Oleh Ahmad Humam Hamid*)
Hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 16–22 April 2026 menghadirkan satu kesimpulan yang, jika dibaca tanpa basa-basi, cukup mengganggu rasa nyaman banyak pembuat kebijakan: mayoritas masyarakat Indonesia tidak merasa ekonominya stabil.
Sekitar setengah responden menyebut kondisi ekonomi rumah tangga mereka “tidak menentu”, sebagian kecil menyebut “bergejolak” hingga “krisis”, dan sisanya relatif stabil.
Ini bukan sekadar soal angka, tetapi soal persepsi yang menyebar luas- bahwa hidup ekonomi hari ini terasa lebih sulit diprediksi daripada yang diakui oleh narasi makroekonomi.
Ada jarak yang mulai menganga antara statistik dan pengalaman hidup. Dan di sinilah pertanyaan penting muncul: jika ini benar secara nasional, sejauh mana ia benar di Aceh?
Untuk menjawabnya, kita perlu sedikit keluar dari kebiasaan membaca ekonomi sebagai grafik yang rapi.
Karena di Aceh, ekonomi tidak pernah benar-benar rapi. Ia lebih mirip sistem yang hidup: dipengaruhi laut, cuaca, pasar tradisional, jaringan keluarga, dan ritme informal yang tidak selalu masuk model ekonometrika.
Di atas kertas, Aceh tidak sedang berada dalam krisis ekonomi terbuka. Tetapi seperti banyak wilayah lain di Indonesia, problem utamanya bukan hanya “berapa besar pendapatan”, melainkan “seberapa bisa pendapatan itu diprediksi”. Dan di sinilah survei Litbang Kompas menjadi relevan- bahkan mungkin terlalu relevan.
Di banyak bagian Aceh, struktur ekonomi masih ditopang oleh sektor informal: nelayan, pedagang kecil, buruh harian, dan usaha mikro keluarga. Ini bukan sekadar statistik ketenagakerjaan; ini adalah struktur risiko.
Pendapatan di sini tidak mengalir seperti gaji bulanan yang stabil, tetapi seperti gelombang: naik, turun, dan sangat bergantung pada faktor eksternal.
Baca juga: Aceh, Otsus Jilid II dan Pembangunan: Kehilangan Harapan vs Apatisme
Cuaca buruk bisa menghentikan pendapatan nelayan. Sepi pembeli bisa memukul pedagang kecil. Harga bahan pokok bisa mengubah seluruh perhitungan rumah tangga dalam hitungan hari.
Jika ini terdengar “tidak stabil”, itu karena memang tidak stabil. Tetapi yang menarik adalah: masyarakat tetap bertahan di dalamnya.
Dan di sinilah perbedaan antara krisis dan ketidakpastian menjadi penting. Banyak rumah tangga di Aceh tidak berada dalam kondisi runtuh, tetapi dalam kondisi fluktuasi permanen.
Mereka tidak jatuh, tetapi juga tidak benar-benar naik dengan aman. Ini adalah zona ekonomi yang sering diabaikan dalam narasi nasional: bukan miskin ekstrem, bukan kelas menengah mapan, tetapi sesuatu di antaranya- rapuh, adaptif, dan terus menyesuaikan diri.
Namun akan keliru jika hanya melihat sisi rentannya. Karena Aceh juga memiliki satu mekanisme yang sering diremehkan oleh analisis ekonomi formal: modal sosial.
Dalam banyak kasus, jaringan keluarga besar dan solidaritas komunitas berfungsi sebagai “sistem keuangan bayangan”.
Ketika satu rumah tangga terguncang, yang lain menopang. Ketika ada kekurangan, distribusi informal segera bekerja.
Ini bukan romantisasi budaya. Ini mekanisme bertahan hidup. Dan ia mengubah cara risiko ekonomi didistribusikan: bukan dihilangkan, tetapi disebarkan.
Tetapi bahkan sistem sosial yang kuat tidak bisa sepenuhnya menahan tekanan yang datang dari sisi lain: biaya hidup.
Inflasi tidak perlu tinggi untuk menjadi problem sosial. Ia hanya perlu terasa. Dan di Aceh, seperti di banyak wilayah lain, yang paling terasa bukan inflasi abstrak, tetapi inflasi kebutuhan dasar: beras, minyak goreng, cabai, ikan, biaya sekolah, transportasi harian.
Ini adalah pengeluaran yang tidak bisa ditunda. Tidak ada substitusi. Tidak ada fleksibilitas besar.
Ketika struktur konsumsi didominasi kebutuhan dasar, sedikit perubahan harga saja langsung menggeser rasa stabilitas.
Maka tidak mengherankan jika persepsi “tidak menentu” menjadi dominan. Ini bukan semata psikologi- ini aritmetika rumah tangga.
Baca juga: Jika Kelas Menengah Kehilangan Harapan: Ujian Terbesar Pemerintahan Prabowo
Jika kita tarik ke level kelas menengah, gambaran menjadi lebih tajam. Di kota seperti Banda Aceh atau Lhokseumawe, kelas menengah memang ada dan berkembang.
Tetapi banyak yang berada di posisi yang bisa disebut “kelas menengah tipis”.
Mereka tidak miskin, tetapi juga tidak memiliki ruang aman yang luas. Satu guncangan- PHK, sakit, kenaikan biaya pendidikan- cukup untuk mengubah posisi ekonomi secara signifikan.
Inilah yang dalam literatur ekonomi sering disebut middle-class squeeze: bukan jatuhnya kelas menengah secara dramatis, tetapi menyempitnya ruang aman mereka secara perlahan.
Gaya hidup tetap berjalan, tetapi dengan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi. Konsumsi lebih diperhitungkan. Tabungan sulit tumbuh. Masa depan terasa lebih mahal daripada masa kini.
Di titik ini, survei Litbang Kompas menemukan relevansinya: ketidakpastian bukan hanya perasaan, tetapi struktur.
Jika ketidakpastian ekonomi itu benar-benar sebuah pengalaman yang hidup, maka ia tidak tinggal di tabel statistik, melainkan di dapur rumah tangga.
Ia muncul ketika seorang petani di Bambel menghitung ulang rencana belanja karena harga pupuk naik di luar dugaan.
Ia terasa ketika pedagang di Beureunuen menatap sepi pasar di hari yang biasanya ramai, sementara stok barang sudah terlanjur diambil dengan sistem hutang.
Ia menjadi nyata ketika nelayan di Labuhan Haji pulang lebih awal karena laut berubah mood, sementara biaya solar dan kebutuhan rumah tidak ikut menunggu cuaca membaik.
Di tiga tempat ini, ketidakpastian bukan konsep- ia adalah kalender harian yang tidak pernah benar-benar bisa disusun sampai akhir bulan.
Bambel, Aceh Tenggara, menjadi motor penggerak ketahanan pangan berbasis agraris daratan.
Wilayah subur pedalaman ini mengandalkan budi daya jagung skala besar dan padi sawah, menjadikannya salah satu lumbung pasokan utama yang menggerakkan roda ekonomi petani harian lokal.
Di sini, ekonomi bergerak mengikuti siklus tanam dan panen- sebuah sistem yang produktif, tetapi tetap rentan terhadap cuaca, harga pupuk, dan fluktuasi pasar komoditas. Stabilitas, dalam konteks ini, selalu bersyarat.
Labuhan Haji, Aceh Selatan, mengandalkan kombinasi sektor perkebunan bernilai tinggi dan potensi maritim.
Komoditas utama seperti pala diolah menjadi biji kering hingga minyak atsiri untuk pasar ekspor, berpadu dengan aktivitas perikanan tangkap di Samudera Hindia serta jasa logistik pelabuhan antar-pulau.
Ekonomi di sini bersifat ganda: di satu sisi terhubung dengan pasar global melalui komoditas ekspor, di sisi lain tetap bergantung pada ritme laut yang tidak bisa dikendalikan.
Ketidakpastian datang dari dua arah sekaligus: harga dunia dan cuaca lokal.
Beureunuen, Pidie tampil sebagai kawasan hilir yang sepenuhnya berbeda karakter.
Berada strategis di jalur lintas Banda Aceh–Medan, wilayah ini tumbuh menjadi kota dagang dan pusat grosir lintas kabupaten.
Perputaran uang digerakkan oleh transaksi tekstil, emas, dan sembako, menjadikannya hub distribusi barang utama yang menopang ekonomi masyarakat sekitarnya.
Ekonominya cepat, cair, dan sangat sensitif terhadap arus mobilitas serta daya beli regional- sebuah ekonomi yang hidup dari perputaran, bukan produksi primer.
Jika tiga wilayah ini dibaca bersama, terlihat bahwa Aceh bukan ekonomi tunggal, melainkan mosaik tiga sistem: agraris daratan, ekonomi komoditas–maritim, dan ekonomi perdagangan hilir.
Namun ketiganya bertemu pada satu titik yang sama: pendapatan yang tidak sepenuhnya bisa dipastikan dari waktu ke waktu.
Baca juga: Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar?
Di titik ini, survei Litbang Kompas menemukan konteks yang lebih tajam. “Tidak menentu” bukan sekadar persepsi psikologis, tetapi cerminan dari struktur ekonomi yang memang bekerja dalam mode fluktuasi.
Dan di sinilah kita mulai melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar Aceh. Ini bukan hanya cerita daerah, tetapi cerita tentang bagaimana ekonomi modern sering kali gagal menangkap pengalaman hidup yang tidak seragam.
Maka, jika ada satu kesimpulan yang tersisa, mungkin bukan bahwa Aceh tidak stabil. Tetapi bahwa stabilitas, seperti yang dipahami dalam buku teks ekonomi, mungkin memang tidak pernah benar-benar dirancang untuk tempat-tempat seperti ini.
Dan di antara Bambel yang menunggu musim, Labuhan Haji yang membaca laut, dan Beureunuen yang hidup dari arus perdagangan, kita tidak sedang melihat anomali.
Kita sedang melihat tiga bentuk adaptasi ekonomi yang berbeda terhadap satu hal yang sama: ketidakpastian yang menjadi normal baru.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan mantan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.