TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN - Jalanan di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (5/7/2026), berubah jadi lautan bunga segar.
Puluhan pikap yang biasa mengangkut bunga hasil pertanian menuju pasar disulap menjadi karya seni, dipenuhi rangkaian bunga segar beragam warna dan bentuk.
Iring-iringan kendaraan hias itu bergerak perlahan dari Hotel Wahid menuju Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bandungan dan finish di Lapangan Desa Jetis.
Mereka pun telah ditunggu warga yang sabar menunggu di tepi jalan untuk menikmati pawai mobil hias ini.
Sesampainya di Lapangan Desa Jetis, satu per satu kontingen bergantian menampilkan pentas seni dan budaya yang mengangkat kearifan lokal daerah masing-masing.
Tarian tradisional, atraksi budaya, hingga iringan musik membuat suasana semakin semarak yang disambut tepuk tangan ribuan pengunjung.
Satu di antara kontengen yang menarik adalah penampilan warga Dusun Karanglo, Desa Kenteng.
Menghabiskan dana sekira Rp25 juta, mereka mengusung kisah Anoman Obong dengan menghadirkan tokoh Dasamuka, ogoh-ogoh, hingga puluhan penari yang mengiringi kendaraan hias.
Seluruh ornamen dipenuhi bunga mawar, gerbera, krisan, dan bunga lainnya yang menjadi hasil budidaya para petani setempat.
Seorang peserta Dusun Karanglo, Reka Yuli mengatakan, persiapan dilakukan selama hampir dua bulan. Mulai dari merancang kendaraan hias, membuat ogoh-ogoh, menyiapkan kostum penari, hingga menyusun rangkaian bunga.
"Habisnya sekitar Rp25 juta, swadaya dari para petani bunga."
"Tahun ini yang terlibat sekitar 70 orang karena jumlah peserta dibatasi. Ada penari, maskot, sampai pembawa ogoh-ogoh," ungkapnya.
Sementara, Warga Dusun Jurang, Desa Kenteng tak pernah benar-benar menghitung berapa lama proses persiapannya.
Saat ada waktu luang, warga mengerjakan sedikit demi sedikit.
Namun, sekitar sepekan menjelang festival, persiapan dilakukan lebih intensif agar seluruh bunga yang digunakan tetap segar.
Peserta dari Dusun Jurang, Edi Sulistyo mengatakan, dusunnya mengusung kisah pewayangan Rama Sinta.
Kontingen mereka menggelontorkan dana sekitar Rp20 juta untuk tampil maksimal dalam festival ini.
Seluruh biaya berasal dari swadaya masyarakat dan para donatur.
"Rasanya capek, tapi begitu lihat hasilnya dan masyarakat senang, lelah itu seperti terbayar dengan rasa puas," tutur Edi.
Kemeriahan Festival Bunga Bandungan juga menarik perhatian Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening.
Di tengah ribuan warga yang memadati sepanjang rute parade, ia melihat festival ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan penggerak ekonomi masyarakat.
Pelaku UMKM mendapat ruang untuk berjualan, sementara sektor pariwisata memperoleh dampak dari meningkatnya kunjungan wisatawan.
"Harapannya, pariwisata terus meningkat, ekonomi masyarakat juga tumbuh karena UMKM bisa berpartisipasi. Ke depan semoga festival ini semakin baik dan manfaatnya semakin besar bagi masyarakat," ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kreativitas warga Bandungan yang mampu menyulap bunga hasil pertanian menjadi karya seni bernilai tinggi.
Melihat antusiasme masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun, Bondan berharap, Festival Bunga Bandungan dapat naik kelas menjadi agenda pariwisata berskala nasional dan mendapat dukungan dari pemerintah pusat.
Sementara, aggota DPRD Jawa Tengah Bagus Suryokusumo menilai, Festival Bunga Bandungan terus menunjukkan perkembangan positif dari tahun ke tahun.
Menurutnya, kreativitas peserta semakin meningkat, jumlah peserta bertambah, dan rangkaian hiburan yang disajikan semakin beragam.
"Bandungan memang harus menjadi tempat wisata yang menjanjikan dan semakin dikenal masyarakat luas," ujarnya.
Ia juga berkomitmen mendorong agar Festival Bunga Bandungan tidak hanya menjadi agenda tahunan Kabupaten Semarang, tetapi dapat ditetapkan sebagai agenda tahunan tingkat Provinsi Jawa Tengah. (*)