"

Makna tersebut tidak harus diwujudkan melalui hal-hal besar. 

Dalam kehidupan sehari-hari, Meaningful Life bisa hadir lewat tindakan sederhana yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Misalnya, seorang mahasiswa meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak sebagai relawan, membantu teman, atau aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar. 

Mungkin kegiatan tersebut tidak selalu terasa menyenangkan atau mudah, tetapi ada kepuasan tersendiri karena merasa apa yang dilakukan membawa dampak positif bagi orang lain.

Contoh lainnya adalah seseorang yang memiliki hobi menulis. 

Awalnya ia hanya menikmati proses menulis sebagai bentuk Good Life. Namun ketika tulisannya mulai membantu pembaca memperoleh informasi atau sudut pandang baru, aktivitas tersebut juga dapat menjadi bagian dari Meaningful Life karena memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar kepuasan pribadi.

Hal inilah yang membedakan Meaningful Life dengan dua tingkatan sebelumnya. 

Kebahagiaan tidak lagi hanya berasal dari apa yang dirasakan atau dinikmati, tetapi juga dari kesadaran bahwa hidup yang dijalani memiliki tujuan dan nilai.

Ketiga Tingkatan Ini Saling Melengkapi

Meskipun dibagi menjadi tiga tingkatan, bukan berarti seseorang harus mencapainya secara berurutan. 

Dalam kehidupan sehari-hari, ketiganya justru bisa hadir secara bersamaan.

Bayangkan Anda menghabiskan sore bersama teman di sebuah kafe sambil menikmati minuman favorit. 

Momen tersebut bisa menjadi bagian dari Pleasant Life karena menghadirkan emosi positif.

Di malam harinya, Anda menghabiskan waktu menulis cerita hingga tidak sadar waktu sudah larut. 

Pengalaman itu mencerminkan Good Life karena Anda menikmati proses berkarya sesuai dengan minat dan kemampuanmu. 

Beberapa waktu kemudian, cerita yang Anda tulis ternyata menghibur, menginspirasi, atau membuat pembaca merasa tidak sendirian.

Pada saat itulah, aktivitas yang sama juga dapat menjadi bagian dari Meaningful Life karena memberikan manfaat bagi orang lain. 

Contoh tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari satu sumber. 

Ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk bersantai dan menikmati hidup. 

Di kesempatan lain, kita merasa puas karena berhasil mengembangkan kemampuan diri. 

Sementara pada situasi tertentu, kebahagiaan justru muncul ketika kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan berarti bagi orang lain.

Karena itu, tidak tepat jika menganggap salah satu tingkatan lebih baik daripada yang lain. 

Ketiganya memiliki peran masing-masing dalam membantu seseorang menjalani kehidupan yang lebih utuh.

Pada akhirnya, konsep tiga tingkat kebahagiaan dari Martin Seligman mengingatkan bahwa bahagia bukan hanya tentang mencari kesenangan sesaat. 

Menikmati momen-momen kecil memang penting, tetapi kebahagiaan juga dapat tumbuh ketika kita terlibat sepenuh hati dalam aktivitas yang disukai dan menemukan tujuan yang membuat hidup terasa lebih bermakna.

Mungkin setelah membaca penjelasan ini, Anda bisa mencoba bertanya kepada diri sendiri. 

Selama ini, kebahagiaan seperti apa yang paling sering Anda rasakan? 

Apa pun jawabannya, ketiga bentuk kebahagiaan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menemukan hidup yang lebih bermakna.

(MG- Mayumi Cinta Mahesi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.