Konflik Ruben Onsu membawa dampak pada Sarwendah. Muncul aksi petisi boikot.
Perseteruan keduanya kini merembet ke dunia komersial yang diduga akan pengaruhi 'kantong' Sarwendah setelah muncul petisi yang mendesak berbagai brand menghentikan kerja sama promosi dengan Sarwendah.
Terdapat tiga petisi yang beredar di platform Change.org, yakni "Cancel Sarwendah dari Media Sosial", "Boikot Sarwendah", serta "Boikot/Cancel Sarwendah untuk Semua Media Sosial dan Televisi".
Dari ketiga petisi tersebut, yang memperoleh dukungan terbesar adalah "Cancel Sarwendah dari Media Sosial".
Pantauan hingga Senin (5/7/2026), sedikitnya petisi yang dibuat akun Netizen Update mulai 29 Juni 2026 itu telah mengumpulkan lebih dari 95 ribu tanda tangan.
Berikut rincianya :
Isi petisi tidak hanya menyerukan boikot terhadap Sarwendah di media sosial, tetapi juga meminta perusahaan dan pelaku usaha mempertimbangkan kembali kerja sama promosi dengan mantan personel Cherrybelle tersebut.
Dalam petisi itu, para penggagas mengajak brand untuk lebih selektif memilih figur publik sebagai wajah promosi.
"Kami, masyarakat yang menandatangani petisi ini, mengajak seluruh brand dan pelaku usaha untuk mempertimbangkan kembali kerja sama promosi maupun penjualan produk melalui siaran langsung (live streaming) bersama artis tersebut."
Mereka juga menilai setiap perusahaan memiliki tanggung jawab menjaga citra serta kepercayaan konsumennya.
"Kami percaya bahwa setiap brand memiliki tanggung jawab untuk menjaga citra, kredibilitas, serta kepercayaan konsumen. Oleh karena itu, kami berharap perusahaan lebih selektif dalam memilih figur publik yang akan dijadikan wajah promosi produknya."
Petisi tersebut bahkan menuntut agar Sarwendah tidak lagi dilibatkan dalam kegiatan pemasaran, khususnya melalui siaran langsung, hingga polemik yang menjadi perhatian publik mendapatkan kejelasan.
Munculnya petisi tersebut tak lepas dari memanasnya konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah pasca-perceraian.
Perselisihan keduanya mencuat setelah kuasa hukum Sarwendah mengungkap adanya persoalan penagihan cicilan mobil yang disebut merupakan aset milik Ruben Onsu. Selain itu, pihak Sarwendah juga menuding Ruben telah menghentikan pemberian nafkah kepada anak-anak selama sekitar enam bulan.
Kuasa hukum Sarwendah, Abraham Simon, menyebut seluruh kebutuhan anak, mulai dari biaya sekolah, les, hingga pengobatan, selama ini ditanggung oleh kliennya.
Menanggapi tudingan tersebut, kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, membenarkan bahwa kliennya memang menghentikan sementara pemberian nafkah. Menurutnya, langkah itu merupakan bentuk protes karena Ruben mengaku kesulitan bertemu dengan anak-anaknya.
Di tengah polemik tersebut, beredar pula sejumlah potongan video siaran langsung Sarwendah yang dianggap menyindir Ruben Onsu. Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan adalah ketika Sarwendah menyebut dirinya tidak membutuhkan nafkah Rp200 juta karena nominal tersebut dapat diperolehnya hanya dari satu kali siaran langsung.
Pernyataan itu memicu gelombang kritik dari warganet hingga akhirnya Sarwendah menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial.
Hingga kini, baik Ruben Onsu maupun Sarwendah masih sama-sama mempertahankan sikap dan belum ada penyelesaian yang diumumkan terkait berbagai persoalan yang menjadi sumber perselisihan mereka.
Mantan manajer Sarwendah, Nanda Persada mengomentari menyebut bahwa hal itu merupakan konsekuensi dari sikap Sarwendah sebagai figur publik.
“Ya itu konsekuensi dari seorang public figure ya,” ujar Nanda Persada ditemui di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (5/7/2026).
Menurut Nanda Persada sudah seharusnya Sarwendah sebagai artis menjaga sikapnya. Hal itu lantaran netizen memiliki kepekaan terhadap apa yang dilihatnya.
“Namanya artis, selebriti, itu harus menjaga attitude-nya, sikapnya, perilakunya karena netizen kita ini sangat sensitif dan peka,” kata Nanda Persada.
Menurutnya sudah konsekuensi bagi Sarwendah menghadapi gelombang boikot. Hal itu dinilai sebagai respons netizen dari perilaku Sarwendah.
“Mereka juga melihat ketika seorang artis atau public figure bersikap tidak etis, melanggar susila dan lain-lain, pasti itu ada sanksi sosial. Gitu, dan itu menjadi konsekuensi,” tutup Nanda Persada.